BANTENRAYA.COM -Sekitar 1.000 hingga 2.000 jemaah umrah asal Banten dilaporkan masih tertahan di Arab Saudi menyusul pembatalan sejumlah penerbangan internasional dampak konflik di Timur Tengah.
Ketua Umum DPP Asosiasi Kebersamaan Pengusaha Travel Haji dan Umrah (BERSATHU) Wawan Suhada mengatakan, ribuan jemaah tersebut belum dapat dipulangkan karena maskapai yang mereka gunakan melakukan pembatalan penerbangan (cancel flight).
“Estimasi jemaah umrah Banten yang saat ini ada di Arab Saudi sekitar 1.000 sampai 2.000 orang. Mereka terdampak cancel flight dan masih menunggu jadwal kepulangan,” ujar Wawan, Selasa (3/3/2026).
BACA JUGA: Bazar Ramadan Cilegon Sasar Warga Pulomerak, Minyak dan Beras Dijual di Bawah HET
Menurutnya, gangguan penerbangan terjadi karena sejumlah maskapai menghindari wilayah udara yang terdampak konflik, seperti Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, dan Kuwait.
Maskapai yang membatalkan penerbangan antara lain Etihad Airways, Emirates, dan Qatar Airways. Akibatnya, para jemaah yang semula dijadwalkan pulang ke Tanah Air harus menunggu kepastian jadwal baru dari maskapai.
“Banyak jemaah yang saat ini ditampung di Jeddah sambil menunggu jadwal kepulangan yang ditetapkan maskapai. Biaya hotel dan konsumsi selama menunggu sepenuhnya ditanggung oleh maskapai,” katanya.
Wawan menjelaskan, maskapai yang melakukan cancel flight bertanggung jawab mengalihkan tiket kepulangan ke maskapai lain yang masih beroperasi normal, seperti Saudia, Garuda Indonesia, Lion Air, maupun Oman Air.
Meskipun dia mengakui tidak semua maskapai memberikan konpensasi seperti itu, namun sebagian besar masih bersikap baik kepada para jemaah.
“Ini merupakan tanggung jawab maskapai. Memang tidak semua penanganannya sama, tapi secara umum maskapai bertanggung jawab memulangkan jemaah,” tegas Wawan.
Secara nasional, diperkirakan lebih dari 50.000 jemaah umrah Indonesia saat ini masih berada di Arab Saudi.
BERSATHU masih melakukan pendataan untuk memastikan jumlah jemaah yang terdampak langsung pembatalan penerbangan.
“Kita masih mitigasi dan pendataan ulang. Situasinya dinamis dan sangat bergantung pada perkembangan kebijakan dari pemerintah Arab Saudi,” ujarnya.
Sementara itu, mengutip situs Kementerian Haji dan Umrah RI, berdasarkan data Sistem Komputerisasi Pengelolaan Umrah dan Haji Khusus (SISKOPATUH) ada 58.873 jemaah umrah Indonesia masih berada di Arab Saudi.
Pemerintah memastikan seluruh jemaah dalam pemantauan melalui koordinasi erat dengan perwakilan RI dan otoritas setempat.
Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Haji dan Umrah RI Puji Raharjo menegaskan bahwa pemerintah terus mencermati perkembangan situasi secara menyeluruh.
“Kami mengimbau kepada seluruh jemaah umrah agar tidak panik. Tetap tenang dan terus berkoordinasi dengan Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) masing-masing untuk memperoleh informasi resmi dan terkini,” ujar Puji Raharjo.
Dia menambahkan, seluruh PPIU diminta menjaga komunikasi intensif dengan Kantor Urusan Haji (KUH), KJRI Jeddah, serta KBRI Riyadh agar setiap perkembangan dapat segera ditindaklanjuti.
Kementerian juga mengimbau keluarga jemaah di Indonesia agar tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi. ***

















