Oleh: H Yasin Muthahar
Salah satu pelajaran penting dari Madrasah Ramadan adalah menumbuhkan kebiasaan positif. Ramadan mengajarkan kita untuk membiasakan hal-hal positif.
Kebiasaan ini dilakukan bukan satu atau dua kali, tapi berulang-ulang secara continue selama sebulan penuh. Jika kita melaksanakan rangkaian amaliah ibadah dan sikap positif selam bulan Ramadan dengan penuh kesadaran, maka pasti amaliah ibadah dan sikap positif tersebut akan menjadi kebiasaan yang melekat dalam diri kita, sulit dihilangkan.
Kita akan terbiasa melakukannya tanpa paksaan dan berpikir panjang. Inilah yang dikenal dengan istilah “HABIT”.
Imam Ghazali menyebutnya akhlak. Dalam panadangan Imam Ghazali, akhlak adalah sifat yang tertanam melekat di dalam jiwa yang melahirkan sikaf secara otomatis, alami tanpa rekayasa.
Inilah salah satu faidah kenapa ibadah puasa diwajibkan selama satu bulan penuh, bukan satu hari-dua hari.
Ada sebuah penelitian yang menyimpulkan bahwa jika kita terus-menerus melakukan suatu aktivitas lebih dari 16 kali, maka aktivitas tersebut akan menjadi kebiasaan yang sulit dihilangkan.
Islam mengajarkan kepada kita untuk menjadikan ibadah dan segala hal yang diperintahkan Allah sebagai “HABIT” kita.
Kita diperintahkan untuk membaca surat Al Fatihah secara berulang-ulang dalam salat kita setiap hari sebanyak 17 kali. Jika orang-orang yang membaca surah Al Fatihah, membacanya dengan penuh kesadaran dan penghayatan maka nilai dan prinsip yang diajarkan dalam ummul kitab ini pasti akan menjadi HABIT yang sulit untuk dilepaskan.
Kita juga diajarkan untuk berzikir kepada Allah setiap pagi dan sore secara continue, tujuannya agar menjadi kebiasaan kita untuk berzikir setiap saat. Kita diajarkan berzikir dan berdoa bukan hanya ketika sulit namun juga ketika lapang.
Dalam QS An-Nisa ayat 136 Allah memerintahkan orang yang beriman untuk beriman kepada Allah
Kenapa orang yang sudah beriman diperintahkan untuk beriman? Apakah ini tidak sia-sia? Apakah ini tidak berarti memerintahkan sesuatu yang telah terjadi?. Maksud perintah beriman dalam ayat ini adalah bukan sekedar beriman tapi jagalah iman,terus meneruslah beriman. Seolah-olah Allah hendak menyampaikan pesan “Wahai orang-orang yang beriman jagalah imanmu terus-meneruslah beriman, sehingga iman menjadi HABIT-mu.”
Dalam surat Al Fatihah kita berdoa kepada Allah. “Tunjukanlah kami ke jalan yang lurus!.”
Bukankah setiap yang membaca surat Al Fatihah dalam salat sudah mendapatkan petunjuk?. Kenapa mereka meminta ditunjukan oleh Allah pada agama Islam, bukan mereka sudah memeluk Islam?.
Yang dimaksud memohon petunjuk di sini adalah memohon kepada Allah agar ditetapkan dalam petunjuk, agar terus-menerus ada dalam petunjuk agama. Sehingga agama Islam atau jalan yang lurus menjadi kebiasaan yang melekat dalam hidupnya.
Rasulullah SAW juga pernah bersabda: “Dan sesungguhnya amal yang paling disukai Allah adalah amal yang terus menerus meski sedikit.” (HR. Bukhari)
Sesuatu jika telah menjadi habit atau akhlak secara otomatis akan menjadi karakter yang melekat di dalam diri kita. Kebiasaan melakukan ketaatan yang dilakukan secara terus-menerus akan menumbuhkan karakter ketaatan dalam diri kita.
Ramadan mengajarkan karakter-karakter kebaikan yang harus ada dalam diri setiap muslim untuk menuju puncak kemuliaan. Di antara karakter tersebut adalah keikhlasan, ketaatan, kepedulian dan kedermawanan, kebersamaan dan persatuan, kesabaran dan pengorbanan.
Untuk membentuk habit takwa yang akan melahirkan karakter takwa dalam diri kita dan dalam kehidupan masyarakat perlu ada lingkungan yang mendukung seperti di bulan Ramadan.
Ketaatan menjadi mudah dijalankan karena banyak faktor pendukung yang memudahkan kita melakukan kebaikan-kebaikan. Allah membuka pintu langit, membuka pintu surga menutu pintu neraka, membelenggu syetan.
Bukankah ini pengkondisian? Semua orang secara individual memiliki semangat untuk menjadi orang baik di bulan Ramadan ini, semua ingin meningkatkan ketaatan dan kedekatan dengan Allah, bukankah ini kondisi yang mendukung?
Begitu juga lingkungan kaum muslimin di bulan Ramadan ini ikut andil melakukan cipta konisi ketaatan, bahkan media sosial-pun tidak ketinggalan. Meme, video, siaran, quote terkait Ramadan tersebar begitu massif.
Sangat indah, jika di luar Ramadan kita memiliki lingkungan yang mendukung untuk selalu taat dan mendekat, semua individu memiliki kesadaran untuk taat sperti di bulan Ramadan. Media dan pemerintah-pun menjadi pengawal ketaatan. Sehingga segala kebaikan yang kita lakukan di bulan Ramadan menjadi kebiasaan kita sehari-hari.
Kita sangat merindukan, di mana sifat-sifat orang bertakwa dari ibadah puasa, membaca Al Quran, qiyamul lail, bersedekah, berdakwah hingga berjihad menjadi kebiasaan kita dalam hidup ini.
Semoga Ramadan tidak berlalu begitu saja tanpa meninggalkan bekas dalam hidup kita. Semoga kita bisa memetik segudang kebaikan yang kita biasakan di bulan yang mulia ini. ***


















