BANTENRAYA.COM – Doa merupakan kekuatan bagi muslim yang beriman. Banyak doa yang diriwayatkan dalam Al Quran dan Hadits, Namun, sebaik-baik doa adalah yang sesuai dengan redaksi yang dipanjatkan oleh Rasulullah Muhammad SAW.
Dikutip dari situs nu.or.id, doa yang dipanjatkan oleh Rasulullah merupakan doa yang mengandung makna ‘jawami’ ‘al-kalim’ atau komprehensif, ringkas, dan penuh makna.
Bahkan, dengan menggunakan doa yang diucapkan Rasulullah adalah bentuk mengikuti sunnah dan petunjuknya.
Baca Juga: Tak Punya Sumber Air Bersih, Warga Dua Kecamatan di Lebak Banyak Pakai Air Sungai Ciberang
Berikut merupakan doa-doa Rasulullah yang berasal dari Al Quran:
Pertama, tercantum dalam surat Ali Imran ayat 26-27:
“Wahai Allah, Pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Engkau berikan rezeki kepada siapa yang Engkau kehendaki tanpa perhitungan.” (Ali Imran:27).
Baca Juga: Siswa SMP Negeri 12 Cilegon Curhat ke Walikota, Minta Gedung Sekolah Baru
Menurut Imam Ath Thabrani, menggunakan asma Allah yang agung. Jika digunakan untuk bermunajat maka keinginan orang yang berdoa akan terkabul (Tafsir Ibnu Katsir, II: 30).
Kedua, tercantum dalam surat Al Isra ayat 80:
“Ya Tuhanku, masukkan aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkan (pula) aku ke tempat keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisiMu kekuasaan yang dapat menolongku)” (QS Al-Isra: 80).
Baca Juga: Jadwal Liga Champions Tengah Pekan Ini, Ada PSG vs Manchester City dan Juventus vs Chelsea
Doa di atas merupakan perintah bermunajat kepada Allah saat hijrah dari Makkah ke Madinah.
Ibnu Abbas mengatakan bahwa saat Nabi berada di Makkah beliau diperintahkan untuk hijrah ke Madinah.
Riwayat lainnya dikatakan Imam al Dhahhak, jika doa ini mengandung arti tentang hijrahnya Nabi dari Makkah ke Madinah dan kembalinya ke Makkah dalam keadaan aman di hari Fathu Makkah. (Tafsir al Qurthubi, X: 313).
Baca Juga: Negara Ini Usik Lagi Soal Pelanggaran HAM Papua di Sidang PBB, Begini Jawaban Perwakilan Indonesia
Redaksi ayat tersebut dapat digunakan baik ketika hendak melakukan sesuatu maupun ketika perjalanan yang diridhoi oleh Allah.
Ketiga, tercantum dalam surat Al-Isra ayat 111:
“Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak (pula) mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia tidak memerlukan penolong dari kehinaan dan agungkanlah Dia seagung-agungnya” (QS Al-Isra: 111).
Diriwayatkan Imam Ibnu Katsir, jika Rasulullah mengajarkan ayat ini kepada keluarganya, baik kepada anak kecil maupun yang dewasa.
Baca Juga: Launching Resep Nenek Cake and Bakery, Tawarkan Roti yang Sehat Untuk Diabetes
Bahkan, menurutnya, Nabi menamakan ayat ini dengan ayat Al-Izz atau kemuliaan. Dinyatakan pula, sebagian atsar menyebutkan jika ayat ini dibaca pada malam hari di sebuah rumah, maka rumah tersebut tidak akan disatroni pencuri atau terjadi kecelakaan di dalamnya. (Tafsir Ibnu Katsir: 131).
Keempat, tercantum dalam surat Thaha ayat 114:
“Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku” (QS Thaha: 114)
Kelima, tercantum dalam surat Az-Zumar ayat 46:
“Ya Allah, Pencipta langit dan bumi, yang mengetahui segala yang ghaib dan yang nyata, Engkaulah yang memutuskan di antara hamba-hamba-Mu tentang apa yang selalu mereka perselisihkan” (QS Az-Zumar: 46).
Syekh Sayyid al Thanthawi mantan grand Syekh al-Azhar menyatakan, dalam tafsirnya maksud dari ayat ini adalah menghibur Rasulullah, dari apa yang dilakukan oleh kaum musyrik kepadanya, sebagai penjagaan dari tipu daya kaum musyrik, sebagai ajaran kepada hamba-hamba-Nya atas wajibnya berlindung kepada Allah Swt agar terhindar dari tipu daya musuh-musuh mereka. (al Thanthawi, Tafsir al-Wasith: 232).
Ayat ini merupakan permohonan yang tidak ditolak oleh Allah. Dimana Sa’ad bin Jubair mengatakan,“Sungguh aku mengetahui bahwa tidaklah seorang hamba membaca ayat ini, kemudian meminta kepada Allah (yang dia inginkan) kecuali Allah mengabulkannya”.
Ayat ini juga bisa dibaca ketika mendengar pertikaian yang mengakibatkan kematian, seperti kasus Sayyidina Husain dengan Yazid bin Muawiyah.
Diriwayatkan bahwa ketika berita terbunuhnya al-Husain bin Abi Thalib sampai kepada al-Rabi bin Khaitsam, beliau membaca doa tersebut. (Tafsir al-Qurthubi, VX: 265).
Keenam, tercantum dalam surat Al Baqarah ayat 201:
“Ya Tuhan kami, berikan kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kamu dari azab neraka” (QS al-Baqarah: 201).
Imam Ahmad bin Hanbal berkata: Ismail bin Ibrahim menceritakan dari Abdul Aziz bin Shuhaib, dari sahabat Anas, dia berkata: doa yang paling banyak dipanjatkan oleh Nabi adalah doa di atas.
Selain itu, doa ini juga dapat digunakan sebagai terapi pengobatan bagi penyakit yang diderita seseorang.
Suatu ketika, Nabi mengunjungi orang sakit., kemudian menanyakan kepadanya tentang doa yang dia minta kepada Allah. Laki-laki itu menjawab bahwa dia memohon kepada Allah, jikalau harus mendapatkan siksa di akhirat, maka dia berharap agar siksa tersebut disegerakan di dunia saja. Nabi pun menimpali dengan membaca tasbih seraya berkata:
“Kamu tidak akan mampu (memikul derita di dunia), sebaiknya panjatkan saja doa ini: Robbana Atina Fiddunya Hasanah, Wafil Akhirati Hasanah Waqina Adzabannar, maka laki-laki tersebut mengamalkan doa ini, dan dengan izin Allah penyakitnya dapat sembuh. (Tafsir Ibnu Katsir/1/ 559).
Ketujuh, tercantum dalam surat Al Mu’minun ayat 118:
“Ya Tuhanku, berilah ampunan dan (berilah) rahmat, Engkaulah pemberi rahmat yang terbaik” (QS Al Mu’minun: 118).
(Ditulis Ustadz Moh Fahrurrozi, Founder Al-Quran Khairu Jalis yang dikutip dari situs nu.or.id berjudul Doa-doa Nabi Muhammad yang Termaktub dalam Al Quran bagian 1). ***



















