BANTENRAYA.COM – Masyarakat banyak yang mempertanyakan kapan sebenarnya Lebaran 2022.
Pertanyaan kapan Lebaran 2022 muncul karena Ramadhan yang tidak seragam.
Muhammadiyah memulai Ramadhan pada tanggal 2 April 2022.
Baca Juga: Link Download Video Chika 20 Juta Full, Sepintas Mirip Tapi Ternyata…
Sedangkan pemerintah dan Nahdlatul Ulama memulai Ramadhan pada 3 April 2022.
Sehingg kemungkinan Lebaran 2022 pun jatuh pada dua hari yang berbeda.
Lebaran mungkin jatuh pada tanggal 2 Mei atau 3 Mei 2022.
Baca Juga: Link Video Arya Saloka Gemas Ciumi Amanda Manopo, Netizen Sampai Bilang Begini
Atau mungkin ada yang Lebaran pada tanggal 1 Mei 2022.
Dai kondang dari Riau, Ustad Abdul Somad punya jawaban yang tepat dan cukup menenangkan mengenai perbedaan lebaran.
Berikut penjelasan Ustad Abdul Somad terkait perbedaan yang sering terjadi saat penetapan 1 Ramadhan dan 1 Syawal.
Baca Juga: Viral Video Warga Usir Mobil Polisi Saat Pemberlakuan Satu Arah di Tol Cikampek
Dikutip bantenraya.com dari akun Youtube Goto Islam, menurut Ustad Abdul Somad mengapa perbedaan ini terjadi karena sidang isbatnya di ekspos.
Kemudian, Ustad Abdul Somad menambahkan sebaiknya sidang isbat itu diadakan tertutup.
“Sidang isbat di ruang tertutup, mau kelahi antara NU sama Muhammadiyah, kelahi di ruang tertutup itu, tapi suara yang keluar tetap satu,” ujar Ustad Abdul Somad.
Baca Juga: UPDATE ARUS MUDIK: Kondisi Terkini Tol Jakarta-Cikampek Malam Ini di Sejumlah Titik
Selanjutnya, Ustad Abdul Somad menjelaskan bahwa yang ia katakan mengambil contoh dari Mesir.
“Itu yang terjadi di Mesir, antara hisab ilmu astronomi dengan rukyatul hilal itu dikombinasikan,” ungkap Ustad Abdul Somad.
Lebih jauh, Ustad Abdul Somad menegaskan bahwa hisab dan rukyatul hilal bukan diperdebatkan.
“Jadi hisab dan rukyat bukan dikonfrontirkan atau ditabrakan, tapi dikombinasikan,” jelasnya.
Sehingga, menurut Ustad Abdul Somad hasil yang keluar dari penetapan 1 Ramadhan maupun 1 Syawal adalah satu suara.
“Andai ini terjadi, satu, amat sangat baik, bagus, positif, orang luar agama kita tidak membenturkan kita,” imbuhnya.
Tetapi, Ustad Abdul Somad mewanti-wanti apabila kembali ke lagu lama, dibenturkan ormas dengan negara maka cara menyikapi perbedaan adalah dengan ini.
“Saya pribadi menyarankan ikutlah apa yang engkau yakini benar menurut engkau, walaupun seribu orang berfatwa, memberikan fatwa kepadamu,” pungkasnya.
Kembali Ustad Abdul Somad menegaskan bahwa fatwa yang dikeluarkan Muhammadiyah maupun Majelis Ulama sama-sama benar.***



















