BANTENRAYA.COM – LSI Denny JA memproyeksikan 4 pimpinan partai politik bakal menjadi king maker atau penentu peta politik pada Pilpres 2024.
King maker itu adalah Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh, dan Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto.
Namun, keempat king maker disebut-sebut akan menghadapi dilema karena berbagai kepentingan.
Baca Juga: Pensiunan PNS Mengaku Ditipu Pengurus Koperasi Gemah Ripah milik Pegawai Pemkab Serang
Pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Cecep Hidayat menilai dilema yang terjadi pada keempatnya sebagai dinamika menjelang masa pendaftaran pasangan calon presiden-wakil presiden di KPU pada November 2023.
Menurutnya, masing-masing partai politik saat ini masih memasang tawaran tertinggi untuk bisa maju sebagai capres.
Seiring waktu, daya tawar posisi pun mereka akan dihadapkan pada proses negosiasi untuk mencari dukungan.
“Ini kan hanya untuk daya tawar politik di awal. Jadi semua semua memasang ingin jadi capres. Tapi nanti seiring dengan waktu, menjelang pertengahan 2023 nanti akan terjadi negosiasi ulang,” terangnya.
Menurut Cecep, hal itu memungkinkan terjadi ketika melihat karakter koalisi partai politik di Indonesia tidak mendapati landasan yang kuat untuk menjadi koalisi permanen.
“Karena koalisi di Indonesia ini koalisi yang tidak permanen. Tidak terlalu ketat,” sambungnya.
Baca Juga: Proyek Gagal Bayar di DPUPR Kota Cilegon 2021 Masih Rp 3,2 Miliar
Menurutnya, tidak tertutup kemungkinan sosok yang saat ini disebut-sebut sebagai bakal calon presiden malah tidak berhasil ikut serta dalam Pilpres 2024.
Karena akan ada kontemplasi internal dalam tubuh partai dalam menentukan untung-rugi dalam sebuah kontestasi dan peluang terbesar untuk menang.
“Di situ akan ada kontemplasi internal. Mereka akan melihat popularitas di masyarakat,” tegasnya.
Baca Juga: 5 Ide Kado Hari Ibu Murah di Bawah 100 Ribu tapi Berkesan dan Bermanfaat
Cecep menilai ada waktu untuk para king maker dalam menjajaki dan meramu negosiasi yang diharapkan.
Namun akhirnya mereka akan realitis dalam penempatan posisi.
“Mereka akan realistis pada akhirnya, melihat hasil survei dan kecenderungan. Maulah nanti dilamar jadi cawapres atau menko,” pungkasnya.
Baca Juga: Setelah Bang Edi, Kini Giliran Remon Beri Bocoran Soal Preman Pensiun 8: Saya Selalu Rindu Order
Sementara itu, Direktur Eksekutif Algoritma, Aditya Perdana, diatas semua itu ada Presiden Joko Widodo.
“Kalau King Maker yang disebut di survei adalah mereka yang punya parpol, ketua umum, sehingga mereka ada kesempatan untuk mencalonkan diri sebagai capres dari partai,” tuturnya.
“Yang dilupakan adalah Pak Jokowi, sebagai presiden, dan punya pengaruh, bukan hanya di istana tetapi juga di koalisi,” ungkap Aditya saat berbincang hari ini.
Baca Juga: Link Pemesanan Tiket Piala AFF 2022, Cek Disini
Adapun hasil survei Denny JA, keempat nama itu dianggap akan atau tidak meneruskan spirit Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Maka sosok Airlangga, Megawati dan Prabowo paling mungkin untuk melanjutkan ‘jokowi’s legacy’.
Lantas siapa yang mendapat ‘endorse’ penuh dari Presiden Jokowi? “Kalau posisi Pak Jokowi jelas ketika sampai nanti ada capres yang disahkan KPU disitulah peran peran politik yang dimainkan,” ujar Aditya yang juga Dosen di Universitas Indonesia ini.
Baca Juga: Safira Gagal Paham Soal Kedekatan Roy dan Lidya Preman Pensiun 7, Alasannya Gara-gara Ini?
Sebelumnya Presiden Jokowi kerap melempar pujian kepada sejumlah Ketum Partai yang juga Menteri di kabinetnya.
Misalnya dia menyebut sosok Ketum Golkar dan Menko Perekonomian Airlangga sebagai pemimpin dengan pengalaman, juga memuji Ketum Gerindra dan Menhan Prabowo Subianto.
Kemudian Ketum Airlangga bersama PAN dan PPP Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) memiliki Program Akselerasi Transformasi Ekonomi Nasional (PATEN) dan bertekad untuk melanjutkan legasi dari Presiden Jokowi. ***

















