BANTENRAYA.COM – Kepala SD Negeri Sadah Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang Luda Sofiah menjadi narasumber dalam gelaran Temu Pendidik Nusantara atau TPN XII di FKIP Untirta Kota Serang.
Kegiatan TPN XII yang dihadiri Luda Sofiah tersebut digelar Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kota Serang bekerja sama dengan Rumpun MIPA FKIP Untirta dan Guru Belajar Foundation dan berbagai mitra kolaborasi lainnya.
Luda sofiah berpandangan bahwa iklim pendidikan saat ini terpaksa dan memaksakan para pendidik untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi.
Melihat hal itu, Luda berharap agar guru-guru menyadari bahwa tupoksi mereka tidak hanya sekadar memenuhi kewajiban semata.
Namun guru juga harus punya kesadaran diri untuk berkolaborasi. Selain itu, para guru juga didorong untuk terus memiliki kreativitas dan kompetensi yang mumpuni untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
“Adapun di zaman digital ini, konten berfungsi sebagai alat yang efektif untuk menyebarkan gagasan, inovasi, dan nilai-nilai yang konstruktif,” ujar Luda pada kegiatan TPN XII di Kota Serang.
Sebelum mengajak yang lain, Luda mencoba melakukan sendiri membuat konten digitial dalam bidang pendidikan dan pembelajaran.
Akan tetapi, kendala timbul saat usaha yang ia lakukan ini belum sepenuhnya diterima atau direspon oleh orang lain.
“Tapi saya tetap antusias, percaya bahwa konten yang menginspirasi akan memberikan pengaruh jangka panjang,” ungkapnya.
Baca Juga: Pengantin Baru Merapat! Ada Kejutan Spesial dari Alfagift, Cek Syarat dan Ketentuannya
“Pada awal perjalanan, saya seringkali merasa kurang dihargai. Konten pembelajaran yang dibagikan di media sosial atau forum sekolah seringkali hanya menerima sedikit penghargaan, bahkan ada yang memandangnya sebagai gaya menunjukkan diri,” ungkap Luda.
Kendati merasakan kelelahan dan kesedihan, Luda memutuskan untuk tidak menyerah. Ia meyakini bahwa nilai-nilai positif perlu terus disebarkan, tidak peduli seberapa kecil tanggapan yang diperoleh.
Untuk itu Luda mencoba mengambil beberapa tindakan untuk dapat menjamin konten yang disampaikan tersebut memiliki relevansi.
Baca Juga: Dua SMK di Kabupaten Lebak Masih Numpang Gedung
“Pertama, memperhatikan konsistensi dan kualitas konten. Kita harus menjamin bahwa konten yang disampaikan memiliki relevansi, memberikan solusi, dan mudah dimengerti,” tambah Luda.
Langkah berikutnya yang ia lakukan adalah melakukan kerja sama dengan pendidik dan siswa. Ia mengikutsertakan pemangku kepentingan sekolah dalam proses pembuatan konten agar lebih inklusif.
Sebagai seorang Kepala sekolah, ia kemudian menggulirkan progran mengenai pentingnya literasi digital.
Ia mengomunikasikan keuntungan dari materi edukasi dalam pertemuan atau lokakarya. Luda juga membangun komunitas pendukung di kelompok kreatif atau forum diskusi untuk saling membantu.
“Secara bertahap, usaha itu mulai menunjukkan hasil yang positif. Konten tersebut mulai banyak dibagikan dan mendapatkan komentar positif dari guru, orang tua, serta sekolah-sekolah lainnya,” tuturnya.
“Semangat kerja sama semakin kuat, banyak pengajar terdorong untuk membuat konten yang sejenis. Bahkan saya kerap menerima pujian dari dinas pendidikan karena menjadi pendorong inovasi digital” ungkap Luda dengan penuh semangat.
Baca Juga: Agar Tidak Menjadi Pecandu Narkoba, Pemuda dan Pelajar Diberi Sosialisassi Bahaya Narkoba
Ia juga melihat para siswa menjadi lebih termotivasi dalam belajar akibat adanya konten-konten kreatif seperti video, infografis, dan sejenisnya.
Luda paham bahwa perubahan tidak terjadi dalam sekejap, tetapi usaha yang gigih dan kesungguhan akan menghasilkan sesuatu yang baik.
Hasilnya, dalam kurun waktu dua tahun, guru yang awalnya alergi IT sekarang sudah mulai menyadari pentingnya mahir IT untuk menunjang proses pembelajaran.
Baca Juga: 197 Peserta Jagoan Safety Riding Honda Diuji Keahliannya
Mereka sudah mulai terbiasa mengoprasikan laptop, menayangkan video pembelajaran, dan juga menggunakan aplikasi. Meskipun sebagian kadang masih harus didampingi oleh guru lain yang lebih terampil.
“Saya juga paham bahwa kepemimpinan itu tidak berkaitan dengan pengakuan, melainkan dengan ketekunan dalam memberikan manfaat yang baik,” tuturnya.
“Tapi saat ini media digital merupakan alat yang sangat efektif jika digunakan untuk tujuan yang baik,” tutupnya. ***



















