BANTENRAYA.COM – Sektor industri pariwisata harus menghadapi tantangan yang berat di awal tahun 2025, akibat kebijakan pemangkasan anggaran dan tekanan daya beli masyarakat yang lemah.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi Banten Ashok Kumar mengatakan, industri perhotelan mulai melakukan diversifikasi terhadap kegiatan yang awalnya fokus terhadap segmen pemerintah kini mulai menyasar peluang bisnis lainnya.
“Kita sudah komunikasi dengan pemerintah, membuat atraksi yang lebih baik, sama halnya dengan mitigasi bencana yang kita lakukan dalam perspektif pemangkasan anggaran juga serupa,” kata Ashok saat dikonfirmasi Bantenraya.com, Rabu 26 Maret 2025.
Baca Juga: 15 Ide Username FF Free Fire dengan Unsur Banten, Buat Akunmu Makin Keren
Berdasarkan hasil survei dari PHRI dan Horwat HTL pada bulan Maret 2025, dari 726 responden di 30 provinsi, sebanyak 88 persen akan menghadapi kondisi sulit seperti PHK, atau pengurangan upah karyawan guna menekan beban operasional.
Meski demikian, Ashok menilai hal ini perlu dilakukan upaya konkret misalnya dengan mengagas pariwisata dengan mengusung tema Iman dan Taqwa, bukan lagi Banten Exciting.
“Kalau Covid-19 kan kita masih bertahan, dan sekarang kan enggak ada krisis. Dengan adanya gagasan tersebut diharapkan investasi hotel syariah bisa tumbuh di Banten,” imbuhnya.
Baca Juga: Andra Targetkan Pembangunan Sekolah Filial, Dimulai Tahun ini
Selain itu, pihaknya juga berharap seiring dengan berjalannya waktu pemerintah mulai memberikan relaksasi serta membuka slot anggaran supaya kegiatan pertemuan dan event bisa kembali dilaksanakan di hotel.
“Tidak harus terburu-buru, semoga kebijakan ini tidak berlangsung lama. Dengan adanya pemangkasan kita buat trobosan baru tidak boleh kalah juga, dan berdiam diri tidak berbuat apapun,” jelas Ashok.
Ashok juga menghimbau kepada para pelaku industri pariwisata supaya tidak khawatir dengan kondisi ini. Upaya terkecil yang bisa dilakukan antara lain dengan melakukan efisiensi penggunaan listrik. Namun, akan berdampak terhadap PAD yang berkurang.
Baca Juga: Untirta Gelar Simulasi UTBK-SNBT 2025, Memastikan Tidak Ada Kendala Teknis
“Hanya saja dampaknya nanti pendapatan daerah berkurang, yang tadinya pedagang daging dan sayur terserap hotel jadi turun. yang jadi multiplayer efek, ke nelayan ini ikan ayam telur ini kan jadi kurang,” cakapnya.
Pihaknya juga memberikan keleluasaan bagi hotel yang bersedia untuk menjadi mitra pemerintah dalam program unggulan makan bergizi gratis, seperti yang sudah dilakukan oleh Aston Banten.
“Ini sah saja, selama tidak merusak pasar siapapun, walaupun income tidak terlalu besar namun sesuatu itu lebih baik daripada tidak ada sama sekali, hal ini diserahkan kepada hotel masing-masing,” kata Ashok.***















