BANTENRAYA.COM – Sejarah Kejatuhan Khilafah Mekah layak kita ketahui karena sarat makna dan pelajaran.
Dalam sejaharhnya, Syarif Mekah atau masa kejayaan Khilafah Mekah jatuh setelah srangan Raja Abdul Aziz bin Saud Dari Najd.
Baca Juga: Kejurda Kempo Dewa Dewi Cup, Ajang Untuk Cetak Atlet Berprestasi untuk PON 2024
Kejadian jatuhnya Syarif Mekah terjadi pada tahun 1924 dimana kala itu Raja Abdul Aziz bin Saud dari Najd menyerang Mekah dan mengambil alih kota Mekah dengan bantuan kerabat Syarif Husein yakni Khalid bin Luay.
Abdul Aziz bin Saud juga mengambil alih kota Jeddah pada tahun 1925.
Ini semua mengakibatkan jatuhnnya kerajaan Hijaz, dengan Ali bin Husain sebagai raja terakhirnya.
Jatuhnya Kerajaan Hijaz sudah bisa diprediksikan, karena Raja Husain bin Ali menolak deklarasi Balfour yang dilakukan oleh Inggris.
Baca Juga: Cari Tempat Nongkrong dengan Pemandangan Sawah? Yuk ke Cafe Bumi Cisalam Serang
Pada deklarasi itu, Inggris menyatakan bahwa Palestina adalah tanah yang akan diberikan pada kelompok Zionis.
Pihak Inggris menawarkan banyak subsidi pada Raja Husain agar mau menerima deklarasi Balfour itu, tapi Raja Husain tetap menolaknya sampai tahun 1924.
Setelah itu, Inggris menghentikan tawaran subsidi itu. Tidak lama kemudian, Raja Abdul Aziz bin Saud dari Najd mulai menyerang kerajaan Hijaz dengan bantuan pihak Inggris, dan serangan ini menyebabkan jatuhnya kerajaan Hijaz.
Perlu diketahui, Syarif Mekah adalah gelar yang diberikan pada Gubernur yang memerintah tanah suci Mekah, Madinah dan daerah Hijaz di sekitarnya.
Nama gelar Syarif ini sebenarnya diambil dari nama gelar kehormatan keturunan Muhammad dari jalur Hasan bin Ali bin Abi Thalib.
Ini sesuai dengan tradisi umat Islam, yaitu memberikan gelar Syarif dan Maulay pada keturunan Muhammad yang berasal dari jalur Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra, dan memberikan gelar Sayyid atau Habib dan semua variannya pada keturunan Muhammad yang berasal dari jalur Hussain bin Ali bin Abi Thalib.
Setelah jatuhnya kerajaan Hijaz (yg berfaham Aswaja) pada tahun 1924 dimulailah keraajan Hijaz versi Raja Abdul Aziz bin Saud (yang menyokong faham Wahabi Muhammad bin Abdul Wahhab dan menjadikan wahabi sebagai faham resmi kerajaan Hijaz versinya/skrg disebut Negara Saudi) hingga sekarang.
Syarif Husain yg berfaham aswaja, zdurriyat Rosul, dan menerapkan sistem pemerintahan khilafah (1916-1924) tidak cukup kuat untuk menjaga Islam yg berfaham aswaja.
Karena saat itu aswaja di tangannya tidak sempat di buatkan wadah (nizhom atau organisasi) sebagaiman aswaja NU di Indonesia.
Umat Islam berpaham Aswaja di Indoneia yang terwadahi oleh jam’iyyah (organisasi) NU yg hidup di NKRI merasa bersyukur.
Baca Juga: Baru!Link Download Logo Harlah NU Ke-96 PNG dan JPG Secara Gratis dan Beraneka Ragam
“Jadikan sejarah kerajaan Hijaz ini sbg pelajaran berharga,bahwa aswaja ditengah realitas beragam faham yang sudah terstruktur, sistematis dan terorganisir jangan kita merasa aman dan nyaman, tidak menutup kemungkinan lambat laun faham aswaja kita bisa terkalahkan dan bahkan lenyap dengan adanya gerakan faham-faham di luar aswaja seperti yang terjadi di Saudi Arabia yang dulu aswaja skrg berubah menjadi wahabi,” kata KH Khozinul Asror Pimpinan Ponpes An Nizhomiyah, Jiput, Pandeglang, Banten mengutip dari sejarah besar Aswaja. ***



















