BANTENRAYA.COM – Pemerintah Desa Harjatani, Kecamatan Kramatwatu memperkuat program ketahanan pangan dengan ternak lele dan budidaya melon dengan sistem green house.
Program ketahanan pangan tersebut dikelola langsung oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Cipta Mandiri Harjatani dengan sistem perawatan yang cukup baik.
Kepala Desa Harjatani Sofan mengatakan, kedua unit usaha tersebut sudah dikelola dengan sangat baik oleh BUMDes.
BACA JUGA: Pendaftaran KIP-Kuliah 2026 Resmi Dibuka, Sediakan 200 Ribu Kuota untuk Mahasiswa Kurang Mampu
“Jadi fokus kita adalah menjadikan usaha ini bernilai di masyarakat. Kita ada dua jenis usaha yakni ternak lele dan budidaya melon yang kualitasnya premium,” ujarnya, Kamis 19 Februari 2026.
Ia menjelaskan, usaha yang dijalankan tersebut sangat memperhatikan kualitas perawatan yang maksimal dan dikontrol secara rutin.
“Mudah-mudahan yang kita fokuskan ini berjalan mulus. Karena kita buat usaha ini juga dibantu oleh tim-tim ahli di bidangnya,” katanya.
Ketua BUMDes Cipta Mandiri Harjatani Budi Santoso mengatakan, awalnya budidaya lele tersebut dijalankan oleh pemerintah desa sebelum akhirnya dikelola BUMDes.
“Bulan September 2025 dibentuk BUMDes. Kemudian kita mendapatkan modal 20 persen dari dana desa. Itu dia membuat dua ketahanan pangan, yaitu budidaya lele sama melon,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dari dana desa sebesar Rp245 juta itu dikelola dengan sangat baik untuk mengelola 10 kolam ternak ikan lele dan budidaya melon dengan sistem green house.
“Kalau lele ada 13 kolam, yang tiga itu untuk sortir dan yang 10 kolam itu kita lele dengan benih kita tebar kurang lebih 10 ribu ekor. Jadi perkolam itu ada 1.000 ekor,” katanya.
Budi menuturkan budidaya lele tersebut dirawat dengan sangat baik dari mulai kualitas air, pemberian nutrisi dan pakan pada ternak lele.
“Airnya dari sumur, pakannya itu langsung dari pabrik. Artinya secara kualitas lebih baik dan airnya higienis untuk lele karena enggak ada kontor-kotornya sama sekali,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, hasil panen lele dijual ke warga Desa Harjatani dengan harga yang lebih murah dibandingkan harga yang dijual di pasaran.
“Biasanya kalau dibeli di pasar Rp25.000, yang sudah bersih itu Rp28.000 per kilogram. Tapi hasil kesepakatan kita jual ke masyarakat dengan harga Rp23.000. Jadi manfaatnya kembali untuk masyarakat” paparnya.
Sementara itu, untuk budidaya melon sendiri sudah berjalan selama 43 hari dan rencananya akan dipanen lima hari setelah hari raya Idul Fitri.
“Panjang green house itu sekitar 30 meter, terus lebarnya 11 meter. Itu ada sekitar 1.100 dan kita dibantu oleh ahlinya yang bergerak di budidaya melon. Cuma hasilnya enggak bagus karena saat tanam cuacanya hujan deras,” tuturnya. ***
















