BANTENRAYA.COM – Baru-baru ini Perdana Menteri Australia Scott Morrison menyampaikan kekhawatirannya tentang renacna Presiden Rusia Vladimir Putin untuk hadiri pada kegiatan KTT G20 di Indonesia tahun ini.
Kekhawatiran Scott Morrison tentang kehadiran Presiden Rusia Vladimir Putin di acara KTT G20 disampaikannya pada saat konferensi pers pada Kamis 24 Maret 2022.
Dikutip bantenraya.com melalui Reuters bahwa Scott Morrison mengatakan bahwa kehadiran Presiden Vladimir Putin dalam agenda KTT G20 merupakan gagasan yang gila.
Scott Morrison menegaskan apa yang dilakukan Putin adalah kejahatan perang terhadap Ukraina
“Gagasan untuk duduk satu meja dengan Vladimir Putih, bagi saya adalah langkah yang terlalu jauh,” ujar Perdana Menteri Australia tersebut.
Baca Juga: dr Zaidul Akbar Ungkap 8 Manfaat Bunga Telang, Salah Satunya Bantu Obati Kanker
Sebagai informasi, Australia telah memutuskan bergabung dengan sekutu dan memberlakukan sanksi terhadap 33 pebisnis Rusia, pada Senin 14 Maret 2022 yang lalu.
Hal ini dilakukan oleh Australia mengingat invasi Rusia ke Ukraina yang terus berlangsung dan sulit menghentikan peperangan.
Sebelumnya, Duta Besar Rusia untuk Indonesia Lyudmila Vorobieva menyatakan bahwa Putin bermaksud untuk menghadiri KTT G20 yang akan diselenggarakan di Indonesia akhir tahun ini.
“Tidak hanya G20, banyak organisasi berusaha untuk mengusir Rusia, reaksi Barat benar-benar tidak proporsional,” ungkap Lyudmila pada Rabu 23 Maret 2022, kemarin.
Invasi Rusia ke Ukraina sejak 24 Februari 2022 hingga saat ini belum menemukan kesepakatan damai.
Baca Juga: Ukraina Gunakan Teknologi Clearview Al untuk Identifkasi Mayat Tentara Rusia
Sehingga membuat beberapa negara memberlakukan sanksi terhadap Rusia, mulai dari Amerika Serikat, Australia hingga Jepang.
Hal ini pula yang membuat Rusia dilarang oleh Amerika Serikat dan sekutu untuk hadir dalam KTT G20 yang akan berlangsung di Indonesia akhir tahun ini.
Sebagaimana keterangan Reuters bahwa Amerika Serikat dan sekutu Baratnya sedang menilai apakah Rusia harus tetap berada dalam Kelompok Dua Puluh ekonomi utama setelah invasi ke Ukraina.
Tampaknya konflik Rusia dan Ukraina masih jauh untuk sampai pada kesepakatan damai.***




















