BANTENRAYA.COM – Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Banten mulai memanen padi varietas biosalin yang ditanam di Kecamatan Tanara, Kabupaten Serang.
Padi varietas biosalin diujicobakan pada lahan seluas 20 hektare.
Diketahui, padi varietas biosalin merupakan padi yang dikembangbiakkan karena dianggap mampu bertahan di air payau. Jenis padi ini cocok untuk lahan di daerah dekat pantai yang airnya payau.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Banten Agus M Tauchid mengatakan, saat ini dari luas lahan seluruhnya yang mencapai 20 hektare yang ditanami padi biosalin 5 hektare di antaranya sudah memasuki masa panen.
Baca Juga: Penumpang Kereta Api Tujuan Merak Dioper ke Angkot di Stasiun Cilegon, Bikin Pemudik Kerepotan
Dia mengaku bersyukur padi biosalin yang diujicobakan berhasil tumbuh bahkan bisa dipanen.
“Varietas padi biosalin ini merupakan angin segar bagi mereka, terutama para petani yang berada dekat pesisir pantai, yang mayoritas airnya payau,” ujarnya.
Agus mengungkapkan, di wilayah pesisir dari mulai Teluk Naga, Tangerang, sampai dengan Kota Cilegon hingga Pandeglang diperkirakan ada sekitar 20.000 hektare sawah yang hanya bisa panen satu kali dalam setahun.
Dengan adanya varietas biosalin, maka di wilayah itu panen bisa dilakukan dalam 2-3 kali dalam setahun.
Baca Juga: Butuh Bantuan, Rafli Fikar Oktadi Warga Kota Serang yang Menderita Lumpuh Sejak Kecil
“Dengan biosalin ini kita membantu para petani di Banten utara dan selatan agar bisa panen 2-3 kali dalam setahun, sehingga kesejahteraan mereka juga terbantu,” ujarnya.
Agus menyatakan, satu hektare lahan yang ditanami padi varietas biosalin diperkirakan dapat menghasilkan Gabah Kering Giling (GKG) minimal 6-7,16 ton.
Jika 20.000 hektare lahan di wilayah pesisir itu ditanami padi biosalin, maka diperkirakan akan ada sekitar 120.000 ton gabah atau setara 70.000 ton beras.
“Kalau dalam setahun kita bisa panen 3 kali, berarti produksi padi tambahan kita bisa mencapai 360.000 ton. Jika dikonversi ke Rupiah, tentu ini sangat besar dan bisa meningkatkan kesejahteraan petani,” katanya.
Baca Juga: ASN Pemkot Serang Larang Keras ASN Tambah Cuti Hari Raya Idul Fitri 1445 Hijriah
Agus mengatakan, padi varietas biosalin yang dipanen perdana ini akan dijadikan bibit untuk dikembangbiakkan bibitnya. Dia berharap dengan cara ini maka bibit padi biosalin bisa diperbanyak untuk kemudian disebar secara massal kepada para petani.
Meski demikian, dia memperkirakan hal itu baru bisa direalisasikan setelah masa panen kedua tahun depan.
“Secara teknis akan kita sampaikan dulu ke pimpinan, setelah itu baru akan ada keputusan bagaimana nanti ke depannya. Kita harapkan ini bisa disebar dan didapat dengan mudah oleh masyarakat,” ujarnya.
Kepala Balai Penerapan Standar Instrumen Pertanian Banten Ismatul Hidayah mengungkapkan, ada dua tipe padi varietas biosalin.
Baca Juga: Emas Galeri 24 Pegadaian Edisi Lebaran Ludes Terjual
Pertama, biosalin label ungu. Kedua, biosalin label biru. Untuk yang label ungu, padinya bisa dijadikan benih lagi untuk ditanami kembali. Sementara biosalin label biru tidak bisa dijadikan benih melainkan harus dikonsumsi.
Di Banten sendiri, kata Ismatul, saat ini ada 118 hektare sawah di Provinsi Banten yang ditanami padi varietas biosalin.
Dari luas lahan 118 hektare itu, ada yang ditanami label ungu dan ada yang biru. Dari 118 hektare sawah yang ditanami padi varietas biosalin, hampir 50 hektare yang akan dijadikan benih kembali.
“Paling banyak itu di Kecamatan Tanara yang mencapai 50 hektare, untuk yang di Tanara itu labelnya masih ungu,” ujarnya.***

















