BANTENRAYA. COM– Gunung Krakatau 1883 meletus disertai tsunami setinggi 30 meter. Bencana alam ini memporak-porandakan pemukiman di sepanjang pantai Jawa bagian barat dan Lampung kala itu.
Guna mengenang letusan Gunung Krakatau, dibangunlah sebuah monumen atau tugu peringatan letusan Gunung Krakatau 1883 yang berlokasi di Pantai Karang Sari Carita.
Tugu atau prasasti karakatu ini menempel pada sebuah batu hitam berukuran lumayan besar dan berbentuk persegi. Konon batu tersebut terlempar dari Gunung Krakatau yang meletus.
Baca Juga: Cerita KSAD Dudung Beredel Baliho Front Pembela Islam: Mendidih Darah Saya
Tugu tersebut dibangun selain bertujuan sebagai menarik minat wisata, juga agar masyarakat dan wisatawan mengambil hikmah, pelajaran dan menginstrospeksi diri bahwa semua kejadian alam bisa karena ulah manusia dan semuanya atas izin Allah SWT .
Tugu peringatan tersebut kini teronggok kumuh sangat memprihatikan tidak terurus bahkan kondisinya kini terkena proyek pemagaran.
Syamsu, penggiat pariwisata Kabupaten Pandeglang membenarkan bahwa telah terjadi pemagaran yang dilakukan oknum yg mengaku Pembeli dari pihak penjual yang berdalih memiliki SHM.
“Entah dari mana warkahnya tak jelas dan telah terjadi di tanah objek lahan parkir pantai Karangsari yag saat ini masih dalam wewenang pengelolaan BPKD Pandeglang,” kata Syamsu.
Selain itu kata Syamsu, pemagaran Menodai Prasasti Karakatau yang juga situs cagar budaya.
“Kami selaku warga masarakat dan penggiat dan komunitas Peduli pariwisata Carita sangat menyayangkan dengan sikap Pemda Pandeglang dan atau pihak lainnya atas terjadinya pemagaran di lahan tanah milik Pemda oleh oknum yang nakal,” jelasnya.
Baca Juga: Helldy Sanuji Janji Entaskan 25 Ribu Pengguran, Wakil Ketua DPRD Cilegon: Hanya Retorika
Atas nama masyarakat Carita, Syamsu menuntut bupati Pandeglang atau pihak terkait lainnya agar segera turun sidak ke lapangan.
“Agar kiranya kejadian ini tidak terjadi di prasasti sejarah lainya dan menuntut Pemkab Pandeglang mengembalikan lahan parkir ke sediakala Karna ini lahan menjadi tumpuan ribuan ohang hajat hidup masyarakat Kecamatan Carita,” bebernya.
Penggiat pariwisata Pandeglang lainnya Ofat Sofwatuddin menyesalkan aksi pemagaran yang menutup Prasasti Krakatau.
“Jauh panggang dari api , disaat Pemda Paneglang gembar gembor soal Geopark Ujung Kulon, disisi lain Geodiversitynya tidak diperhatikan. Prasasti Krakatau bisa dimanfaatkan sebagai media menyampaikan informasi terkait Gunung Krakatau walaupun onggokan batu tersebut tidak dapat berbicara namun menyimpan cerita yang sangat memilukan.” ***
















