BANTENRAYA.COM – Sebanyak 11 orang warga Provinsi Banten menjadi korban tanah longsor tambang biji timah di Desa Pemali Bangka, Kecamatan Pemali, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Dari 11 orang itu, 6 orang meninggal dunia, 4 orang selamat, dan 1 orang lainnya masih dalam pencarian.
Berdasarkan data yang diperoleh Banten Raya dari petugas Basarnas Bangka Belitung, identitas empat korban selamat yaitu Ecek, Asep, Mani dan Sainan.
Korban meninggal dunia yaitu Abat, Samson, Sanam, Abeng, Alex dan Manaf, serta 1 orang masih dalam pencarian.
11 orang itu merupakan warga Kampung Cisiih, Desa Situregen, Kecamatan Panggaranan, Kabupaten Lebak, dan warga Desa Ciseureuheun, Kecamatan Cigeulis, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.
Kepala Seksi Operasi (Kasi Ops) Kantor Pencarian dan Pertolongan Pangkalpinang Danu Wahyudi mengatakan, peristiwa yang menimpa 11 warga Banten itu terjadi di kawasan eks Tambang Pondi, Desa Pemali, Kecamatan Pemali, Kabupaten Bangka, pada Senin, 2 Februari 2026.
BACA JUGA: Kenalkan Realme Neo 8, Si Raja Killer Awal Tahun 2026
“Semua korban warga Banten, mayoritas asal Pandeglang,” katanya saat dikonfirmasi, Rabu, 4 Februari 2026.
Menurut Danu, tanah longsor itu terjadi sekitar pukul 17.00 WIB, saat sejumlah pekerja sedang melakukan aktivitas penambangan menggunakan alat berat.
Diduga, kontur tanah di lokasi tidak stabil hingga menyebabkan tanah longsor dan menimbun para pekerja beserta alat berat yang sedang beroperasi.
“Saat kejadian nggak hujan, kontur tanah yang tidak stabil,” ujarnya.
Danu mengungkapkan, saat ini tim SAR Gabungan masih melakukan proses pencarian terhadap 1 korban yang belum ditemukan, dengan menggunakan alat berat.
“Ada 4 alat berat, tinggal 1 korban yang belum ditemukan,” ungkapnya.
BACA JUGA: Disangka Hewan Buas, Binturong Satwa Dilindungi Tewas Dijerat dan Ditembak di Pandeglang
Sementara itu, Kepala Kantor SAR Pangkalpinang Mikel Rachman Junika memastikan, pihaknya akan mengoptimalkan upaya pencarian untuk menemukan korban terakhir.
Namun, kondisi medan yang tidak stabil menjadi kendala utama di lapangan.
“Pencarian terhadap para penambang kami lakukan semaksimal mungkin. Semalam tiga orang berhasil ditemukan, sehingga kini tersisa satu penambang yang masih dalam pencarian,” katanya.
Mikel menambahkan bahwa area pencarian memiliki risiko tinggi karena kondisi tanah yang labil dan terus bergeser. Untuk mempercepat proses evakuasi material longsor, sebanyak empat unit alat berat ekskavator telah diterjunkan ke lokasi hingga sore ini.
“Tanah di sekitar area pencarian terus bergeser hingga cukup menyulitkan. Namun, kita akan mengupayakan semaksimal mungkin dengan tetap mengutamakan keselamatan tim rescue yang bekerja. Semoga korban dapat segera ditemukan,” tandasnya.***



















