BANTENRAYA.COM – Ulama Kiai Haji Ahmad Bahauddin Nursalim alias Gus Baha pernah melakukan istikharah soal pendapat Siti Aisyah RA istri Nabi Muhammad SAW tentang Isra Miraj.
Menurut Gus Baha, Siti Aisyah RA berpendapat dalam riwayat Muslim jika Rasulullah SAW tidak pernah melakukan Miraj atau naik kelangit ketujuh dan bertemu dengan Allah.
Atas pendapat Siti Aisyah RA tersebut Gus Baha sampai melakukan salat Istikharah untuk meminta petunjuk langsung dari sang mahapencipta.
Baca Juga: 10 Quotes dan Ucapan Selamat Hari Kanker Anak Sedunia 2023 yang Penuh Makna dan Menyentuh Hati
Ia ingin mendapat pencerahan atas apa yang disampaikan jika Miraj itu tidak pernah terjadi dan dilakukan Rasulullah SAW.
Pendapat Siti Aisyah RA tersebut, menurut Gus Baha adalah untuk menjaga konstitusi ulama.
Dalam arti bertujuan untuk tidak mengkultuskan Nabi Muhammad sebagai makhluk yang berbicara dengan Allah secara langsung.
Baca Juga: Hukuman Mati Ferdy Sambo Sudah Jelas, Arsul Sani Langsung Senggol Komnas HAM
Hal itu, karena nantinya bisa menjadikan pandangan orang awam, jika Allah itu memiliki tempat, memiliki takhra, singgasana, berbentuk, sehingga nantinya akan mengingkari akidahnya.
Miraj sendiri menurut sebagian pandangan ulama adalah perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidil Aqsa naik hingga langit ketujuh dan bertemu dengan Allah di Sidratul Mutha.
Sementara Isra merupakan perjalanan Rasulullah dari Masjidil Haram ke Baitul Maqdis atau Masjidil Aqsa dalam satu malam.
Baca Juga: Penyebab Utama PSG Keok dari Bayern Munich: Lagi Apes! Mbappe Sampei Tepok Jidat 2 Kali
Dikutip Bantenraya.com dari YouTube Hamima TV yang menyiarkan pengajian Gus Baha pada Rabu 15 Februari 2022, Gus Baha mengatakan menurut Riwayat Imam Muslim, jika istri Rasulullah SAW merupakan ulama atau orang yang tidak percaya dengan Miraj.
Pendapat itu dikemukakan dengan alasan untuk menjaga konstitusi ulama, agar umat Muslim dan para sahabat tidak terjebak dan akhirnya sesat tentang pandangan terhadap Allah.
“Aisyah punya kepentingan khas ulama yakni, menjaga konstitusi ulama, sehingga jangan sampai ada pengkultusan itu,” tuturnya.
“Pasti tuhan bertahta dan bertempat dan itu yang tidak dimaui Aisyah, jika Nabi bertemu Allah, itu akan memungkiri aqidah Jika allah tidak bertempat,” katanya.
Meski ada pendapat Aisyah mengingkari soal Miraj, lanjut Gus Baha, hampir seluruh ulama tetap meyakini dan meriwayatkan jika Nabi Muhammad bertemu dengan Allah dalam peristiwa Miraj.
Hanya ada Imam Muslim yang tetap meriwayatkan jika istri Rasulullah meyakini tidak pernah ada peristiwa Miraj.
“Imam Muslim tetap meriwayatkan kata aisah yang tidak amini seluruh sahabat itu,” katanya.
“Sebab, jika bertemu (Muhammad dengan Allah) maka akan ada banyak pertanyaan bagaimana Allah berbicara, bagaimana bentuk Allah, bagaimana Allah bertempat dan lainnya. Itu yang tidak diakui Aisyah aka nada khayalan soal itu,” tegasnya.
Baca Juga: Dosen-dosen UGM Tolak Pemberian Gelar Guru Besar Kehormatan Kepada Pejabat Publik
Sementara itu, Gus Baha juga menjelaskan, jika peristiwa Isra dilakukan Allah untuk Nabi Muhammad, karena Ulama berpendapat asal mula Isro itu hiburan dari Allah saat nabi mengalami 2 peristiwa kesusahan saat periode mekah.
“Nabi itu minoritas, miskin dan pendukung tidak ada, satu-satunya yang dipunyai yaitu pamannya Abu Thalib dan istrinya Siti Khadijah yang selalu melindungi dan ternyata orang (keduanya) yang dibelakang nabi itu wafat,” ucapnya.
“Makanya peristiwa Isra sering juga disebut Tahun Amul Huzni atau tahun kesusahan. Secara psikologis atau kejiwaan Rasulullah Muhammad sangat terguncang, sehingga Allah memberikan hiburan memperjalankan melalui perjalanan satu malam,” pungkasnya. ***
Gus Baha menerangkan jika Aisyah punya pendapat Rasulullah tidak pernah melakukan Mi’raj. (Instagram @kajian.gusbaha)



















