BANTENRAYA.COM – Itikaf menjadi ibadah yang diutamakan saat Ramadhan, terutama 10 hari terakhir. Dibandingkan saat malam hari, itikaf ternyata disunahkan dilakukan saat seseorang menjalani puasa.
Hal itu agar puasa seseorang terhindar dari berbagai maksiat dan perbuatan yang menggugurkan pahala puasa.
Hal itu juga, agar saat berpuasa seseorang lebih memperbanyak ibadah salat sunnah, dzikir, salawat dan berdoa kepada Allah.
Dikutip BantenRaya.Com dari islam.nu.or.id, dijelaskan Mushtofa Said Al Khin dan Mushtofa Al Bugha, dalam kitab Al Fiqh Al Manhaji ala Al Mazhab Al Imam As Syafi’i, ada 4 sunnah saat seseoarang melakukan itikaf.
Yakni pertama menyibukkan diri dengan melaksanakan ketaatan pada Allah, seperti berdzikir, membaca Al-Quran dan diskusi keilmuan. Sebab melaksanakan hal-hal ini akan menuntun terhadap maksud dari pelaksanaan itikaf.
Kedua, dilakukan saat berpuasa. Sebab, sesungguhnya itikaf dalam keadaan berpuasa itu lebih utama dan, kuat dalam memecah syahwat hawa nafsu, dapat memfokuskan pikiran dan menyucikan hati.
Baca Juga: 7 Ucapan Hari Kartini Tahun 2022 Terbaru dan Inspiratif, Cocok Dibagikan di Media Sosial
Ketiga, melaksanakan itikaf di masjid jami atau masjid yang didirikan shalat Jumat.
Keempat, tidak berbicara kecuali perkataan yang baik. Ia tidak diperkenankan untuk mengumpat, menggunjing, adu domba, dan perkataan yang tidak ada gunanya.
Namun, bukan berarti itikaf dilakukan saat malam Ramadhan juga tidak baik. Sebab, itikaf malam juga sama baiknya jika dikerjakan dengan amalan sunah lainnya.
Bahkan, dalam satu riwayat Rasullah SAW juga pernah mengganti itikafnya 10 hari Ramadhan di bulan syawal berdasarkan riwayat, Beritikaf di luar bulan Ramadhan, dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah r.a.:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ فَكُنْتُ أَضْرِبُ لَهُ خِبَاءً فَيُصَلِّي الصُّبْحَ ثُمَّ يَدْخُلُهُ فَاسْتَأْذَنَتْ حَفْصَةُ عَائِشَةَ أَنْ تَضْرِبَ خِبَاءً فَأَذِنَتْ لَهَا فَضَرَبَتْ خِبَاءً فَلَمَّا رَأَتْهُ زَيْنَبُ ابْنَةُ جَحْشٍ ضَرَبَتْ خِبَاءً آخَرَ فَلَمَّا أَصْبَحَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى الْأَخْبِيَةَ فَقَالَ مَا هَذَا فَأُخْبِرَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَالْبِرَّ تُرَوْنَ بِهِنَّ فَتَرَكَ الِاعْتِكَافَ ذَلِكَ الشَّهْرَ ثُمَّ اعْتَكَفَ عَشْرًا مِنْ شَوَّالٍ
Baca Juga: Cara Buat Akun Kartu Prakerja Gelombang 27 di HP Lengkap dengan Syaratnya
Dari Aisyah r.a. berkata, “Nabi SAW biasa beritikaf sepuluh hari terak¬hir dari bulan Ramadhan, kemudian aku memasang tirai untuk beliau, lalu beliau mengerjakan shalat Subuh, kemudian beliau masuk ke dalamnya. Hafsah kemudian meminta izin pada Aisyah untuk memasang tirai, lalu Aisyah mengizinkannya, maka Hafsah pun memasang tirai. Waktu Zainab binti Jahsyi melihatnya, iapun memasang tirai juga. Pagi harinya Nabi s.a.w. menjumpai banyak tirai dipasang, lalu beliau bertanya: “Apakah memasang tirai-tirai itu kamu pandang sebagai suatu kebaikan?”. Maka beliau meninggalkan itikaf pada bulan itu (Ramadhan itu). Kemudian beliau beritikaf pada sepuluh hari dari bulan Syawal (sebagai gantinya)”. (Hadis Shahih, riwayat al-Bukhari: 1892 dan Muslim: 2007).
Demikian keutamaan itikaf yang dianjurkan dilakukan saat Ramadhan terutama menjalani puasa, semoga bisa bermanfaat dan mendapatkan keberkahan saat Ramadhan. (***)



















