BANTENRAYA.COM – Puluhan emak-emak di Kampung Suminta, Desa Sukadaya, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak membuat replika kuburan tepat di jalan desa yang melalui wilayahnya. Hal tersebut mereka lakukan sebagai bentuk protes kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak lantaran kondisi jalan di kampung mereka dibiarkan rusak selama belasan tahun tanpa sedikitpun pernah tersentuh pembangunan.
Bahkan, direplika kuburan yang warga buat, oleh mereka juga ditaburkan bunga dan dipasang patok layaknya nisan yang berisikan tulisan sindiran kepada Pemkab Lebak.
“Kira-kira 1 kilometer. Padahal cuma 1 kilometer jalan di depan rumah kami rusak. Masalahnya kalau belasan tahun lewat jalan begini ya capek,” kata salah seorang warga saat dijumpai di lokasi, Tuti pada Senin, 18 November 2024
Tuti mengaku ia bersama warga lainnya telah mencapai puncak kekesalan. Padahal, kata dia, warga sudah sering menyampaikan aspirasinya kepada Pemkab Lebak melalui berbagai forum seperti musrenbangdes. Namun, hingga kini ia dan warga lainnya sama sekali belum pernah melihat petugas memasuki jalan di kawasan kampungnya tersebut.
“Perhatian pemerintah terhadap infrastruktur jalan minim. Wajar kami warga kesal. Mudah-mudahan setelah aksi ini pemerintah terketuk pintu hatinya,” ujarnya.
Baca Juga: Klaim Dukungan NasDem, Dede Sebut Sanuji Takut Jadi Pengangguran Politik
Selain membuat replika kuburan, warga juga rupanya turut memperbaiki jalan secara swadaya. Dengan membawa peralatan sederhana dari rumah, seperti ember dan cangkul, warga sukarela patungan mengumpulkan uang untuk membeli bahan-bahan keperluan seadanya.
Jalan itu sendiri merupakan akses utama yang cukup ramai yang menghubungkan tiga kecamatan. Diantaranya Kecamatan Warunggunung, Cikulur, dan Cibadak. Namun, kondisi jalan benar-benar memprihatinkan.
Kondisi tersebut diperparah ketika hujan turun. Genangan air memenuhi jalan hingga membuat licin karena hampir seluruh badan jalan merupakan tanah. Tak jarang, jalan tersebut membuat pengendara yang melalui terjatuh, mulai dari warga maupun anak-anak sekolah.
“Dulu pernah jatoh lewat sini. Pas kebetulan baw anak sekolah. Tapi ya sekarang kayaknya sudah biasa kali ya,” kata salah satu pengendara yang hendak melintas. (***)
















