BANTENRAYA.COM – Sejumlah tokoh Mathla’ul Anwar menyoroti lemahnya eksistensi organisasi tersebut di tengah masyarakat, khususnya di Provinsi Banten.
Hal itu mengemuka dalam Sarasehan Bersama Para Tokoh Mathla’ul Anwar yang digelar di Aula Gedung Serba Guna DPRD Provinsi Banten, Jalan Raya Syaikh Nawawi Al Bantani, Kota Serang, Rabu (11/2/2026).
Sarasehan tersebut menghadirkan enam dari tujuh calon Ketua Umum Pengurus Besar Mathla’ul Anwar. Mereka adalah Syibli Sarjaya, mantan Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten; Zaenal Abidin Suja’i; Wawan Ruswandi, Jazuli Juwaini, anggota DPR RI; Taufikurohman, Ketua DPW Mathla’ul Anwar Provinsi Banten; dan Andi YH Djuwaeli. Sementara satu calon lainnya, Abdul Hakim, berhalangan hadir.
BACA JUGA: Dari Ojol hingga Marbot, 800 Pekerja Informal di Cilegon Difasilitasi BPJS Ketenagakerjaan
Dalam pemaparannya, Syibli Sarjaya menekankan pentingnya penguatan fondasi organisasi agar Mathla’ul Anwar mampu bersaing dengan organisasi kemasyarakatan lain.
Menurutnya ada empat hal yang harus diperbaiki dalam penguatan organisasi Mathla’ul Anwar.
“Ada empat pilar strategis yang harus dikuatkan oleh Mathla’ul Anwar, yaitu pilar pendidikan, dakwah, konsolidasi organisasi, dan penguatan kelembagaan,” ujar Syibli.
Dia juga menyoroti lemahnya persatuan internal yang berdampak pada posisi Mathla’ul Anwar di tingkat nasional bahkan di Provinsi Banten.
Menurut Syibli, salah satu indikator lemahnya peran organisasi adalah minimnya lembaga pendidikan tinggi yang dimiliki.
“Tantangan kita saat ini adalah lemahnya persatuan. Mathla’ul Anwar masih dihitung, tetapi belum diperhitungkan,” katanya.
“Kita baru punya satu universitas. Bandingkan dengan ormas lain seperti Muhammadiyah dan NU,” lanjutnya.
Sementara itu, Jazuli Juwaini secara tegas menyatakan bahwa keberadaan Mathla’ul Anwar belum dirasakan secara luas oleh masyarakat.
Bahkan, eksistensi Mathla’ul Anwar menurutnya masih belum terlihat eksistensinya sehingga banyak yang belum mengenal Mathla’ul Anwar, termasuk warga Provinsi Banten sendiri.
“Eksistensi kita tidak dilihat. Ini PR besar bagi kita semua. Tidak semua orang Banten tahu dan ingat Mathla’ul Anwar,” kata Jazuli.
Politisi PKS ini menambahkan, tantangan ke depan adalah bagaimana membangun citra organisasi agar Mathla’ul Anwar bisa identik dengan Banten.
Seperti halnya Muhammadiyah yang identik dengan Yogyakarta dan NU yang identik dengan Jawa Timur.
“Ketika orang mendengar Banten, seharusnya teringat Mathla’ul Anwar. Caranya dengan melakukan kiprah nyata agar keberadaan kita dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Jazuli juga mengingatkan bahwa Mathla’ul Anwar merupakan organisasi lama yang lahir pada tahun 1916, sehingga seharusnya memiliki posisi kuat di tengah masyarakat.
Dari sisi usia, Mathla’ul Anwar bahkan lebih tua dari Nahdlatul Ulama.
“Mathla’ul Anwar lahir sejak 1916. Usia kita sudah lebih dari satu abad,” ungkapnya.
Taufiqurohman menegaskan bahwa pembenahan Mathla’ul Anwar harus dilakukan di berbagai sektor utama.
Terutama di tiga bidang utama yang selama ini menjadi konsentrasi Mathla’ul Anwar, yaitu pendidikan, dakwah, dan sosial.
“Kita harus memperkuat pendidikan, dakwah, dan sosial. Ke depan, Mathla’ul Anwar harus lebih baik dari sebelumnya,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Andi YH Djuwaeli yang menekankan pentingnya penguatan basis pendidikan melalui madrasah.
Bila Muhammadiyah punya sekolah dan NU punya pesantren, maka Mathla’ul Anwar seharusnya lebuh dikenal dengan ormas yang mempunyai madrasah.
“Kalau kita tidak punya madrasah, kita tidak punya kader. Kalau tidak punya kader, kita bisa lenyap,” tegas Andi.
Dia membandingkan kondisi Mathla’ul Anwar dengan organisasi lain. Menurutnya, lemahnya pendataan juga menjadi persoalan serius. ***














