BANTENRAYA.COM – Sebuah musala di Kampung Cinagasari, Desa Pasir Gintung, Kecamatan Cikulur masih berdiri kokoh.
Lokasi musala itu berdekatan dengan proyek Tol Serang-Panimbang seksi II Kilometer 56.
Musala tersebut maish berdiri lantaran hingga kini masih dalam proses pembebasan oleh pihak berwenang.
Baca Juga: Walikota Serang Mulai Proses Pemberhentian, Wakil Walikota Sah Diberhentikan dari Jabatannya
Manajer Bidang Pengembangan Sistem dan Usaha PT Wika Serang-Panimbang,
Muhammad Albagir membenarkan keberadaan musala tersebut.
Ia menjelaskan, pembebasan lahan di sekitar musala sangat berbeda dengan milik warga sehingga sampai sekarang masih belum beres.
“Ya memang belum dibongkar, kami terkendala oleh pembebasan lahan, soalnya lahan disitu status tanah wakaf,” ujarnya kepada Bantenraya.com, Rabu 1 November 2023.
“Pembebasannya berbeda dengan tanah milik warga biasa karena harus melibatkan nadzir dan lain-lain, sehingga memang memakan proses lebih lama,” katanya.
Ia mengungkapkan, dari informasi terakhir yang didapatkannya, Surat Perintah Pembayaran (SPP) lahan tersebut sudah terbit.
“Saat ini dalam proses pembayaran oleh LMAN (Lembaga Manajemen Aset Negara),” ungkapnya.
“Kami harapkan setelah seluruh proses formal-nya telah selesai, maka akan segera dilakukan eksekusi,” ucap Muhammad.
Baca Juga: Jadi Cawapres Paling Miskin, Segini Harta Kekayaan Gibran Rakabuming Raka
Ia mengaku, sejak tahun 2022 sampai 2023 lahan milik warga sekitar sudah diberikan kompensasi berupa pembayaran pembebasan lahan.
“Kalau lahan milik Warga, sebagian sudah dilakukan pembebasan dan diberikan UGK (Uang Ganti Kerugian),” ujarnya.
“Kami WIKA Serang Panimbang selaku Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) bisa melakukan eksekusi di Bidang lahan/bangunan yang sudah dibebaskan dengan dokumen formil yang dapat dipertanggung jawabkan secara hukum,” paparnya.
Sementara itu, salah seorang mantan warga setempat, Askom mengatakan, sekitar 20 rumah milik warga di Desa Paris Gintung sudah diberikan kompensasi.
“Betul memang Musala disitu belum di bongkar, warga pindah ke berbagai daerah, kalau saya ke Rangkasbitung,” tandasnya.
Ia mengaku, atas pembebasan lahan warga setempat sempat bingung akan pindah kemana.
“Sekarang mah pada pisah, kemana-mana sih pindahnya. Cuma kalau musala statusnya kan wakaf jadi belum dibongkar sampai sekarang,” terang Askom. ***



















