BANTENRAYA.COM – Artis Cinta Laura menilai keberpihakan pemerintah terhadap penanggulangan kekerasan seksual masih minim.
Hal itu, kata Cinta Laura terlihat dari masih minimnya upaya pemulihan terhadap korban kekerasan seksual.
Termasuk juga, imbuh Cinta Laura, soal anggaran yang masih sangat minim atau hanya sekitar Rp250 miliar di Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA).
Baca Juga: Jadwal dan Link Live Streaming Liga Inggris Leicerster City vs Arsenal 30 Oktober 2021
Angka itu sangat kecil bila dibanding dengan negara Amerika Serikat yang anggarannya mencapai 1,3 triliun dolar.
Dikutip Bantenraya.com pada Sabtu 30 Oktober 2021 dari kanal YouTube Najwa Shihab program Mata Najwa, Cinta Laura menyatakan banyak faktor masih minimnya perlindungan dan penanganan soal kekerasan seksual yang ada di Indonesia.
“Coba lihat dari segi dana yah, menurut riset aku dana yang diberikan ke Kementerian PPPA kira-kira 250 miliar rupiah,” katanya.
Baca Juga: Diberondong 4 Tuduhan Sekaligus, Zayn Malik Sebut Dirinya Orang yang Tertutup
“Dibandingkan dana yang diberikan kepada organisasi-organisasi kementerian yang sama di US (Amerika Serikat-red) yang berjumlah 1,3 triliun dolar lihat berapa kali lipat bedanya,” ucapnya.
Dari sisi penanganan, papar Cinta Laura, korban kekerasan seksual di Amerika langsung diberikan penanganan hukum, mental, emosional secara gratis sampai pulih.
Bahkan untuk warga di luar Amerika yang yang ada di sana diberikan hal yang sama.
Baca Juga: Wacana Hukuman Mati untuk Koruptor Ditanggapi Ketua KPK
“Saya melihat jika korban kekerasan langsung diberikan penanganan hukum dan mental emosional mental gratis sampai pulih kembali,” ucapnya.
“Bahkan jika bukan warga negara Amerika akan di-cover pemerintah Amerika, dan jika masuk ke pengadilan kalau mereka sudah pulang ke negaranya, mereka diterbangkan kembali ke Amerika,” imbuhnya.
Sementara di Indonesia, menurut Cinta Laura, sudah ada namun masih sangat kurang dan harus dikembangkan lagi.
Baca Juga: Aura Kasih dan Celine Evangelista Lebih Pilih Liburan Naik Gunung: Udara Dingin Enak Sambil Dipeluk
“Bukan saya bilang tidak ada, ada tapi masih sangat kurang dan harus dikembangkan lagi,” imbuhnya.
Faktor lainnya, papar Cinta Laura, apa yang dinamakan Rape Culture terus ada, termasuk media televisi, majalah dan koran dimana pelaku kekerasan seks masih mendapatkan ruang. Bahkan, seringkali korban disalahkan.
“Itu membuat stigma korban takut untuk melaporkan apa yang terjadi, Rape Culture terus ada,” ujarnya.
Di Indonesia, lanjut Cinta Laura, budaya patriarki juga terus berkembang, dimana menempatkan laki-laki yang memiliki peran utama dan mendominasi.
“Budaya partiarki juga terus berkembang di negara kita,” pungkasnya. ***















