BANTENRAYA.COM – Pandemi Covid-19 terutama di masa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat PPKM membuat para pelaku seni musik di Kabupaten Serang, Provinsi Banten kehilangan job.
Selain mereka kehilangan job, di antara pelaku seni musik bahkan ada yang tidak bisa makan sampai tiga hari.
Salah satu pelaku seni musik Khalid Hidayat mengatakan, hampir seluruh pelaku seni musik di Serang-Cilegon merasakan dampak dari adanya pendemi Covid-19.
Baca Juga: Pasien Covid-19 di RSDP Serang Tersisa 10 Orang, Ruang Perawatan Mulai Dikurangi
“Di awal-awal pandemi banyak bookingan untuk di acara resepsi pernikahan dan acara-acara yang lain seperti pesta pada dibatalkan,” ujar Hidayat, Kamis 9 September 2021.
Pimpinan group musik Mahesta itu menuturkan, banyak di antara pelaku seni musik yang terpaksa banting setir berjualan online, jual pecel dan yang lainnya, bahkan ada yang terpaksa menjadi pengamen dan menjadi kuli bangunan.
“Karena rata-rata temen kami ini enggak punya keahlian yang lain dan hanya bisa bermain musik saja, jadi begitu ada Covid-19 ini mereka kesulitan mencari nafkah. Bahkan ada teman saya dia pemain melodi datang ke rumah saya sambil nangis bilang sudah tiga hari istrinya enggak bisa masak karena enggak ada yang dimasak,” ungkapnya.
Baca Juga: Mengenal Sosok Yuliani, Petani Cantik Produsen Beras Sultan hingga Diekspor Sampai Korea
Pria Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang yang juga usaha menyewakan jasa peralatan pesta dan fotografer itu menuturkan, yang lebih memprihatinkan lagi bagi para pelaku seni musik mereka harus membayar angsuran ke bank.
“Rata-rata kita untuk beli peralatannya usahanya pinjam ke bank. Kalau saya di Bank BRI dan pihak bank tidak mau tahu angsuran harus tetap dibayar, padahal untuk makan sehari-hari saja kita kewalahan. Terus tidak ada kebijkan dari pemerintah untuk penundaan pembayaran angusuran ini,” paparnya.
Hidayat berharap ada kebijakan dari pemerintah pusat dan daerah agar memberikan keloggaran khsusunya kepada pelaku seni musih agar bisa manggung kembali sehingga mereka tidak menganggur lagi.
“Selama PPKM ini kita benar-benar kehilangan job karena masuyarakat yang mengadakan pesta pernikannya juga enggak berani mengundang kita. Padahal, biasanya kalau lagi musim nikah begini kita padat job,” katanya. ***

















