BANTENRAYA.COM – Kementerian Agama atau Kemenag Kabupaten Lebak mengungkap sejumlah madrasah di Kabupaten Lebak yang kerap memanipulasi data EMIS atau Education Management Information System.
EMIS sendiri merupakan sistem pendataan pendidikan yang dikelola oleh Kemenag yang berisi data madrasah mulai dari siswa, kepegawaian, bangunan dan sebagainya yang diinput oleh pihak madrasah itu sendiri.
Kasi Pendidikan Madrasah Kemenag Kabupaten Lebak Slamet mengungkapkan, manipulasi data yang dilakukan oleh madrasah demi akreditasi, justru akibat manipulasi data tersebut madrasah yang seharusnya layak mendapatkan bantuan malah tidak tersentuh bantuan.
Alhasil, masih sangat banyak madrasah di Kabupaten Lebak dalam kondisi tidak layak.
Baca Juga: Dinkes Kabupaten Pandeglang Instruksikan Puskesmas Beri Pelayanan Gratis untuk Korban Banjir
“Kadang madrasah tidak jujur, pasahal butuh (bantuan). Tapi di EMIS-nya itu tidak sesuai (diperbagus) untuk akreditasi dan sebagainya. Mereka di EMIS mengisi kondisinya itu baik-baik semua, seperti fasilitas atau gedung. Padahal tidak punya,” kata Slamet kepada Banten Raya Rabu, 4 Desember 2024.
Berdasarkan data yang dihimpun Banten Raya dari Kemenag Kabupaten Lebak, ada sekitar 805 madrasah dari semua jenjang yang tersebar dan 10 diantaranya merupakan madrasah negeri.
Namun, kata Slamet, hampir separuh dari total madrasah yang ada di Lebak dalam kondisi yang tidak layak.
“Ada sekitar 800-an madrasah di Kabupaten Lebak dan 10 diantaranya merupakan madrasah negeri. Tapi, sekitar 40 persennya madrasah itu sebetulnya tidak layak,” ungkapnya.
Baca Juga: PT AHM Bina 20 Disabilitas Untuk Jadi Pebisnis Benang Wol
Slamet juga turut mempertanyakan pihak-pihak yang membangun yayasan pendidikan agama tanpa persiapan.
Ia bahkan menceritakan, dirinya pernah melihat salah satu madrasah di Kecamatan Muncang dengan para siswa yang hanya belajar pada sebuah tenda.
“Kadang orang-orang kalau bikin yayasan atau madrasah ya niatnya seperti gitu awalnya. Kok tanpa persiapan, murid-murid belajar seperti. Jangan sampai hanya ingin dapat bantuannya saja kan,” tuturnya.
Ke depan, Slamet menjelaskan pihaknya memiliki rencana lain agar madrasah-madrasah di Kabupaten Lebak yang tidak layak bisa mendapatkan.
Dalam hal ini, ia ingin para siswa madrasah menyisihkan uang jajannya dan ditampung pada sebuah rekening terbuka yang dikelola oleh Kemenag.
Menurutnya, hal tersebut akan efektif, mengingat Kemenag Kabupaten Lebak tidak memiliki anggaran untuk memberikan bantuan.
“Kita punya rencana, madrasah di Lebak itu ada program yang menampung uang jajan siswa. Ditampung di rekening terbuka. Jadi kalau ada yg butuh bantuan tidak perlu nyari kemana-mana. Jadi dari situ, walaupun sifatnya ya bantuan simultan. Kemarin sudah saya sampaikan ke Kepala Kemenag,” tandasnya.***














