BANTENRAYA.COM – 20 tahun silam tepatnya 11 September 2001, aksi terorisme mengguncang Amerika Serikat (AS). Sasaran aksi teror ini adalah dua menara kembar simbol kebesaran AS, World Trade Center (WTC) di Manhattan, New York City.
Peristiwa 11 September itu tidak saja mengguncang AS namun umat manusa di dunia. Apalagi aksi teror itu menggunakan empat pesawat komersial AS. Teroris melakukan bunuh diri dengan menabrakan pesawat ke bagian atas WTC.
Dalam kejadian di atas, ada 19 militan yang terkait dengan kelompok ekstremis Islam Al Qaeda yang dinyatakan terlibat dalam aksi teror yang menewaskan hampir 3.000 orang. Dari kejadian ini pula warga dunia terutama AS terpicu untuk memerangi terorisme.
Baca Juga: Ingat, 8 September Hari Aksara Internasional, Kemenristekdikti Gelar Webinar Literasi Digital
Dibawah kepemimpinan Presiden George W. Bush, AS mengejar Al-Qaeda pimpinan buronan Arab Saudi, Osama bin Laden yang diduga bertindak sebagai pembalasan atas dukungan Amerika terhadap Israel, keterlibatan dalam Perang Teluk Persia, dan kehadiran militer AS yang berkelanjutan di Timur Tengah.
Amerika Serikat pun langsung menginvasi Afghanistan dan menggulingkan Taliban karena menolak menyerahkan para pemimpin Al-Qaeda setelah serangan 11 September 2001.Pada 11 September 2001, Janice Brooks baru saja tiba di ruang kerja di lantai 84 Menara Selatan World Trade Center (WTC) ketika dia mendengar ledakan dahsyat.
Janice Brooks adalah seorang penyintas tragedi 9/11 serangan teroris di menara kembar WTC pada 11 September 2001.
Wanita berusia 61 tahun asal London, Inggris itu baru saja pindah ke New York beberapa minggu sebelum tragedi.
Baca Juga: Melihat Kembali Megahnya Banten Internasional Studium yang Dibangun dengan Dana Nyaris Rp 1 Triliun
Ketika kejadian, dia sempat mendengar kebisingan yang kemudian diyakinkan oleh rekannya bahwa itu berasal dari pekerjaan konstruksi dan tak perlu ada yang dikhawatirkan.
Janice Brooks lalu kembali ke mejanya dan terus bekerja. Dia tidak menyadari bahwa pesawat American Airlanes yang dibajak teroris Al Qaeda telah menabrak Menara Utara WTC.
Ketika itu, Brooks sedang berjalan menuruni tangga Menara Selatan setinggi 1.362 kaki saat pesawat kedua menabrak WTC – gedung tempat dia bekerja.
“Saya terhempas ke dinding, meski tidak sampai jatuh, saya benar-benar terhempas,” kata Brooks dalam Podcast Sky News seperti diberikan Pikiran-Rakyat.com.
“Kemudian saya mendengar suara jeritan yang begitu jelas, seorang wanita terdengar berteriak histeris. Itu adalah jerita yang masih saya dengar di kepala saya… dia berjalan melewati pintu dan matanya penuh darah,” sambungnya.
Baca Juga: Pelita Bikin Kajian Internasional
Saat bola api menelan bagian atas WTC, Brooks dan rekan-rekannya mengambil risiko agar bisa turun ke lantai bawah agar bisa keluar dari gedung yang telah dihantam pesawat.
Dia dan rekan-rekannya keluar dan melihat kehancuran di hadapannya. Orang-orang berhaburan menjauhi gedung WTC untuk menyelamatkan diri.
“Ketika saya sampai di luar gedung, saya bisa mendengar suara dentuman ini. Saya kemudian menemukan bahwa itu adalah suara orang yang melompat dari gedung dan terbentur ke tanah,” ucapnya.
Janice Brooks adalah salah satu dari ratusan orang yang selamat hari itu, tetapi 61 rekannya termasuk hampir 3.000 orang berakhir tragis.***

















