BANTENRAYA.COM – Chef Aan Kanjani yang berusia 47 tahun yang saat ini menjabat sebagai Executive Chef di Hotel Horison Ultima Ratu Serang, menjadi chef dari Banten yang berhasil masuk menjadi salah satu chef terbaik dalam kompetisi Indonesia International Halal Chef Competition atau IN2HCC yang digelar oleh Bank Indonesia pada 14 September 2024 lalu.
Kompetisi bergengsi tingkat internasional tersebut, memertemukan professional chef mancanegara untuk menghidangkan kuliner halal terbaik.
Untuk sampai pada titik saat ini, Aan memulai karirnya dalam dunia kuliner berangkat dari seorang tukang cuci piring atau dishwasher selama enam bulan.
“Saya merintis karir ini dari nol, dari cuci piring naik ke kelas helper dari sejak tahun 1999 dan sampai saat ini banyak pengalaman yang saya lalui dan alhamdulillah menjadi Chef Executive di Horison Serang,” kaga Aan kepada Bantenraya.com, di Jalan K.H. Abdul Hadi Nomor 66 Cipare, Kota Serang, Kamis 19 September 2024.
Baca Juga: Jadwal Festival Maulid Nusantara Kota Tangerang, Diselenggarakan di Masjid Raya Al Azhom
Dalam kompetisi IN2HCC, Aan membawa menu khas dari Banten yakni emping, nasi gonjleng dan rabeg.
Berbekal pengalamannya tersebut, Dia mampu mengkreasikan hidangan lokal itu sehingga nampak menarik dan lezat.
“Konsep yang saya bawa itu, rabeg yang biasanya dimasak dengan bumbu secara bersamaan saya inovasikan dengan membuat dagingnya di slace seperti steak, kemudian bumbu rabegnya dituang secara terpisah saat hendak dihidangkan,” ucapnya.
Dengan demikian, Aan yang berkesempatan untuk mengikuti kompetisi IN2HCC lanjutan dan akan kembali bersaing untuk masuk dalam tahap selanjutnya yang akan digelar di Thailand pada bulan Oktober mendatang.
“Jadi dari 5 orang ini semua chef hebat salah satunya dari Hotel Vermont, dari juara 1,2,3 langsung masuk ke tahap selanjutnya sementara saya harus kembali masuk ke putaran kedua,” jelas pria kelahiran Jakarta itu.
Untuk menjadi seorang chef profesional, Aan menyebut tekad kuat dan mentalitas tinggi untuk bersaing sangat dibutuhkan, ketika terjun dalam dunia F&B sebagai modal yang utama.
“Diibaratkan, memasak ini merupakan fashion yang harus dijalankan dengan sungguh-sungguh. Sama seperti bernyanyi orang bernyanyi semua bisa, namun tidak semua orang bisa menjualnya, perlu diasah dibandingkan yang lain, sebab menjadi seorang chef juga harus memiliki nilai seni,” paparnya.
Selain menekuni bidang chef, Aan juga memiliki keahlian sebagai konsultan restoran. Dimana semua proses merancang restoran mulai dari nol sampai dipasarkan ia kuasai dengan baik.
Baca Juga: Berikut 3 Cara Mencegah Stunting, Nomor 1 Sering Disepelekan
“Jadi untuk membuat restoran juga tidak sembarang, ada yang namanya produk yang akan dijual, konsep restoran yang akan diusung, standar operasional prosedur (SOP) restoran, proses rekrutmen, sampai pada segmentasi pasar yang akan dituju. Semua tersebut saya dapatkan dari pengalaman nol menjadi cuci piring tadi sampai paham kepada budgeting dan lain sebagainya,” tutur Aan.
Bagi Aan, mampu mengkreasikan atau menciptakan menu sendiri adalah kepuasan tersendiri bagi seorang Chef.
Hal tersebut, tentu saja memerlukan jam terbang dan pengalaman yang mumpuni.
“Saya sangat puas ketika menu yang saya kreasikan itu disukai oleh konsumen. Misalnya saya pernah membuat mie ayam bangka, saat itu ada tiga orang dalam satu keluarga memesan makan di tempat, dan tertarik untuk dibungkus mereka bilang untuk dimakan lagi saat dirumah, ini menjadi kepuasan untuk saya pribadi,” kata Aan.***
















