BANTENRAYA.COM – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang atau DPUPR Kabupaten Serang bakal membangun jembatan darurat yang menhubungkan Desa Kramatlaban dan Desa Bugel, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang.
Jembatan tersebut rusak akibat diterjang banjir, sehingga akses untuk kedua desa tersebut sangat terganggu dan sempat viral di media karena terdapat siswa yang menyeberangi jembatan itu dengan penuh kehati-hatian.
Kepala DPUPR Kabupaten Serang Mochammad Ronny Natadipraja mengatakan, telah melakukan koordinasi dengan Balai Pengelola Jalan Nasional untuk membangun jembatan tersebut.
“Intinya dari survei bersama itu ada kesepakatan bahwa untuk penanganan jalan daruratnya akan dilakukan oleh DPUPR Kabupaten Serang,” ujarnya di halaman Setda Kabupaten Serang, Rabu 27 Januari 2026.
Ia menjelaskan, jembatan-jembatan yang dibangun oleh DPUPR Kabupaten Serang hanya bersifat sementara sebelum dibangunkan jembatan permanen.
BACA JUGA:Manfaatkan Dana Desa, Bumdes Setra Mandiri Genjot Pembibitan Benih Padi dan Ikan
“Sedangkan untuk pembangunan jembatan permanennya nanti dilaksanakan oleh BPJN. Mereka minta waktu untuk membuat desain dulu, sedangkan untuk pembangunan jalan daruratnya itu secepatnya,” katanya.
Ronny menuturkan, pihaknya saat ini sedang menghitung anggaran kebutuhan pembangunan jembatan darurat yang menggunakan bahan dasar bambu.
“Yang penting masyarakat konektivitasnya tidak terputus, kita akan gunakan bambu dan sedang kita hitung anggarannya,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, jembatan tersebut rusak akibat diterjang banjir pada pekan kemarin sehingga memutus akses dari dua desa.
“Karena banjir dan rusaknya cukup parah, jadi sudah kita tinjau, dan BPJN akan membuat perencanaanya supaya bisa membangun jembatan permanen,” paparnya.
BACA JUGA: Spoiler Drakor IDOL I Episode 11 Sub Indo: Kasus Woo Sung Bakal Terungkap?
Sebelumnya, Kepala MA Al Akhairiyah Ranca Ranji Hidayat Muslih mengatakan, jembatan tersebut sangat penting bagi siswa yang akan berangkat ke selokah.
“Walaupun ini jalan terbuat dari bambu tapi perannya sangat vital. Siswa kalau tidak lewat jembatan ini perjalanannya bisa 4 kilometer, tapai kalau lewat jembatan hanya 2 kilometer,” ujarnya.***















