BANTENRAYA.COM – Organisasi Islam Haqqul Mubien Indonesia atau HMI melaksanakan Musyawarah Nasional atau Munas I 2022.
Munas I dilaksanakan di Aula Dinas Kesehatan atau Dinkes Kabupaten Serang, Kota Serang, Sabtu 17 September 2022.
Munas dilaksanakan untuk menetapkan ketentuan atau kebijakan persoalan agama dalam perspektif Haqqul Mubien Indonesia.
Baca Juga: Ketua Dewan Pers Meninggal Dunia, Ini Penyakit yang Dideritanya
Ketua Umum Haqqul Mubien Indonesia Pusat, Ustadz Nur Arifin mengatakan, HMI sudah diakui keberadaannya oleh pemerintah pusat.
“Kita sudah diakui keberadaan kita oleh Kemenkumhan. Sudah terlegislasi,” ujar Nur Arifin, kepada Banten Raya.
Nur Arifin menjelaskan, Munas dilaksanakan untuk menyatukan persepsi dari masing-masing jamaah HMI. Penyamaan persepsi agar menjadi satu tekad untuk menghadapi orang yang jauh dari sinar kehidupan, sehingga bisa menjadi tenang.
Baca Juga: Mengapa Pemuda Asal Madiun Ini Menjual Channel Telegram Kepada Bjorka? Berikut Penjelasannya
“Jadi semua anggota HMI bisa menjadi tenang. Selamat hidup di dunia dan akhirat,” jelas dia.
Nur Arifin mengungkapkan, setiap provinsi sudah ada Haqqul Mubien Indonesia seperti di Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, Banten.
“Yang sampai menyeberang itu dari rekrutmen saya itu dari Palembang, Riau. Ada bahkan di Sulawesi yang sampai mau nyalon walikota,” akunya.
Nur Arifin menjelaskan, salah satu pembahasan dalam Munas adalah soal logo Haqqul Mubien Indonesia, yang hingga saat ini masih ada dua logo.
“Dari Provinsi Banten dan Jawa tengah. Kita akan sepakati bersama-sama, kira-kira mana yang bisa mengajukan argumen yang lebih kuat. Yang lebih kuat itu yang kita ikuti,” ucap dia.
Nur Arifin menerangkan, pembuatan logo Haqqul Mubien Indonesia, bukan dilihat dari jumlah peserta yang mendukung, tetapi apa makna filosofi dari logo tersebut.
“Karena logo bukan sekedar logo, tapi logo adalah simbol pergerakan kita,” terangnya.
Selain membahas logo, pihaknya pun membahas program kerja salah satunya mendirikan pondok pesantren-pesantren.
“Kita dinaungan HMI ini akan mendirikan pesantren-pesantren yang ahli ilmu in syaa Allah.
Tak hanya itu, lanjut Nur Arifin, pihaknya pun akan gencar melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang keberadaan HMI.
“Keberadaan kita mengenalkan bahwa Islam itu benar melalui HMI. Bukan pengakuan Islam saja, tapi bisa melaksanakan nikmatnya Islam. Setiap orang islam harus bisa merasakan nikmatnya Islam. Karena Islam itu sungguh nikmat,” kata Nur Arifin.
Nur Arifin menyebutkan, HMI dibentuk pada 15 Juli 2006 di Kota Serang. Walaupun usia
HMI baru seumur jagung, namun pihaknya optimistis sepak terjang HMI akan hampir sama dengan ormas Islam lainnya.
“Tapi sepak terjangnya in syaa Allah kita akan hampir sama,” ucap Nur Arifin optimis.
Nur Arifin menjelaskan, perbedaan HMI dengan ormas Islam lainnya adalah, bila Muhammadiyah ahli sunnah, NU ahli sunnah waljamaah, sedangkan HMI membentuk manusia-manusia pribadi yang ahli sunnah wal jamaah, bukan organisasinya yang sunnah waljamaah.
“Jadi kita punya ciri khas tersendiri. Jadi organisasi kita in syaa Allah semuanya pembentukan pribadi-pribadi yang ahli sunnah wal jamaah. Sesuai apa yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW,” tandasnya.
Ketua Panitia Munas I Haqqul Mubien Indonesia, Dadang Priatna menuturkan, jamaah Haqqul Mubien Indonesia yang ikut Munas perwakilan dari masing-masing daerah di seluruh Indonesia.
“Masing-masing provinsi. Tidak semuanya bisa hadir. Mungkin ada halangan. Yang hadir ada dari Jogja, Jawa Tengah, Banten, ada dari Palembang sudah sampai di Jawa Tengah. Tapi untuk ke sini belum bisa hadir,” tutur Dadang Priatna.
Munas I HMI dihadiri oleh Pembina HMI Pusat KH Aai Saefurrohman, KH Ahmad Jaelani Syarim, dan perwakilan pengurus HMI dari seluruh Indonesia. ***



















