BANTENRAYA.COM – Karya film lokal dari Provinsi Banten berjudul Lima Pare, terbilang sukses mendunia dengan sederet prestasi yang dikenal berbagai negara.
Fakta menarik lainnya, film yang disutradarai oleh dua pemuda asal Kabupaten Pandeglang yang ingin mengangkat nilai budaya masyarakat Baduy tersebut, hanya menghabiskan biaya produksi sebesar Rp19 juta.
Sutradara Film Lima Pare Ilham Aulia Jafra mengatakan, anggaran tersebut dibagi pada beberapa kebutuhan di antaranya, transportasi Rp2 juta, penginapan Rp4 juta, dana sumbangan untuk ritus ngaseuk Rp2,5 juta, konsumsi Rp3, salary subjek Rp2 juta, sewa alat drone dan pilot Rp1 juta, dan sewa alat musik kacapi serata angklung buhun Rp4,5 juta.
“Jadi total dana yang dihabiskan adalah Rp19 juta, dengan keterbatasan tersebut alhamdulilah film Lima Pare bisa eksis ke banyak negara,” kata Jafra kepada Bantenraya.com, Rabu 19 Juni 2024.
Baca Juga: Ujung Kulon Culture Festival Diklaim Mampu Sedot Wisatwan Mancanegara ke Pandeglang
Sederet prestasi yang disabet film Lima Pare yang diproduksi pada tahun 2022 tersebut di antaranya, juara tiga Eagle Award Documetary Competition tahun 2022, Short list Festival Film Indonesia, serta menjadi special screening Festival Film Sumbawa tahun 2023.
“Dan baru-baru ini di tahun 2024, kami mendapatkan masuk dalam Nominasi Best International Documentary di International Ecologicsl TV Festival TO SAVE AND PRESERVE XXVIII, Rusia 2024, Nominasi Best Internstional Documentary at Bangladesh International Short and Independent Film Festival, Bangladesh 2024, Official Selection Lift-Off Global Network, Inggris 2024, Galil Adventur and Human Nature Israel, lolos seleksi tahap 1 masih akan diupdate keikutsertaannya, dan KLIFA Awards Kuala Lumpur, Malaysia, 2024,” tutur Jafra.
Ia menilai, Lima Pare menyasar masyarakat urban, terutama masyarakat yang ada di Eropa yang saat ini sedang mengalami krisis pangan dan ketergantungan pangan.
“Sebab itu kami ingin menunjukkan bahwa masyarakat adat dapat bertahan hidup tanpa membutuhkan negara, serta mampu hidup selama puluhan bahkan ratusan tahun tanpa bercocok tanam, karena masyarakat Baduy sudah menerapkan konsep kedaulatan pangan,” imbuhnya.
Baca Juga: Jemaah Haji Pandeglang Dipastikan Sehat Usai Jalani Puncak Ibadah
Lamanya proses pembuatan film ini sekitar dua bulan, Jafra menyampaikan bahwa banyaknya kendala terdapat pada batasan adat yang diperbolehkan untuk tayang di film Lima Pare.
“Kami selalu menanyakan mengenai batasan-batasan serta apa saja yang boleh diambil video dan yang tidak boleh diambil gambarnya. Kami berkomitmen untuk selalu menjaga kesucian adat istiadat masyarakat Baduy,” ujar Jafra.
Dalam waktu dekat, pihaknyak juga akan memproduksi film dokumenter tentang Banten, terutama berkaitan dengan issue populis di Banten menyoal tentang agraria dan fenomena sosial.
“Termask juga, film tentang masyarakat pulau Shanghiang yaang homonatura, yaitu bercerita tentang nasyarakat pulau Shaghiang diusir dengan menggunakan babi,” kata Jafra.***



















