BANTENRAYA.COM – Heri Kurniawan, warga Desa Kebon, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Banten, mampu menarik perhatian investor dari Jepang di bidang pertanian.
Baru berusia 30 tahun, selain mampu mengoptimalkan lahan miliknya, Heri berhasil membantu para petani di sekitar tempatnya tinggal dan di kawasan Serang utara untuk meningkatkan produktivitas pertanian dari yang awalnya panen hanya 4-4,5 ton per hektare, menjadi 8-9 ton per hektare.
Kepada Banten Raya, Heri mengaku selama ini prihatin dengan hasil produksi para petani di sekitarnya yang kadang tidak sesuai antara biaya produksi yang dikeluarkan dengan hasil yang didapatkan.
Baca Juga: Kubah Masjid Jakarta Islamic Center Kebakaran, Api Berkobar Hingga Kubah Ambruk
Ia kemudian mencoba untuk memperbaiki manajemen pertanian masyarakatnya mulai dari penerapan cara baru bertani, penyediaan alat mesin pertanian, obat hama, dan sebagainya yang kerap biayanya ditanggulangi terlebih dahulu oleh Heri.
Tak disangka, usahanya tersebut membuahkan hasil dimana para petani bisa panen optimal dan bisa mengembalikan dana yang sebelumnya mereka pakai.
Heri juga kerap mengajak dan mengkampanyekan para pemuda untuk terjun menjadi petani milenial. Saat ini, hampir mayoritas petani yang ada di Kabupaten Serang dan juga Indonesia adalah mereka yang usianya sudah mulai senja. “Siapa lagi kalau bukan kita, kalau bukan para pemuda. Bertani adalah salah poin utama ketahanan pangan bagi bangsa, serta untuk bahan pokok kebutuhan sehari-hari,” kata Heri.
Baca Juga: Harga Kedelai Selangit, Omset Penjual Tempe di Pasar Badak Menurun
Apa yang dilakukan Heri ternyata menarik minat petani Jepang bernama Ifsano. Ifsano menyatakan siap memberikan investasi baik dari sisi teknologi pertanian maupun softskill kepada Heri dan masyarakat sekitar.
Sejumlah anggota kelompok Heri sudah dimintta untuk bersiap mengikuti pelatihan di Jepang yang dibiayai oleh Ifsano dan Mastani, yang memang memberikan perhatian lebih kepada para petani muda.
“Saya juga tidak tahu awalnya, tiba-tiba orang Jepang datang dengan lembaga Mastani karena kagum melihat saya bertani dengan hasil meningkat dan masih muda bertani. Makanya orang Jepang pengin ngelihat langsung ke lokasi,” kata Ketua Kelompok Tani Tunggal Tani ini.
Heri yang terlahir dari orangtua petani mengaku sangat senang melihat peluang tersebut. Apalagi, di daerahnya banyak pemuda yang kehilangan mata pencarian sebagai dampak pandemi Covid-19 dan menjadi kesempatan bagi mereka untuk maju berkembang.
“Petani yang saya bina 64 hektare untuk milenial. Sayangnya belum pernah disentuh oleh pemerintah untuk alat pengelola tanah dan mesin pemotong padi. Kadang petani juga butuh alat pengelola tanah yang lebih ringan biaya,” kata dia. ***


















