BANTENRAYA – Kegitan galian tanah di Kecamatan Curugbitung dikeluhkan pengguna jalan dan warga sekitar. Galian tersebut berada dibeberapa titik di Kecamatan Curugbitung di antaranya di Cilayang, Pasir Buah, dan di Cilawang.
Ketua Gerakan Mahasiswa Kecamatan Curugbitung (GMKC), Sujai mengatakan, dampak negatif dari galian tanah di Curugbitung sangat banyak di antaranya membuat sekitar wilayah tersebut gersang karena kehilangan pepohonan, jalan yang berdebu saat kemarau, jalan licin ketika hujan, dan sopir yang bandel memarkirkan truk tanah di pinggir jalan.
“Memang betul semua warga Curugbitung merasa terganggu dengan adanya galian yang ada di beberapa titik,” katanya kepada Banten Raya, Senin 26 September 2022.
Ia menjelaskan, tahun lalu ada Tim Satgas Galian yang bertugas untuk mengatur sopir-sopir yang parkir dibahu jalan dan menerima aduan dari masyarakat.
“Dulu mah Tim Satgas Galian selalu menghentikan operasi sementara ketika hujan. Namun, sekarang sepertinya tidak berjalan dikarenakan kurangnya dukungan dari Pemerintah Kecamatan Curugbitung,” jelasnya.
Masih kata Sujai, pada tahun 2019 kegiatan galian dilakukan dan tahun 2021 pernah di tutup oleh Satpol PP Kabupaten Lebak.
“Sempat ditutup oleh pihak Satpol PP Lebak, karena ada beberapa galian tanah yang tidak memiliki izin oprasi. Setahu kami yang sudah memilik izin baru Pasir Buah,”ujarnya.
Baca Juga: Butuh Pembuktian Lebih Hemat, Pemerintah Mesti Masifkan Uji Coba Konversi Elpiji ke Kompor Listrik
Atas nama warga Sujai berharap agar galian tersebut ditutup jika tidak mentaati ketentuan yang ada. “Seperti berhenti operasi ketika hujan, tidak parkir di badan jalan dan beroperasi di jam 22.00 WIB sampai jam 04.00 WIB agar tidak mengganggu aktifitas warga dan pengguna jalan lainnya, dan bertanggung jawab penuh terhadap warga apabila terjadi kecelakaan akibat galian tersebut,” harapnya.
Sementara itu, pengendara motor yang biasa melintas di lokasi galian, Bagas menuturkan, merasa terganggu karena aktifitas galian tanah di sekitar Daerah Curugbitung mengganggu kenyamanan pengendara.
“Kalau sedang panas jalan pasti berdebu. Kalau hujan jalanan jadi licin dan rawan kecelakaan, terus pohon juga pada hilang. Dasar mah cuacanya yang kaya gini (tidak menentu), ditambah kegiatan galian yang menyebabkan wilayah ini gersang,” tuturnya.
Baca Juga: SEGERA TUKARKAN! Kode Redeem FF Free Fire 27 September 2022 untuk Dapatkan Sejumlah Item Menarik
Bagas berharap pengusaha galian patuh aturan jangan sampai merugikan masyarakat sekitar. “Informasinya ada yang belum memiliki izin beroperasi dan baru sampai izin lingkungan saja. Saya harap kalau memang belum punya izin tolong segera tempuh,” harapnya. (mg-sahrul) ***














