BANTENRAYA.COM – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Serang mengimbau masyarakat untuk mewaspadi virus Nipah yang sangat berbahaya dan berpotensi muncul khususnya saat musim hujan. Imbauan itu disampaikan setelah adanya arahan dari kementerian Kesehatan (Kemenkes),
Kepala Dinas Kesehatan Serang Efrizal mengatakan, virus Nipah ditemukan pertama kali di Kampung Sungai Nipah di Malaysia yang disebabkan dari liur hewan yang menular ke manusi.
“Virus Nipah dapat menyebabkan kematian. Untuk tingkat kematiannya mencapai 40 sampai 75 persen,” ujarnya, Senin 9 Februari 2026.
Ia menjelaskan, satu pekan yang lalu Kemenkes melalui zoom meeting meminta seluruh Dinas Kesehatan untuk melakukan sosialisasi tentang kewaspadaan virus Nipah tersebut.
“Kami juga melakukan hal yang sama untuk teman-teman puskesmas, rumah sakit, dan klinik serta semua instansi terkait,” katanya.
Ada beberapa hal yang harus diketahui masyarakat kata Efrizal, apabila terjadi gejala adanya serangan virus Nipah pada tubuh manusia.
BACA JUGA : Antisipasi Virus Nipah, Banten Tingkatkan Kewaspadaan di Soekarno-Hatta dan Merak
“Gejalanya akan muncul dalam 4 sampai 14 hari setelah terpapar, gejala awal itu demam, sakit kepala parah, nyeri otot, batuk, dan sakit tenggorokan. Gejala beratnya sesak napas akut, kejang, hingga penurunan kesadaran,” jelasnya.
Gejala tersebut akan semakin parah ketika radang otak memburuk sehingga dengan cepat, dalam waktu 24 sampai 48 jam seringkali berakibat fatal.
“Oleh karena itu, harus ada langkah pencegahan mandiri karena belum ada vaksin atau obat spesifik untuk virus Nipah. Contohnya cuci buah dengan bersih dan hindari buah yang terlihat memiliki bekas gigitan hewan,” paparnya.
Pihaknya juga mengimbau masyarakat untuk tidak mengonsumsi jus kurma dan meminum air nira mentah yang mungkin telah terkontaminasi kelelawar.
“Rajin mencuci tangan dengan sabun setelah beraktivitas di area yang berisiko atau setelah menyentuh hewan. Kemudian gunakan APD (alat pelindung diri) bagi peternak atau mereka yang berinteraksi dengan hewan liar,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Serang Istianah Hariyanti menjelaskan, walaupun belum ada penemuan kasus namun di Kabupaten Serang berpotensi karena ada populasi kelelawar.
BACA JUGA : Dinkes Kota Serang Klaim Virus Nipah Tak Masuk Ibukota Provinsi Banten
“Potensinya ada, namun Indonesia pernah melakukan survei dan pembawa virus utamanya itu kelelawar yang bisa menular ke babi setelah memakan buah bekas gigitan kelelawar,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, buah-buahan yang terdapat bekas gigitan hewan bisa menularkan virus Nipah apabila buah tersebut dimakan oleh manusia.
“Virusnya bisa dari cairan tubuhnya seperti air liur, darah dan urinnya, jadi bahayanya itu ada dua gejala utama yang mengakibatkan kematian,” katanya. (***)















