BANTENRAYA. COM – Bangunan rumah peninggalan Eduard Douwes Dekker atau lebih dikenal dengan Multatuli, kini dibiarkan rusak dan terkesan terbengkalai.
Sedianya bangunan bersejarah ini akan direnovasi tahun ini namun anggaran yang dialokasikan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Lebak direfocusuing untuk penanggulangan korona atau Covid-19.
Rumah Multatuli penulis buku Max Havelaar asal Belanda ini berdiri di tengah-tengah lingkungan Rumah Sakit Adjidarmo Rangkasbitung.
Baca Juga: Setelah Objek Wisata Ditutup, Kini Giliran CFD di Kabupaten Lebak Ditiadakan
Sebagian bangunan yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya tersebut terkesan tidak terawatt karena beberapa bagiannya seperti material atap dan samping rumah tersebut kini mulai rapuh.
Berdasarkan pantauan BantenRaya.com, pada Minggu 10 Oktober 2021, cat di bagian dinding bangunan yang memang sudah tak utuh lagi tampak sudah using dan hingga kini tidak diperbaharui.
Oji Santani mantan anggota DPRD Lebak yang mengaku beberapa kali melihat sisa bangunan rumah Multatuli tampak terbengkalai.
Baca Juga: Cuaca Tak Bersahabat, Final Paralayang PON XX Papua Ditunda
Ia menyangkan bila kondisi bangunan peninggalan sejarah tersebut tidak dirawat secara maksimal.
Padahal, bangunan rumah Multaluti yang masih tersisa merupakan peninggalan sejarah yang hingga kini masih sangat menarik dikunjungi wisatawan khususnya mereka yang berasal dari Belanda.
“Saya lihat bagian atapnya sudah rapuh. Begitu pula cat diseputar dindingnya sudah mulai usang. Namun sayang, hingga kondisi sisa bangunan rumah Multatuli tersebut, dibiarkan begitu saja,”ujar Oji.
Baca Juga: Lebak Masuk PPKM Level 3, Kunjungan ke Kawasan Adat Baduy Turut Ditutup
Mengingat sisa bangunan rumah Multatuli tersebut merupakan salah satu peninggalan sejarah yang paling dikenal di Lebak, maka pihaknya berharap agar Pemkab segara melakukan pemeliharannya.
“Bila terlalu lama dibiarkan tak dirawat, saya khawatir sisa bangunan rumah Multatuli hancur,” kata Oji.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Lebak, Imam Rismahayadi mengatakan, di APBD 2020 alokasi dana untuk penanganan bangunan rumah Multatuli sudah dianggarkan melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang.
“Namun akibat munculnya pandemi korona, maka dana tersebut direcofusing untuk penanganan covid-19,” jelasnya.
“Kami sudah usulkan lagi untuk restorasi bangunan Multatuli. Karena bila pemeliharaan saja, hasilnya dipastikan kurang maksimal. Semoga 2022 kami bisa restorasi sisa bangunan Multatuli tersebut,” pungkasnya.***



















