BANTENRAYA.COM – Jalan Cadas Pangeran, berada di sebelah barat Kota Sumedang yang dilalui Jalan Raya Bandung-Cirebon yang dikenal banyak sekali mitos dan sering terjadinya kecelakaan.
Jalan Cadas Pangeran dibangun tahun 1809 pada masa penjajah Belanda, sejak menancapkan kuku kolonialismenya di bumi Nusantara.
Jalan Cadas Pangeran yang berada tujuh kilo meter di barat daya Kota Sumedang, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat meluas hingga ke daerah lain di luar Kota Tahu tersebut.
Baca Juga: MAKIN BERANI! PKL di JLS Cilegon Jual Miras di Siang Bolong, Lokasinya Tidak Jauh dari Masjid
Kontur Jalan Cadas Pangeran dipandang berbahaya lantaran memiliki tikungan berkelok tajam, juga sejumlah tanjakan dan turunan curam.
Salah satu sisi Jalan Cadas Pangeran berhadapan dengan jurang menganga yang di bawahnya terhampar hutan yang cukup lebat.
Sementara di sisi lainnya berdiri tebing cadas tinggi yang ditumbuhi pepohonan rapat sebagai dikutip Bantenraya.com dari jabarprov.go.id.
Baca Juga: Wadidaw! Bill Gates Prediksi Bakal Ada Pandemi Selanjutnya Setelah Covid-19, Kapan Tepatnya?
Ketika malam tiba di Jalan Cadas Pangeran ini, terbilang sepi karena tidak ada permukiman warga di sekitar sisi jalannya.
Tercatat, banyak kecelakaan terjadi di ruas jalan ini, para pengendara mesti ekstra waspada dan berhati-hati saat melewatinya.
Sejak awal pembangunanya, Jalan Cadas sudah banyak menelan korban jiwa, sekitar 5.000 orang pekerja kehilangan nyawa akibat bekerja rodi.
Baca Juga: Hasil Pilkades Citasuk Kabupaten Serang Berpotensi Dibatalkan, Kenapa?
Mereka dipaksana mengikis perbukitan berlereng curam dan terjal serta memangkas material batu cadas yang keras hanya dengan peralatan dan kemampuan serba terbatas.
Para pekerja di jalan ini di zaman kolonial Belanda diberi perbekalan tidak sepadan.
Pekerja dapat terjatuh dari atas tebing, dijangkiti penyakit, hingga dimangsa binatang buas di tengah hutan belantara.
Baca Juga: Tarif Resmi Bus Labuan-Kalideres adalah Rp30 Ribu, Kalau Lebih Gimana?
Di area sekitar Cadas Pangeran terdapat beberapa makam dengan batu nisan tanpa nama.
Makam-makam tersebut diyakini warga setempat merupakan tempat peristirahatan terakhir para pekerja paksa atau rodi pada masa Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Herman Willem Daendels.
Daendels memerintahkan pembangunan Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan tahun 1808, sebagian kecil di antara ruas jalannya melewati kawasan Cadas Pangeran.
Baca Juga: Warga Lebak Ramai Mencoba Jalan Tol Serang-Rangkasbitung
Di sekitar kawasan Cadas Pangeran terdapat batu yang juga diyakini masyarakat setempat sebagai petilasan Pangeran Kornel atau Pangeran Kusumadinata IX.
Ia adalah sosok Bupati Sumedang yang menentang kesewenang-wenangan Daendels terhadap masyarakat Sumedang yang menjadi pekerja paksa pada pembuatan Jalan Cadas Pangeran.
Sejarah kelam yang meliputi jalan Cadas Pangeran dalam pembuatannya pada zaman penjajahan Belanda memperkuat julukan seram pada Jalan Cadas Pangeran.
Kendati sekarang telah berkurang, banyak mitos dan cerita mistis yang dituturkan dari mulut ke mulut penduduk sekitar Jalan Cadas Pangeran.
Dikutip Bantenraya.com dari bacaterus.com, seorang kuncen atau juru kunci Jalan Cadas Pangeran mengungkap soal Jalan Cadas Pangeran.
Menurutnya, jalan raya yang banyak dilalui kendaraan besar maupun kecil tersebut bisa tetap berdiri kokoh di lereng pegunungan berkat adanya senjata trisula yang digunakan sebagai penyangga. Trisula itu “disusupi” tiga siluman ular, kera, dan harimau.
Baca Juga: Geledah BPN Lebak, Polda Banten Amankan Dua Boks Barang Bukti
Konon katanya, bila ada orang yang angkuh, sombong, dan tak mempercayai keberadaan mereka, maka dia akan didatangi langsung mahluk tak kasat mata itu.
Di bagian Jalan Cadas Pangeran ada pula sebuah pipa bambu yang mengalirkan air bersih.
Menurut kabar yang beredar, air yang mengalir dari pegunungan itu bukan air biasa, melainkan air yang dikeramatkan.
Diyakini air tersebut berkhasiat menyembuhkan penyakit dan air itu memiliki wangi yang berbeda dari air kebanyakan.
Warga setempat juga menyebutkan, di lokasi sekitar tempat air tersebut kerapkali muncul ular raksasa.
Kabarnya ada seorang sopir yang mengalami kecelakaan lantaran mencoba menghindari sang ular yang badannya membentang menghalangi jalan raya.
Baca Juga: Besok, Gubernur Umumkan Besaran UMP Banten 2022
Mitosnya, ular besar yang diduga berjenis piton atau boa tersebut hidup di dasar jurang di samping Jalan Cadas Pangeran.
Sang ular disebutkan memakan mayat sisa korban kecelakaan atau pembunuhan dan pada zaman dahulu memakan mayat korban kerja paksa pembuatan jalan.
Selain itu mitos lainnya, ketika Cadas Pangeran belum seramai sekarang, beredar mitos bahwa pengendara dan warga yang melewati jalan raya tersebut harus menyalakan dan melempar rokok atau koin ke jurang di pinggir jalan.
Baca Juga: Pleno UMP Banten 2022 Buntu, Dewan Pengupahan Ajukan Dua Angka ke Gubernur
Hal ini semacam exit permit atau izin untuk melintas agar tak diganggu mahluk astral penghuni Jalan Cadas Pangeran.
Semua mitos dan mistis serta misteri di seputaran kawasan Jalan Cadas Pangeran pada akhirnya dikembalikan kepada kepercayaan masing-masing individu.
Hal paling penting saat melewati kawasan Jalan Cadas Pangeran harus meningkatkan kewaspadaan, berhati-hati lewati jalan ini.
Baca Juga: Tak Perlu ke Pasar, Cek Harga Bahan Pokok Cukup dengan Aplikasi Sembako
Kemudian selalu berdoa dan memohon perlindungan Tuhan yang Maha Esa. ***




















