BANTENRAYA.COM – Pementasan teater kolaboratif Teater Bale dan Artgoong yang membawakan naskah Malam Jahanam karya Motinggo Boesje.
Pementasan Malam Jahanam digelar di Bale Budaya Pandeglang, Sabtu (27/12) malam. Pementasan diinisiasi oleh Teater Bale, Artgoong, dan Studio Tata Artistik, serta difasilitasi Pandeglang Creative Hub.
Pertunjukan ini menyoroti masih terbatasnya ruang kreativitas bagi komunitas teater di Kabupaten Pandeglang.
BACA JUGA: 3 Rekomendasi Tempat Nongkrong Baru Taman Estetik di Cilegon
Budayawan Pandeglang, Tirta, mengatakan, pementasan menjadi refleksi kondisi ekosistem seni pertunjukan di daerah.
Menurutnya, keterbatasan ruang dan fasilitas masih menjadi persoalan utama bagi para pelaku seni teater.
“Tujuannya menjaga keberlangsungan aktivitas teater di tengah minimnya ruang pertunjukan yang representatif,” kata Tirta.
Ia menjelaskan, Malam Jahanam merupakan naskah teater realis yang memotret konflik batin, ketegangan sosial, dan sisi gelap kemanusiaan.
Tema tersebut dinilai relevan dengan kondisi yang dihadapi para seniman saat ini.
“Meski digelar dengan keterbatasan ruang dan fasilitas, para aktor mampu menghadirkan intensitas dramatik melalui pengolahan peran, dialog, dan penataan artistik yang sederhana,” ujarnya.
Tirta menilai, pertunjukan berlangsung komunikatif dan mendapat respons positif dari penonton.
Namun, kondisi tersebut sekaligus menegaskan bahwa seni pertunjukan di Pandeglang belum ditopang infrastruktur yang memadai.
“Teater membutuhkan ruang yang aman, layak, dan berkelanjutan agar bisa berkembang secara optimal,” katanya.
Katanya, kehadiran Pandeglang Creative Hub patut diapresiasi sebagai langkah awal membuka akses ruang kreatif.
Meski demikian, dukungan tersebut dinilai masih perlu diperkuat melalui kebijakan yang lebih serius dari pemerintah daerah.
“Pementasan ini bukan hanya peristiwa artistik, tetapi juga pesan bahwa seni dan budaya membutuhkan keberpihakan,” ucapnya.
Para pelaku seni berharap, potensi dan kualitas kesenian di Pandeglang yang sudah ada dapat didukung oleh pemerintah.
“Diharapkan didukung dengan penyediaan ruang dan kebijakan yang berkelanjutan, sehingga mampu berkontribusi lebih luas bagi pembangunan kebudayaan daerah,” harapnya. ***
















