BANTENRAYA.COM – Desa Pamengkang, Kecamatan Kramatwatu memiliki potensi sumber daya alam yang mampu mendongkrak perekonomian di tengah-tengah masyarakat yakni telur asin.
Salah satu usaha yang digeluti oleh warga Desa Pamengkang adalah produk telur asin yang bertahan selama puluhan tahun.
Bendahara Desa Pamengkang Saprani mengatakan, produksi telur asin itu merupakan salah satu usaha yang terus dipertahankan oleh beberapa warga Desa Pamengkang.
“Salah satu potensi di desa Pamengkang adalah budidaya telur asin. Hampir setiap kampung di Desa Pamengkang ada yang produksi telur asinnya,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis 29 Januari 2026.
Ia menjelaskan, pemerintah Desa juga sering memberikan pelatihan produksi dan pemasaran telur asin sebagai pemberdayaan bagi pelaku usaha untuk mendukung geliat perekonomian bagi masyarakat desa.
“Pelatihan juga dilakukan supaya usaha mereka itu terus berkembang. Tapi kalau mereka hanya mengikuti pelatihan doang tanpa melakukan praktek maka usahanya tidak akan berkembang,” katanya.
BACA JUGA : Kisah Klaster Usaha Telur Asin Abinisa, Omzet Usaha Semakin Meningkat Berkat Pemberdayaan BRI
Selain masyarakat, pihaknya juga konsen terhadap pengembangan usaha bebek petelur dan bebek entok yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
“Yang dikelola oleh kita ada sekitar 1.000 ekor bebek, 500 bebek petelur dan 500 bebek entok. Tapi itu belum ada yang menghasilkan karena kita peliharanya belum lama,” jelasnya.
Terpisah salah satu prodesen telur asin di Desa Pamengkang Saiyah mengatakan, sudah puluhan tahun ia menggeluti usahanya tersebut bahkan masih konsisten menjualnya ke beberapa pasar.
“Sudah lebih dari 20 tahun dan pemasarannya masih di kawasan wisata religi Banten dan Pasar Kranggot di Kota Cilegon. Sekali produksi bisa 3.000 sampai 6.0000 telur,” ujarnya.
Ia menjelaskan, biasanya telur asin yang sudah matang dijual dengan harga Rp.3000, sedangkan bahan baku telurnya di harga Rp.2000 dengan memakan waktu produksi selama satu pekan.
“Kalau untuk rasa asinnya yang pas itu seminggu, semakin lama disimpan maka semakin tinggi kadar asinnya. Selama ini kita belum bisa masuk ke Makan Bergizi Gratis karena harganya yang lebih tinggi dari telur biasa,” katanya. (***)

















