BANTENRAYA.COM – Data pernikahan di bulan haji atau Dzulhijjah tepatnya setelah Idul Adha meningkat tajam di Kota Cilegon.
Peningkatan tersebut bisa sampai 40 kali lipat dibandingkan bulan sebelumnya mulai dari Ramadhan hingga Dzulhujjah.
Biasanya dalam bulan dipertengahan anatara Ramadhan dan Dzulhujjah angka pernikahan rata-rata hanya 3 sampai 5 orang atau hanya belasan saja. Namun, untuk Dzulhijjah biasanya meningkat hingga 40 orang.
Baca Juga: Telkomsel Gandeng Cloud dan MCASH, Adopsi Teknologi Sidik Jari
Kepala KUA Kecamatan Cibeber yang juga Plt Kepala KPU Kecamatan Jombang Holilurrohman menjelaskan, karena KUA tipe C maka biasanya hampir rata-rata 600 saja yang menikah. Memang biasanya dari Ramadhan sampai Dzulhijjah atau sebelum lebaran pasti sedikit.
“Karena saat Ramadhan itu paling 3 orang sampai 5 orang saja. Bulan selanjutnya juga paling belasan. Tapi setelah lebaran itu pasti antara 40 lebih yang menikah,” katanya, Jumat 21 Juni 2024.
Kholil menjelaskan, baik di Kecamatan Cibeber atau Kecamatan Jombang angkanya relatif sama ada kebaikan signifikan untuk jumlah menikah setelah Lebaran Idul Adha.
Baca Juga: Antusiasme Warga Citangkil Membludak, SMPN 14 Cilegon Jadi Target Utama PPDB
“Sama saja di Cibeber dan Jombang. Angkanya rata-rata sampai 40 pasangan. Kalau mau dirata-rata itu satu koma sekian lah, tapi kalau dua itu kurang,” jelasnya.
Hal sama disampaikan Kepala KUA Kecamatan Cilegon Halil, meski tidak sebanyak Cibeber dan Jombang, angka pernikahan yang sudah dicatatkan meningkat tajam.
“Rata-rata 30 lah. Ini karena jumlah penduduk di Kecamatan Cilegon lebih sedikit dibandingkan Cibeber apalagi Citangkil banyak penduduknya,” imbuhnya.
Baca Juga: KUOTA TERBATAS! Link Pendaftaran Banten 5K Fun Run Periode Early Bird, Diskon Harga Tiket Menanti
Untuk banyaknya setelah lebaran, paparnya, karena ada perspektif hadis jika ada larangan menikah diantara dua khutbah.
Padahal sebanarnya yang dimaksudkan bukan khutbah Idul Fitri dan Idul Adha. Tapi memang khutbah dalam waktu shalat, baik itu Salat Idul Fitri, Salat Idul Adha dan Jumat.
“Mungkin ada perspektif yang berbeda soal itu,” imbuhnya.
Ditambah lagi, ujarnya, biasanya warga meminta dulu ke kiai dan ulama untuk tanggal baiknya.
“Ada juga yang meminta ke ahli marifat,” ujarnya.
Meski menungkat, jelas Halil, biasnya padat saat akhir pekan yakni Sabtu dan Minggu.
“Ada 5 lebih bisa saat Sabtu dan Ahad (Minggu-red),” pungkasnya. ***















