BANTENRAYA.COM – Pengamat Ekonomi Banten Hady Sutjipto menilai, fenomena kemiskinan di perkotaan menjadi masalah serius yang harus diatasi.
Ia menyebut, fenomena rombongan jarang beli alias Rojali hingga istilah rombongan jarang belanja atau Rohana, menunjukkan kemiskinan modern yang memiliki gejala struktural yang mendalam.
“Bukan berarti mereka tidak bisa memenuhi kebutuhan dasar seperti makan atau tempat tiiggal, namun produk yang berada di etalase perbelanjaan tidak bisa mereka dapatkan,” kata Hady kepada Bantenraya.com, Kamis 31 Juli 2025.
Baca Juga: Dewan Sepakat Ingin Sekda dari Internal Pemkab Serang
Hal ini mencerminkan kesenjangan yang meningkat di perkotaan, sehingga kebutuhan masyarakat di perkotaan guna memenuhi gaya hidupnya kini mulai tertekan.
“Apakah ini dampak dari kemiskinan di perkotaan yang naok atau soal ketidakpastian ekonomi, yang jelas daya beli market menurun,” imbuhnya.
Meski terjadi peningkatan pendapatan dari naiknya penghasilan di masyarakat perkotaan. Pada kenyataannya mereka tidak bisa mengimbangi kenaikan harga barang-barang tersebut.
Baca Juga: Karantina Banten Gagalkan Penyelundupan Burung Dilindungi Melalui Pelabuhan Merak
“Ini jadi strategi bertahan bagi mereka, datang ke mall, namun hanya untuk kebutuhan sosial saja, upload di media sosial bukan malah membeli. Karena ngadem di mall kan gratis dibandingkan tempat publik lainnya,” tutur Hady.
Kondisi ini menjadi peringatan dan perhatian keras terutama bagi para pelaku bisnis dan pemangku kebijakan. Bagi para pelaku usaha, tentu menjaga tren penjualan menjadi hal yang sangat diutamakan ketika dalam kondisi ekonomi seperti ini.
“Mungkin para pelaku usaha bisa mengubah segmen dengan menyasar kalangan menengah kebawah, atau boleh dibilang sedikit mengorbankan keuntungan,” cakapnya.
Baca Juga: Kapan Puasa Ayyamul Bidh Bulan Agustus 2025? Cek Jadwal dan Bacaan Niatnya
Sementara dari sisi pemerintah, perlu memberikan jaminan pekerjaan yang layak bukan hanya sekedar membuka lapangan kerja saja.
“Penting bagi pemerintah perlu adanya intervensi kebijakn bukan hanya menciptakan lapangan kerja tapi pekerjaan yang layak dan adil, agar kalangan ini dapat berkontribusi terhadap perekonomian,” jelas Hady.
Intinya, lanjut Hady jangan meremehkan fenomena Rojali ini, lantaran membawa pesan penting yang mencerminkan kondisi wajah kemiskinan kota medern,
Baca Juga: Siapa Ryu Kintaro? Inilah Profilnya Sosok Pengusaha Cilik yang Viral Karena Nasihat Soal Perintis
“Ada etalase kemewahan yang tidak mereka bisa jangkau, sehingga tidak hanya cukup untuk memberikan keadialan, namun untuk masyarakat di perkotaan bisa bertahan hidup dan berkembang memberikan aspirasi,” kata Hady.***



















