BANTENRAYA.COM- Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) mendapat kunjungan dari Badan Kerjasama Antar Parlemen (BKSAP) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia, Rabu 15 September 2021.
Anggota DPR RI Wakil ini diterima oleh jajaran Rektorat Untirta di ruang multimedia Gedung Rektorat Untirta Kampus Sindangsari.
Kunjungan DPR RI tersebut dibungkus dalam kegiatan bernama BKSAP Day dan dimaksudkan guna sosialisasi tentang peran parlemen dalam mendukung diplomasi soft power melalui dunia pendidikan.
Baca Juga: Lereng Gunung Karang Pandeglang Khawatir Longsor Susulan, Warga Diminta Tetap Waspada
Hadir dalam kegiatan tersebut dari DPR RI FAdli Zon, Ketua BKSAP MArdani Ali Sera, Wakil Ketua BKSA, Achmad Hafisz Tohir, Gilang Dhielafararez, Jazuli Juwaini, Asman Abnur dan Sekretariat BKSAP.
Sedangkan tuan rumah hadir lengkap jajaran pimpinan rektorat, dekanat, lembaga, hingga unit pelaksana teknis di lingkungan Untirta.
Rektor Untirta Fatah Sulaiman dalam sambutannya sempat memperkenalkan Untirta dan value Jawara dihadapan para anggota DPR RI yang hadir. Rektor Untirta juga menjelaskan tentang peran perguruan tinggi dalam diplomasi peradaban antar bangsa.
Baca Juga: Penjualan Kerajinan Tangan Tembus 50 Frame Stick
Menurut Prof Fatah, diplomasi merupakan salah satu cara untuk meraih kepentingan nasional. Diplomasi soft power khususnya dibidang pendidikan yang coba diusung dalam kegiatan BKSAP Day sangatlah relevan untuk dapat memperkuat kredibilitas Indonesia di luar negeri, dan percepatan peningkatan SDM yang mana menjadi fokus pembangunan Indonesia dapat segera tercapai ditengah masifnya arus disrupsi, baik oleh karena teknologi maupun kesehatan.
Pendidikan sesungguhnya dimensi utama dari diplomasi budaya. Masih menurut Rektor, Diplomasi Budaya dan Pendidikan diyakini dapat meningkatkan mutual understanding, mutual interest, mutual respect dan mutual trust.
Keuntungan lainnya dari diplomasi ini yakni meningkatkan attractiveness, kerjasama pendidikan dan pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas pendidikan khususnya di pendidikan tinggi. Oleh karenanya, pendidikan tinggi dalam pelaksanaan layanan tri-dharma wajib senantiasa memasukkan kepentingan diplomasi budaya untuk kemajuan bangsa.
Baca Juga: Vaksinasi Rabies di Cilegon Sepi, Kesadaran Pemilik Kucing dan Anjing Masih Rendah
Sementara itu Fadli Zon mengatakan bahwa BKSAP merupakan salah satu sayap dari DPR RI yang bertugas untuk diplomasi parlemen yang telah ditentukan oleh Undang-undang. BKSAP sendiri telah banyak aktif pada forum parlemen internasional, regional dan bilateral.
Anggota DPR RI yang bernomor A-86 itu juga sempat menyinggung Banten yang memiliki duta besar di Eropa jauh sebelum Indonesia merdeka, untuk itu menurutnya perlu kajian yang mendalam karena Banten telah berkontribusi besar dalam dunia diplomasi lebih awal.
Baca Juga: Ayu Ting Ting Dicecar 15 Pertanyaan oleh Penyidik Polda Metro Jaya
Di lokasi yang sama, Mardani Ali Sera yang menjadi pemantik diskusi dalam kegiatan tersebut memaparkan, setidaknya terdapat tiga urgensi dalam diplomasi pendidikan yakni meningkatkan attractiveness Indonesia, yaitu unsur-unsur yang akan meningkatkan ketertarikan dan kedekatan terhadap negara dan bangsa Indonesia.
Membuka peluang untuk mendapatkan dan memperluas kerjasama pendidikan dengan pihak luar. Mendapat bantuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan memperkuat kapasitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia agar mampu bersaing di tingkat global. ***


















