BANTENRAYA.COM – Dalam momentum hari menggambar nasional, Banten Art Community (BAC) menggelar pameran seni rupa bertajuk Jejak Masa di Lingkungan Dukuh Malang, Kecamatan Purwakarta, Kota Cilegon.
Penasihat dan Kurator Banten Art Community Indra Kesuma mengatakan, pameran yang digelar tidak hanya mengandung nilai seni, melainkan juga bernilai ekonomi. Dari masing-masing lukisan, harga yang dibanderol berbeda-beda, mulai dari Rp3,5 juta-Rp7 juta.
Ia menyampaikan, perbedaan harga tersebut dapat dilihat dari detail lukisan yang dibuat, ukuran lukisan, bahkan jam terbang pelukis pun ikut serta diperhitungkan. Beberapa hal tersebut menentukan kulialitas dan harga.
Baca Juga: Contoh Soal Tes Akademik CAT Bintara Polri 2022 Beserta Jawabannya, Sebagai Bahan Latihan
Baca Juga: 8.105 Guru Jalani Program PGP, Apa Itu?
“Kalau ada yang tertarik dengan lukisan kami, ya tentu kami jual. Tapi tidak bisa diambil di tempat pameran langsung. Pembeli harus bersabar, nanti lukisannya kita yang akan kirim ke pembeli,” kata Indra kepada Banten Raya, Kamis (19/5).
Ia menjelaskan, dari 29 karya yang dihadirkan pada pameran tersebut, para apresiator akan menemukan beberapa corak yang berbeda.
Misalnya pada karya Kei dengan judul Raden Saleh yang menggambarkan seorang tokoh seni rupa romantis Indonesia, merupakan karya bercorak realis media tinta China dengan sapuan kuas yang halus.
Karya Fadlil Amin bercorak surealis dengan judul ‘Pertahanan Terakhir’ lebih menggambarkan kegelisahan pada perubahan kota yang ditinggalinya. Pergeseran kebudayaan lokal sebagai jati diri menjadi budaya industri.
Baca Juga: Visi Misi Pemprov Belum Tercapai, DPRD Banten Dorong Pembangunan SKh NegeriBaca Juga: Ketum Golkar: KIB Melanjutkan Kesuksesan Pembangunan Presiden Jokowi
Baca Juga: Banggar DPR Setujui APBN 2022 Jadi Rp3.106 Triliun, Subsidi BBM, Elpiji dan Listrik Ditambah
H. Mukti Jayaraksa lewat kaya kaligrafi berjudul Jangjawokan Jatidiri lebih menggambarkan lima unsur manusia dengan tulisan Arab pegon.
Dan Mhaex Maranoes dengan gaya kartun berjudul Pesta Muludan. Menangkap peristiwa budaya peringatan maulid nabi Muhammad SAW yang dilaksanakan setiap tahun.
MT. Harsana dalam karyanya berjudul Senja di Baduy memanfaatkan garis minimalis, menangkap secara spontan kesan senja di kampung pedalaman Baduy.
Baca Juga: Ketum Golkar: KIB Melanjutkan Kesuksesan Pembangunan Presiden Jokowi
Baca Juga: Sinopsis dan Link Nonton Wedding Agrement The Series Episode 9 Tari Melihat Sarah dan Bian Bertemu
Sedangkan IndraKesuma dengan guratan graffity bertekstur dengan media campuran, mendepormasi huruf kuno Sumatera Selatan untuk menggambarkan kekagumannya pada nabi Muhammad SAW.
Lebih lanjut ia bercerita, jika menengok ke belakang tentang pergerakan masyarakat dalam seni menggambar, sudah dilakukan sejak beratus tahun yang lalu. Membuat garis penghubung antara yang hidup dan yang mati. Antara yang fisik dan tak fisik, menjadikan bahasa gambar sebagai jalan spiritual yang membangun sebuah keyakinan pada kekuatan sang pencipta alam.
Menurutnya, dunia menggambar bukanlah dunia yang asing pada setiap orang. Bahkan, di era modern gambar tidak lagi menjadi sesuatu yang sakral, melainkan sudah menjadi cara untuk menghibur dan berkreasi.
Baca Juga: Sinopsis Wedding Agreement The Series Episode 9 Lengkap Dengan Jadwal Tayang
Baca Juga: Link Nonton Wedding Agreement The Series Episode 9 Amy Resmi Dilamar
“Semua orang dapat melakukannya tanpa adanya larangan. Bahkan sekarang ini banyak orang yang menjadikan gambar sebagai profesi pilihan, sehingga gambar menjadi sesuatu yang menyenangkan,” tutur Indra.
Kegiatan pameran tersebut akan berlangsung hingga 31 Mei 2022. Ia menuturkan, tema Jejak Masa terinspirasi dari peristiwa-peristiwa budaya masa lalu yang masih ada dalam keseharian atau tertinggal dalam kenangan.***



















