BANTENRAYA.COM – Sebanyak 7.021 jiwa yang terdampak banjir di Kota Cilegon, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cilegon tak dapat memastikan banjir ini akibat dari tambang dan industri di Cilegon.
Diketahui sejak Jumat 2 Januari 2026 telah terjadi bencana banjir di beberapa wilayah Kota Cilegon, bahkan sampai Minggu 4 Januari 2026 masih terdapat wilayah yang terjadi banjir.
Terjadinya bencana banjir dikarenakan curah hujan dengan intensitas tinggi dengan waktu yang cukup lama mengguyur Kota Cilegon tak henti.
Pasca tiga hari terjadinya banjir, Pemerintah Kota Cilegon melalui intansti terkait lainnya telah melakukan upaya yaitu mengevakuasi korban terdampak, membuka layanan dapur umum, layanan kesehatan, hingga tempat pengungsian.
Berdasarkan data yang dihimpun Banten Raya, warga yang terdampak banjir di Kota Cilegon dari mulai Jumat 2 Januari sampai Minggu 4 Januari 2026 terdapat sebanyak 7.021 jiwa yang terdampak.
Kecamatan Ciwandan di Kelurahan Tegal Ratu 270 jiwa terdampak, dan Kelurahan Kepuh 450 jiwa terdampak.
Kecamatan Citangkil di Kelurahan Citangkil 180 jiwa terdampak, dan Kelurahan Samangraya 100 terdampak.
Kecamatan Cilegon hanya di Kelurahan Ciwaduk 60 jiwa terdampak.
BACA JUGA : Sebelum Banjir Melanda Kota Cilegon, Robinsar Akui Telah Diingatkan BMKG
Kecamatan Cibeber di Kelurahan Kedaleman Lingkungan Karang Tengah 590 jiwa terdampak, dan Lingkungan Gedong Damai 60 jiwa terdampak.
Masih di Kecamatan Cibeber juga di Kelurahan Bulakan 50 jiwa terdampak, Kelurahan Cibeber 1.364 jiwa terdampak, Kelurahan Kalitimbang 374 jiwa terdampak, Kelurahan Karang Asem 333 jiwa, Kelurahan Kedaleman 2.480 jiwa terdampak.
Kecamatan Jombang di Kelurahan Sukmajaya 350 jiwa terdampak, Kelurahan Masigit 200 jiwa terdampak, dan Kelurahan Panggungrawi 70 jiwa terdampak.
Kecamatan Purwakarta di Kelurahan Ramanuju 70 jiwa terdampak, dan Kelurahan Kebondalem 20 jiwa terdampak.
Kepala BPBD Kota Cilegon Suhendi mengatakan, sampai saat ini Minggu 4 Januari 2026 yang masih terendam banjir hanya di Lingkungan Karang Tengah, Kecamatan Cibeber.
“Wilayah yang lain banjirnya sudah surut, sekarang yang belum surut hanya di Lingkungan Karang Tengah karena hujan deras,” katanya kepada Banten Raya, Minggu 4 Januari 2026.
Ia mengungkapkan, terdapat 3 wilayah yang paling parah dalam mengalami bencana banjir awal tahun 2026 ini.
“Ada 3 wilayah yang masuk banjirnya cukup parah ada di Kecamatan Ciwandan, Kecamatan Cibeber, dan Kecamatan Jombang,” ungkapnya.
BACA JUGA : Dindikbud Kota Cilegon Izinkan Pembelajaran Daring, Buntut Adanya Sekolah Terendam Banjir
Pihaknya selama 24 jam standby personel dan alat siaga bencana banjir terutama menyediakan 3 perahu karet untuk membantu warga dalam proses evakuasi.
Tak hanya rumah warga saja yang terdampak banjir, tetapi industri di Kota Cilegon juga mengalami dampaknya.
“Kalau industri yang terkena banjir mayoritas di Kecamatan Ciwandan, masih proses pendataan,” ujarnya.
Meskipun sudah 6 kecamatan di Kota Cilegon terkena dampak banjir sejak Jumat 2 Januari sampai Minggu 4 Januari 2026, Pemkot Cilegon belum juga menetapkan sebagai status darurat banjir.
“Samali sekarang belum ditetapkan jadi darurat bencana, karena luas terdampaknya juga masih seluruh Cilegon dan cepat surut juga dan cepat kita tangani,” jelasnya.
Mengenai viralnya banjir di Kota Cilegon karena dampak dari adanya penambangan dan industri, Suhendi enggan mejawab lebih detal.
“Kalau itu (tambang) perlu dikaji, harus dilihat secara betul atau tidak dari tambang dan industri, karena sumber air itu bisa dari mana saja,” terangnya.
Bahkan, menurutnya, banjir di Kota Cilegon belum tentu dari penambangan dan industri saja.
“Ya belum tentu dari tambang dan industru, harus dikaji dulu,” ucapnya.
Jika mengenai pertambangan, yang memberikan perizinannya langsung dari Pemerintah Provinsi Banten.
“Kalau tambang itu kan urusannya dengan perizinan, dan izinnya itu dari Pemprov Banten. Mungkin nanti dari Pemkot Cilegon akan segera berkoordinasi juga,” tandasnya. (***)















