BANTENRAYA.COM – Kapan Seba Baduy pertama kali dilakukan? Siapa yang pertama melakukan Seba Baduy? Pertanyaan-pertanyaan ini hingga kini masih misteri.
Tidak ada yang mengetahui persis tahun berapa seba pertama dilakukan, meski ada dugaan itu sudah berlangsung sejak masa Kesultanan Banten.
Namun, Ade Jaya Suryani, akademisi UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, memperkirakan asal mula tradisi seba terkait dengan kisah seorang Baduy bernama Wirasuta dari Cibeo.
Dalam buku “Urang Banten: Sejarah, Islam dan Identitas”, Ade menyatakan, asal-usul Seba Baduy ada kaitannya dengan seseorang bernama Wirasuta dari Cibeo (salah satu perkampungan di Baduy Dalam-red) yang merasa bahwa tanah Baduy terlalu sempit.
Wirasuta kemudian berkeinginan mengenal dunia luar selain Baduy.
Baca Juga: Seba Baduy Bukan Ketundukan Masyarakat Baduy pada Penguasa Tap Yuk Disimak Biar Nambah Pengetahuan
“Dengan restu ayahnya, yang memberinya keris Kebo Gandar, Wirasuta pergi ke Kesultanan Banten dan akhirnya bekerja serta diangkat menjadi menantu Sultan Ageng Tirtayasa,” tulis Ade dalam buku tersebut dikutip Bantenraya.com, Jumat, 30 Mei 2025.
Wirasuta belakangan kemudian dikenal dengan nama Pangeran Astapati.
Wirasuta juga berpartisipasi dalam menumpas pemberontakan di Lampung pada tahun 1663, di mana dia terluka parah dan akhirnya meninggal dunia.
“Wirasuta kemudian dikenal sebagai leuluhur bangsawan lokal, termasuk Achmad Djajadiningrat (1877-1943) dan Hoesein Djajadiningrat (1886-1960). Dalam autobiografinya, ‘Memoar Pangeran Achmad Djajadiningrat’, Achmad mengklaim sebagai keturnan langsung dari Wirasuta,” tulis Ade.
Cerita tentang Wirasuta juga disampaikan oleh Kokom, seorang Baduy Kristen, yang menerima cerita tersebut dari Jaro Samin.
Menurut Kokom, Wirasuta yang dikenal di Baduy sebagai Budak Buncireung adalah seorang anak cerdas yang merasa tanah Baduy terlalu sempit dan ingin menjelajahi dunia luar.
Baca Juga: GRATIS! Link Sreaming Vindes Bahkan Voli 2, Pertandingan Voli Seru The Musician vs D’Komika
Setelah mendapat izin dari ayahnya, Wirasuta kemudian pergi ke Kesultanan Banten, tetapi ketika ingin kembali ke tanah Baduy, dia tidak diizinkan karena telah mengikuti adat Islam.
“Kokom juga menambahkan bahwa Budak Buncireung sering disebut dalam doa oleh para pemimpin adat,” tulis Ade lagi.
Selain itu, Achmad Djajadiningrat juga mengungkapkan bahwa sebagai keturunan Wirasuta, dia sering dikunjungi oleh utusan Baduy setelah acara Kawalu, yang membawa cenderamata seperti perkakas dapur dari bambu, laksa, dan barang-barang lain yang dibungkus dalam daun hanjuang. (***)



















