BANTENRAYA.COM – Ketegangan di kawasan Timur Tengah antara Iran dan Israel yang turut melibatkan Amerika Serikat berdampak pada sektor penerbangan regional seperti kegiatan umrah.
Sejumlah maskapai melakukan penyesuaian rute dan pemantauan ketat terhadap jalur udara yang berdekatan dengan wilayah konflik.
Di tengah situasi tersebut, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia (Kemenhaj RI), mengimbau agar calon jemaah untuk menunda keberangkatan umrah sebagai langkah antisipatif demi keselamatan warga negara Indonesia.
BACA JUGA: Kemenhub Siapkan Ribuan Armada Mudik Lebaran, Jutaan Kapasitas Penumpang Disediakan
Salah satu Mitra Samira Travel, Agus mengatakan hingga saat ini belum ada penutupan akses umrah dari pemerintah Saudi.
Oleh karena itu, pihaknya masih berpegang pada jadwal yang telah direncanakan, sembari terus memantau perkembangan terbaru.
“Kalau dibilang khawatir ya tentu khawatir ya. Tapi kami terus pantau informasi aja, dan untuk saat ini kami masih terus meng-update informasi baik dari Kemenag, Kemenhhaj, Maskapai, dan juga pemerintah Saudi. Karena sejauh ini dari pihak pemerintah Saudi tidak menutup bagi jemaah yang mau umrah,” ujarnya.
BACA JUGA: Bazar Murah Ramadan, Walikota Cilegon Berharap Inflasi di Kota Baja Bisa Terkendali
Agus menuturkan, pihaknya mengakui jika adanya imbauan untuk menunda keberangkatan sempat membuat ragu para jemaah.
Akan tetapi, menurutnya, keputusan final tetap mempertimbangkan kondisi penerbangan dan situasi keamanan mendekati waktu keberangkatan.
“Meskipun memang ada imbauan untuk menunda keberangkatan, tapi kami terus meng-update informasi dan berkomunikasi dengan pihak maskapai sampai dengan waktu keberangkatan,” katanya.
Agus mengatakan, untuk saat ini, sebanyak 30 jemaah telah terdaftar dan direncanakan berangkat pada akhir Maret 2026. Pihak travel berharap kondisi geopolitik segera stabil sehingga perjalanan ibadah dapat berlangsung tanpa hambatan.
“Saat ini kami sudah ada 30 jemaah yang terdaftar dan rencana akan berangkat di akhir Maret 2026. Mudah-mudahan situasi bisa kondusif dan jemaah bisa beribadah dengan tenang,” ujarnya.
Terkait potensi pembatalan, Agus menyebut belum ada jemaah yang mengajukan pengembalian dana. Ia menilai komunikasi intensif dan transparansi informasi menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan jemaah.
“Kalau refund sejauh ini belum ada, karena kami juga sampaikan bahwa kami akan terus memastikan dan terus berikan informasi kepada jemaah. Harapannya bisa semuanya kondusif dan sesuai dengan rencana,” katanya.
Lebuh lanjut, ia juga memastikan jika pihaknya belum melakukan penyesuaian tarif tiket atau penyesuaian harga paket. Akan tetapi, jika terjadi perubahan akibat situasi global, pihaknya akan segera menyampaikan kepada jemaah.
“Kalau penambahan (biaya,-red) belum ada. Kalau pun nanti ada penambahan akan kita informasikan kepada calon jemaah. Tapi kita upayakan untuk semuanya bisa sesuai dengan schedule,” tandas Agus. ***
















