BANTENRAYA.COM – Kejadian tragis yang dialami seorang keluarga dalam peristiwa stadion Kanjuruhan Malang.
Keluarga yang bernama Ahmad Wahyudi bersama istrinya Sulastri, salah satu korban peristiwa Kanjuruhan.
Mereka bersama dengan ketiga keponakan, menantu, dan cucunya sedang menonton pertandingan Arema Malang vs Persebaya Surabaya.
Baca Juga: Lirik Lagu Terluka Menginginkanmu dari Mark Natama, Viral di Media Sosial TikTok
Seperti dikutip Bantenraya.com dari berbagai sumber, Saat kejadian berlangsung, Ahmad Wahyudi mengajak istri dan keluarga lain untuk keluar stadion.
Dengan alasan tidak baik untuk anak-anak dan ingin mencari makan saja keluar.
Sebab, situasi pada stadion Kanjuruhan sudah tidak membaik dan tak enak lagi untuk ditonton.
Baca Juga: Link Kesehatan Mental Docs Google From, Ayo Cek Kondisimu Sekarang
“Ayo bu, kita keluar saja,” kata Wahyudi.
“Kenapa pak?” jawab Sulastri.
Lalu Wahyudi menjelaskan kepada sang istri, melihat kondisi dan situasi yang sudah tidak membaik mengajak keluar.
“Enggak baik anak kecil lihat kayak begini. Kita keluar saja cari makan, daripada cucu lihat begini,” jelas Wahyudi.
Langsung saja sang istri mengikuti perintah Wahyudi, dan mengajak keluarga lainnya untuk keluar menuju pintu tribun nomor dua belas.
Wahyudi perintahkan istri dan keluarga lainnya untuk saling berpegangan.
“Bu, pegangan besi biar enggak jatuh,“ ungkapnya.
Baca Juga: 25 Kata-kata Bijak dari Preman Pensiun yang Berkelas Cocok Dijadikan Status WhatsApp
Tak lama kemudian sang istri Sulastri, melihat benda berasap melayang di atas kepalanya dan saat itu matanya terasa perih hingga tak dapat melihat.
Dan ternyata benda tersebut gas air mata yang ditembakan Polisi dari pinggir lapangan.
Saat Sulastri tak dapat melihat lagi akibat gas air mata, pandangan terakhir melihat dan berpegangan tangan Wahyudi.
“Pegangan semua, pegangan,” perintah Wahyudi.
Dari sekitar tangga tribun nomor 12, saat itu Wahyudi berada posisi paling depan, tak lama kemudian Aremania berdatangan sambil berteriak ketakutan pada Polisi yang menembaki mereka dengan gas air mata.
Dengan semakin banyaknya Aremania yang berdatangan berlari ke arah pintu 12, kini Wahyudi kesulitan dan bersesak-desakan dengan Aremania lainnya.
Baca Juga: Spoiler Preman Pensiun 6 Episode 33, 4 Oktober 2022: Kang Mus Minta Cecep Tak Usah Ikut Campur Lagi
Wahyudi mencari cara untuk menyelamatkan keluarganya dan bisa keluar dari tribun tersebut. Sementara dorongan semakin kuat, kini ratusan orang berdatangan mencari jalan keluar.
Akibat dari dorongan yang semakin kuat, pegangan tangan antar keluarga terlepaskan. Sulastri terombang-ambil ditengah kerumunan.
Dada Sulastri semakin sesak, kedua matanya tak bisa melihat karena perih. Dalam hati, ia hanya pasrah bila harus mati di pintu 12. Setelahnya, dia tak sadarkan diri.
Baca Juga: Apakah Kamu Gagal Move on? Cari Tahu Jawabannya Disini, Link Tes Ujian GAMON
Ketika siuman, Sulastri justru harus menerima kabar buruk: suaminya tewas. Sementara cucu, menantu, dan ketiga keponakannya berhasil keluar selamat dari stadion.
“Bapak meninggal demi menyelamatkan kami dan cucunya,“ kata Sulastri.***
















