BANTENRAYA.COM – Bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Banten sejak akhir 2025 berdampak langsung pada sektor pertanian.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten mencatat, ratusan hektare lahan persawahan mengalami puso atau gagal panen akibat terendam banjir yang dipicu tingginya curah hujan.
Hal itu sebagaimana dikatakan oleh Kepala Dinas Pertanian (Distan) Provinsi Banten, Agus M Tauchid, yang mengungkapkan jika hingga 2 Januari 2026, pihaknya mencatat sebanyak 2.093 hektare lahan persawahan di empat kabupaten dan satu kota terendam banjir.
BACA JUGA: Longsor di Padarincang Masih Mengancam, Warga Dilarang Masuk Kampung Cibodas
Beberapa wilayah terdampak meliputi Kabupaten Pandeglang, Lebak, Serang, Tangerang, serta Kota Serang.
“Banjir yang terjadi di akhir tahun 2025 melanda 29 kecamatan dan 79 desa di lima wilayah Kabupaten/Kota,” kata Agus, Selasa, (6/1/2026).
Agus menjelaskan, meski sebagian genangan air mulai surut, akan tetapi dampak kerusakan pada lahan pertanian tidak dapat dihindari.
Dari total lahan yang terendam, sekitar 444 hektare dilaporkan sudah mulai kering, namun sebanyak 178,5 hektare dinyatakan mengalami puso atau gagal panen total.
Ia menyebut, intensitas hujan yang sangat tinggi menjadi faktor utama terjadinya banjir.
Kondisi tersebut menyebabkan sungai meluap dan aliran air tersumbat di sejumlah titik, sehingga merendam area persawahan dalam waktu cukup lama.
“Penyebab utama adalah intensitas hujan yang sangat tinggi selama beberapa hari, yang mengakibatkan sungai meluap dan aliran air tersumbat,” ungkapnya.
Lebih lanjut, berdasarkan data dari Distan Provinsi Banten, Kabupaten Pandeglang menjadi wilayah dengan lahan terendam terluas, yakni mencapai 880 hektare, dengan luas puso sebesar 21 hektare.
Kabupaten Serang mencatat angka gagal panen tertinggi, yaitu 101 hektare dari total 760 hektare lahan yang terdampak.
Sementara itu, Kabupaten Lebak mengalami banjir di lahan seluas 133 hektare dengan 50 hektare di antaranya mengalami puso.
Kabupaten Tangerang tercatat memiliki lahan terdampak seluas 124,5 hektare dengan puso 6,5 hektare.
Adapun Kota Serang mengalami genangan di lahan seluas 195,5 hektare, namun tidak ada lahan yang dilaporkan gagal panen.
“Jadi untuk yang paling tinggi alami puso ada di wilayah Kabupaten Serang,” tutur Agus.
Agus mengakui, angka puso pada awal 2026 ini cenderung lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya karena cakupan banjir yang lebih luas.
Meski demikian, ia menilai dampak banjir terhadap sektor pertanian di Banten masih relatif moderat jika dibandingkan dengan kondisi di sejumlah provinsi lain secara nasional.
“Memang tahun ini lebih tinggi, tapi kalau secara nasional akibat hujan lebat ini, kita masih paling moderat,” ujarnya.
Sebagai langkah penanganan pascabanjir, Agus mengatakan jika pihaknya telah menyiapkan bantuan bagi petani terdampak.
Saat ini, kata Agus, tersedia cadangan benih daerah (CPD) sebanyak lima ton yang siap disalurkan ke wilayah terdampak sesuai kebutuhan di lapangan.
“Sesuai arahan Gubernur, kami akan menyalurkan bantuan benih, dan jika kebutuhan di lapangan melampaui stok yang ada, kami akan segera berkoordinasi dengan pemerintah pusat,” jelasnya. ***

















