Oleh : Hafis Azhari*
Bukti-bukti kebesaran Muhammad Al-Fatih sebagai pemimpin besar Konstantinopel (Turki), terutama karena karakteristik dan penghargaannya yang tinggi terhadap kaum ilmuwan, literasi dan sastra, pembangunan lembaga pendidikan, kesehatan masyarakat, administrasi negara, hingga penghargaannya yang tinggi terhadap penerjemahan karya-karya asing.
Muhammad Al-Fatih yang juga dikenal sebagai Sultan Mahmud II pernah memberikan wasiat kepada anaknya, sambil mengutip pernyataan Imam Ali bin Abi Thalib, bahwa setiap pemimpin harus menyadari posisinya selaku “pelayan” dan “pengelola” bagi kemajuan peradaban dan kemakmuran taraf hidup rakyat yang dipimpinnya.
Al-Fatih menekankan pentingnya menegakkan keadilan, tidak mengangkat orang-orang yang memiliki kesalahan fatal di masa lalu (rekam jejaknya), yakni mereka yang cenderung hedonis dan mementingkan kemegahan duniawi semata.
Baca Juga: Kontraktor Proyek Revitalisasi Stadion Maulana Yusuf Kota Serang Didenda Rp3,8 juta Per Hari
Menurut Al-Fatih, pemimpin macam itu akan mudah tergelincir untuk mengorupsi uang negara (baitul mal). Jika uang negara terhambur bukan dalam peruntukan yang semestinya, di situlah awal-mula munculnya dekadensi moral, hingga pada akhirnya bermuara pada keruntuhan.
Secara redaksional, seakan ada kemiripan antara wasiat Al-Fatih dengan nasihat Ali bin Abi Thalib dalam karya sastranya (Nahjul Balaghah), terutama ketika ia menyurati Gubernur Mesir, Malik bin Harits Al-Asytar (655 M). Meskipun esensinya serupa, namun keduanya bicara dalam konteks zamannya, sesuai dengan problem yang dialami di negerinya masing-masing.
Dalam surat Sayidina Ali terkandung nasihat yang bersifat universal, hingga tetap menjadi valid dalam koteks perpolitikan masakini: “Wahai Malik, saat ini kau menjabat Gubernur pada suatu negeri (Mesir) yang dalam sejarahnya telah berganti-ganti kekuasaan selama berabad-abad, baik pemerintahan yang baik maupun yang buruk. Saat ini, setiap gerak-gerikmu akan diperhatikan rakyat banyak, sebagaimana kamu memerhatikan pemerintah sebelummu. Rakyat akan mengawasimu dengan cermat dan teliti, sebagaimana kamu pernah mengawasi pemerintah sebelummu dengan cermat juga.”
Baca Juga: Baca Shalawat ini di Anjurkan Pagi dan Sore
Dalam pernyataan selanjutnya, terkandung pesan dan saran-saran penting oleh Saydina Ali, bahwa sejarah telah mencatat bagaimanakah tipikal pemimpin baik berikut kesudahannya yang dapat mengukir tinta emas. Lalu, macam apakah pemimpin buruk, dan bagaimanakah nasib kesudahannya. Semuanya itu akibat dari pilihan-pilihan tentang kebijakan yang dibuatnya, apakah sang pemimpin mampu berkomunikasi dan terhubung dengan keadilan rakyat dan kebesaran Tuhan. Ataukah, dia hanya mementingkan citra-diri agar dipandang mulia oleh kelompoknya, dengan mengesampingkan kemuliaannya di mata Tuhan?
Jejak-langkah dan perjalanan hidup Sultan Al-Fatih, sang pemimpin Turki yang pernah dikenal (sebelum Masehi) sebagai Byzantium itu, telah tercatat dengan tinta emas, baik di dunia Timur maupun di Barat. Para sejarawan Barat banyak yang menyandingkan kebesarannya dengan kesatria muslim, Salahuddin Al-Ayyubi yang berhasil menaklukkan Yerusalem pada tahun 1187 Masehi.
Baca Juga: Niat dan Tata Cara Salat Jenazah Perempuan dan Laki-laki dari Ustadz Abdul Somad
Moralitas Salahuddin Al-Ayyubi
Kita masih ingat pesan yang agung dari Saydina Ali untuk menenangkan pengikutnya yang marah akibat tindakan anarkis Kaum Khawarij, yang selalu melakukan kekerasan dengan membawa simbol-simbol agama. “Kita ini bukan masyarakat pendendam. Tak perlu membalas mereka dengan amarah. Toh tidak sama orang yang mencari kebenaran walaupun belum dicapainya, ketimbang mereka yang mencari-cari kesalahan, walaupun sudah berhasil diperolehnya.”
Ungkapan bersayap ini merupakan tafsir yang elegan dari keagungan sifat Nabi Muhammad yang menganjurkan pentingnya akhlaqul adzimah, yang sudah melintasi nilai-nilai akhlaqul-karimah. Dalam surat al-Qalam ayat 4, terungkap kata-kata “wa’innaka la’ala khuluqin adzim”, yang menunjukkan bahwa kemuliaan dan keagungan Rasulullah justru karena kualitas akhlak dan moralitasnya yang tinggi. Sampai-sampai mampu menjawab perilaku jahat yang ditujukan kepadanya, lalu dibalasnya dengan kebaikan.
Baca Juga: Satgas BLBI Kembali Sita Aset Grup Texmaco, Total Sudah Rp15,1 Triliun yang Diamankan
Hal inilah yang membuat para penulis Barat terpesona dengan jejak-langkah Sultan Salahuddin Al-Ayyubi, yang berhasil menaklukkan ego-ego pribadinya dalam menghadapi keganasan musuh-musuhnya. Pejuang muslim yang dikenal rendah-hati ini, setelah menaklukkan Yerusalem, justru menolong Raja Richard, pada saat musuh bebuyutan itu menghadapi situasi sulit lantaran kudanya terbunuh dalam suatu pertempuran. Ketika Raja Richard sakit keras, Sultan Salahuddin mengirimkan dokter-dokternya untuk memberikan pengobatan. Bahkan, beliau sempat menyamar sebagai dokter untuk menjenguk dan mengetahui perkembangan kesehatan Raja Richard.
Pada prinsipnya, esensi ajaran Islam tentang akhlaqul adzimah penting sekali untuk dikedepankan. Literatur Islam dari zaman ke zaman telah mewarisi estetika keindahan yang diakui bersama, baik dari sisi kebenaran dan kejujuran, maupun dari sisi literasi dan kesusastraan. Wacana-wacana yang berkembang selayaknya diarahkan pada jenis literatur yang bermaslahat, hingga dapat menyentuh dan menggugah jiwa semua lapisan masyarakat. Kualitas dakwah dan syiar Islam harus diperjuangkan secara baik dan elegan, hingga dapat menghasilkan penghargaan dan sikap toleransi pada semua pihak.
Baca Juga: Satgas BLBI Kembali Sita Aset Grup Texmaco, Total Sudah Rp15,1 Triliun yang Diamankan
Pindahnya Ibukota Turki
Kita semua tahu bahwa Republik Turki sudah lama menjadi bahan perbincangan para aktivis pergerakan jauh sebelum polemik tahun 1940-an. Pada masa itu, bersamaan dengan kebangkitan Mesir, serta pembebasan Turki dari tentara Sekutu, turut menyemarakkan kebangkitan nasionalisme kita, serta mengobarkan semangat para aktivis pergerakan di Indonesia. Hal ini bukan berarti Indonesia mesti dijadikan negara dengan asas sekularisme yang mencolok seperti di Turki. Soekarno sendiri menegaskan bahwa polemik di seputaran wacana dan opini sekitar tahun 1940-an selayaknya menjadi bahan studi untuk mencari identitas dan format keindonesiaan kita. Namun, wacana yang mengesankan “kehati-hatian” Soekarno masih juga belum ditangkap oleh benak beberapa intelektual muslim yang menghantam opini-opininya saat itu.
Memang sangat kompleks menggambarkan wajah Islam di Nusantara, bagaikan rumitnya Orhan Pamuk – melalui karya sastranya – menuangkan peristiwa kudeta di Turki, yang diselimuti berbagai gerakan separatisme dengan mengatasnamakan agama. Lihat saja suasana Kota Istanbul yang mirip situasi Jakarta menjelang lengsernya kekuasaan Orde Baru. Orhan Pamuk, sastrawan peraih nobel sastra itu, menggambarkan situasi kota yang diselubungi friksi-friksi Islam politik, serta polemik ideologis antara kaum agamawan dan sekuler. Maka, muncullah faksi militer “terselubung”, yang bukannya loyal membantu pemerintah untuk mengamankan situasi, tapi justru membangun kekuatannya sendiri untuk mengambil-alih kekuasaan.
Baca Juga: Satgas BLBI Kembali Sita Aset Grup Texmaco, Total Sudah Rp15,1 Triliun yang Diamankan
Tampilnya Islam sempalan dari wilayah Kurdistan adalah problem serius yang tidak kalah sengit untuk ditangani oleh kekuatan negara. Bagaikan rumitnya pemerintah Soekarno menangani radikalisme di seputar tahun 1950-an, antara pengikut Kahar Muzakkar, Maukar, Kartosuwiryo, hingga Natsir. Bandingkan dengan munculnya fenomena pemuda radikalis seperti Imam Samudera, Amrozi, Ali Imron, Ghufron dan lain-lain. Belum lagi soal meng-counter pemikiran kaum liberal di tubuh PSI (Partai Sosialis Indonesia), yang di kemudian hari mengakui keterlibatannya dalam pergerakan separatisme PRRI-Permesta, bersama CIA di belakang layarnya.
Rakyat Indonesia menyaksikan sendiri, bagaimana peristiwa pengeboman dan penggranatan di halaman Sekolah Rakyat Cikini, tempat Megawati dan Guntur bersekolah (Sabtu, 30 November 1957) yang mengakibatkan 11 orang meninggal di tempat kejadian, puluhan luka-luka segera dilarikan ke Rumah Sakit. Mobil kepresidenan rusak berat, ban depan pecah, kap dan mesinnya hancur berantakan. Bahkan, dua anggota polisi lalu lintas berpangkat brigadir, bernama Ahmad dan Muhammad, tewas dalam tugas mengawal Presiden.
Berbagai versi mengenai jumlah korban dalam peristiwa Cikini, termasuk para korban yang dirawat di rumah sakit, bukanlah hal prinsipil untuk diperdebatkan. Ketika Kartosuwiryo akan dieksekusi mati berdasarkan keputusan pengadilan (1962), Soekarno pada awalnya keberatan untuk menandatangani. Saat itu, sebagai presiden ia menghadapi situasi yang sangat dilematis, mengingat sosok Kartosuwiryo tak lain adalah sahabat dekatnya sewaktu muda. Juga pernah tinggal dalam satu rumah, ketika mereka rajin berdiskusi tentang Islam di kediaman HOS Cokroaminoto di Surabaya.
Baca Juga: Akun Instagram Miliknya dan Emma Waroka Kena Hack, Marissya Icha: Alfatihah!
Tetapi, pada suatu senja selepas melaksanakan salat Magrib, dengan berat hati Soekarno membubuhkan tandatangan. Hal itu didasarkan pilihan seorang presiden untuk menegakkan keadilan. Dan sebagai manusia, alangkah lumrah jika Soekarno menyatakan keputusannya di hadapan publik, disertai rasa perikemanusiaan menyaksikan anak-anak Indonesia yang tewas di hadapannya, karena bom-bom granat yang dilemparkan di tengah keramaian.
Barangkali inilah salah satu alasan penting, bahwa ibukota Jakarta harus segera berpindah ke Nusantara, sebagaimana Istanbul yang terpaksa harus berpindah ke ibukota Ankara hingga saat ini. Wallahu a’lam. **
*(Penulis novel Perasaan Orang Banten, Pikiran Orang Indonesia, dan Jenderal Tua dan Kucing Belang)


















