BANTENRAYA.COM – Layanan transportasi massal Trans Banten dipastikan terus beroperasi pada tahun 2026 dengan dukungan anggaran sebesar Rp4,1 miliar dari Pemerintah Provinsi Banten.
Meski telah memasuki tahap operasional penuh, layanan bus tersebut hingga kini masih digratiskan untuk masyarakat.
Hal tersebut sebagaimana dikatakan oleh Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Banten, Tri Nurtopo yang menyampaikan jika kelanjutan operasional Trans Banten merupakan arahan langsung Gubernur dan Wakil Gubernur Banten.
BACA JUGA: Mutasi Polres Pandeglang: 7 Pejabat Terima Tugas Baru, Kapolres Tekankan Profesionalisme
Program yang sebelumnya berjalan dalam masa uji coba selama tiga bulan sejak Oktober, kini tidak lagi berstatus percobaan.
“Sesuai arahan pimpinan, dalam hal ini Pak Gubernur dan Pak Wakil Gubernur, Trans Banten berlanjut. Jadi sekarang sudah berjalan, bukan uji coba lagi,” ujar Tri, Selasa, (6/1/2025).
Terkait tarif, Tri menegaskan hingga saat ini belum ada pemberlakuan biaya bagi pengguna Trans Banten. Kebijakan tarif gratis masih dipertahankan tanpa batas waktu yang ditentukan.
“Untuk saat ini masih gratis. Pak Gubernur dan Pak Wakil Gubernur masih menggratiskan sampai waktu yang belum ditentukan,” katanya.
Untuk meningkatkan pelayanan, Tri mengatakan telah menambah jumlah armada bus.
Saat ini, Trans Banten dioperasikan dengan empat unit armada, bertambah dua unit dari sebelumnya.
Penambahan ini berdampak pada waktu tunggu bus yang menjadi lebih singkat.
“Sekarang kita tambah dua armada lagi, jadi total ada empat armada yang beroperasi. Intervalnya kita upayakan setiap setengah jam sekali,” jelas Tri.
Kendati demikian, terdapat penyesuaian interval tetap yang diberlakukan pada hari libur.
Pada Sabtu dan Minggu, interval kedatangan bus kembali menjadi satu jam sekali karena aktivitas masyarakat dinilai lebih rendah dibandingkan hari kerja.
“Kalau hari libur seperti Sabtu dan Minggu, kita normalkan satu jam sekali karena aktivitasnya lebih sepi,” ujarnya.
Selain armada, Tri mengatakan jika pihaknya melakukan penyesuaian rute. Rencana awal yang memulai rute dari Perumahan Alamanda Trondol dialihkan karena keterbatasan kapasitas jalan.
Saat ini, rute Trans Banten berputar di kawasan Mall of Serang (MOS) dan diperpanjang hingga UIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Kampus Ciceri.
“Karena ada permintaan dari UIN SMH, kita tambahkan rute ke Kampus Ciceri, lalu ke Jalan Trip Jamaksari dan masuk ke Jalan Armada,” ungkap Tri.
Perubahan juga dilakukan pada titik pemberhentian. Bus yang sebelumnya masuk dan berhenti di Terminal Pakupatan kini dialihkan berhenti di Halte Taman Patung Debus Kemang. Kebijakan ini diambil untuk memangkas waktu tempuh agar layanan lebih efisien.
“Kalau masuk ke terminal dan berhenti di sana, waktu muternya cukup lama. Jadi kita alihkan ke Halte Taman Patung Debus,” jelasnya.
Untuk mendukung operasional Trans Banten sepanjang 2026, Pemprov Banten mengalokasikan anggaran Rp4,1 miliar dengan skema Buy The Service (BTS).
Dalam skema ini, jika ke depan tarif diberlakukan, seluruh pendapatan dari penumpang akan masuk langsung ke kas daerah.
“Kita anggarkan Rp4,1 miliar, masih dengan skema Buy The Service. Nanti kalau sudah bertarif, hasilnya masuk ke kas daerah,” tandas Tri.
Sebagai informasi, adapun rute Trans Banten saat ini melayani lintasan Kampus Untirta Sindangsari–Jalan Syekh Nawawi Al-Bantani–Terminal Pakupatan–Jalan Sudirman–Simpang Ciceri–Jalan Trip Jamaksari–Jalan Avip Usman–Jalan Armada–Jalan Raya Jakarta–Simpang Parung–kembali ke Jalan Syekh Nawawi Al-Bantani hingga Kampus Untirta Sindangsari, dengan titik pemberhentian tambahan di Halte UIN Ciceri dan Halte Taman Patung Debus. ***
















