BANTENRAYA.COM – Data stunting di Kota Serang tidak sinkron dengan data stunting dari survei status gizi Indonesia (SSGI).
Terkait data stunting ini diungkapkan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Serang Nanang Saefudin usai mengikuti zoom meeting bersama Kementrian Dalam Negeri perihal percepatan penurunan stunting di kantor Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Kota Serang, Rabu 6 Juli 2022.
Sekda Kota Serang Nanang Saefudin mengatakan, berdasarkan SSGI stunting di Kota Serang sekitar 23,8 persen atau keempat tertinggi di kabupaten kota se Provinsi Banten.
“Tapi kalau kita melihat SSGI kan tidak melihat by name by address. Artinya by name itu nama balitanya, alamatnya dimana. Jadi itu hasil survei saja. Dan itu dilakukan setiap tahun,” ujar Nanang Saefudin, kepada Bantenraya.com.
Baca Juga: Wajib Diketahui oleh Kaum Hawa, Berikut 4 Kriteria Suami Idaman
Bila berdasarkan data faktual, kata Nanang Saefudin, ada sekitar 56 ribu balita sasarannya.
“Tapi yang disinyalir bahwa stunting itu hanya 1.895 orang atau kalau dipresentasikan sebenarnya sekitar 2,56 persen,” ucap dia.
Nanang Saefudin mengatakan, stunting menjadi masalah nasional, karena stunting ini berkaitan dengan generasi yang akan datang.
“Jangan sampai generasi ini lost. Sehingga mungkin Kota Serang melakukan berbagai upaya dan tentu saya sependapat yang disampaikan oleh kepala BKKBN, tadi juga narasumber dari Pak Gubernur Riau, bahwa kerja ini adalah kerja keroyokan,” katanya.
Nanang Saefudin menjelaskan, Pemkot Serang secara kontinyu melakukan intervensi untuk menekan stunting.
Penanganan stunting bukan hanya milik Dinas Kesehatan (Dinkes) atau DP3AKB, akan tetapi semua organisasi perangkat daerah (OPD) bergerak.
“Ditambah juga OPD yang lain seperti PU. Kebanyakan kan masalah stunting ini tidak bisa bicara masalah parsial. Misalnya sanitasinya, maka itu menjadi tugas PU, kita juga membuat WC komunal, WC bersama. Jadi dari hulu sampai ke hilir itu kita garap bersama-sama,” jelas Nanang Saefudin.
Baca Juga: Percepat Vaksinasi Hewan di Kabupaten Serang, TNI-Polri Bakal Dilatih Jadi Vaksinator
Termasuk juga, kata Nanang Saefudin, koordinasi dengan Kemenag. Menurut Nanang Saefudin, masalah yang utama itu biasanya paling banyak anak-anak menderita stunting itu, karena pernikahan yang terlalu muda.
“Secara peraturan perundangan-undangan kalau tidak salah 19 tahun untuk perempuan. Jadi sebelum perkawinan itu ada pendampingan bagaimana usia produktif,” ungkap dia.
Nanang Saefudin yang Ketua TAPD Kota Serang juga menyebutkan, tahun ini TAPD menggelontorkan anggaran untuk penanganan stunting sebesar Rp 36 miliar, karena stunting program utama Pemkot Serang.
“Dan kita alokasikan anggaran secara terus-menerus setiap tahun, tahun 2022, Rp 36 miliar. Tersebar di seluruh OPD. Ada di Dinkes,” sebutnya.
Baca Juga: Berhasil Selamatkan PT KS, Ini Pendapat Tokoh Ulama Banten Tentang Silmy Karim
Nanang Saefudin menuturkan, pertama terendah adalah Kota Tanggerang 15,3 persen, lalu Kota Tangsel 19,9 persen, Kota Serang Cilegon 20,6 persen, Kabupaten Tanggerang 23,3 persen, Kota Serang 23,4 persen, Kabupaten Serang 27,2 persen. Kabupaten Lebak 27,3 persen, dan Kabupaten Pandeglang 37,8 persen.
“Tadi dari BKKBN berharap bahwa tahun 2024, stunting itu diharapkan turun pada angka 14 persen. Mudah-mudahan kita sedang menuju golnya 14 persen,” tutur Tata.
Menurut Nanang Saefudin, penanganan stunting bukan hanya tugas pemerintah daerah saja, melainkan yang paling terpenting keikutsertaan masyarakat.
“Sekarang fasilitas-fasilitas kesehatan sudah kita siapkan. Ada puskesmas, posyandu. Bahkan kader posyandu kita berikan semacam reward setiap bulan. Kalau memang harus ditingkatkan lagi honornya ya kita tingkatkan lagi. Agar ada stimulus,” katanya.
Nanang Saefudin mengungkapkan, data stunting di Kota Serang yang valid sekitar 2,58 persen. Namun berdasarkan data SSGI angka stunting di Kota Serang 23,4 persen.
Baca Juga: Jelang Lebaran Haji, Komplotan Pencuri Kerbau Beraksi di Serang
Nanang Saefudin menginginkan tahun depan stunting di Kota Serang terus menurun.
“Kita inginnya pada kisaran angka sekitar 17 atau 18 persen. Tapi kan ini yang survei dari SSGI. dan itu hanya dari 56 ribu dia hanya ngambil sample 400,” ucap dia.
“Kalau sementara data Dinkes DP3AKB itu. Kalau kita datanya valid. By name by address jelas. Data tahun 2021. Yang valid. Jadi ada data hasil SSGI. Ada data yang memang valid dari kita. 2021 hingga Juli 2022,” beber Nanang Saefudin.
Nanang Saefudin mengaku pihaknya sudah banyak melakukan upaya untuk menekan angka stunting. Misalnya empowering, pemberdayaan, dinas Disperindagkop bagaimana masyarakat-masyarakat miskin itu agar dientaskan kemiskinannya tidak miskin secara struktural.
“Tentu ini diberikan semacam guiden atau pendampingan dan datanya ada di masing-masing kelurahan,” kata Nanang Saefudin.
Nanang Saefudin pun berharap keterlibatan CSR dapat memberikan kontribusi untuk percepatan penurunan angka stunting di Kota Serang.
Baca Juga: Sinopsis One Piece Episode 1024, Mister Kemunculan Oden
“Ini makanya saya imbau tadi. Kita perlu mengumpulkan juga beberapa para investor atau dunia usaha yang punya profit kita kumpulkan lalu kita kumpulkan anggaran nya. Lalu pada intervensi mana anggaran itu kita alokasikan.
Tapi ini perlu bukan hanya semata-mata anggaran juga, tapi yang paling penting kan ini bagi masyarakat adalah mind set, sikap mental cara berfikir masyarakat itu sendiri,” tandasnya. ***














