BANTENRAYA.COM – Banyak cerita dalam perayaan Hari Raya Idul Adha termasuk sejarah atau cerita upaya pembunuhan presiden soekarno saat salat Idul Adha pada Minggu, 13 Mei 1962.
Pasca kemerdekaan 17 Agustus 1945, Indonesia memang terus dirongrong penjajah termasuk rongrongan sparatis atau pemberontak lokal.
Bahkan, nyawa Presiden Sokerano sebagai sang proklamator kemerdekaan Indonesia juga terus terancam termasuk saat salat sekali pun.
DIlansir dari thread Twitter @ShenoWirang, inilah cerita Upaya Pembunuhan Presiden Soekarno Saat Salat Idul Adha.
Baca Juga: Chico, Pebulutangkis Berdarah Papua Cetak Sejarah dengan Menjuarai Malaysia Masters 20200
Diceritakan, aksi percobaan pembunuhan Soekarno
Terjadi pada Minggu pagi 13 Mei 1962. Kala itu Mangil Martowidjojo, Komandan Detasemen Kawal Pribadi (DKP) Presiden Soekarno kedatangan Komandan Pengawal Istana Presiden, Kapten CPM Dachlan.
Kapten CPM Dachlan menyampaikan ada upaya pembunuhan dari kelompok Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) terhadap Presiden Soekarno di Hari Raya Idul Adha.
Pasalnya pada 14 Mei 1962 Soekarno akan melaksanakan salat ied di halaman Istana dengan beberapa tokoh agama.
Disebutkan Mangil mendapat informasi dari Kepala Rumah Tangga Istana, Soehardjo Hardjowardojo, siapa saja yang ada di barisan pertama hingga keempat.
Baris pertama diisi oleh Soekarno dan personel Angkatan Darat, baris kedua hingga keempat diisi personel militer dan Polisi.
Baca Juga: Daging Kurban Bisa Dibuat Rendang, Catat Cara Membuat Rendang Enak
Sementara anak buah Mangil tersebar berseling-seling di belakang Soekarno. Mangil dan Sudiyo menempatkan diri didepan Soekarno menghadap orang-orang yang salat demi keamanan.
Bayangan Soekarno bergeser-geser pada rakaat kedua yang awalnya tenang berubah jadi kacau.
Saat rukuk, terdengar teriakan takbir disusul suara tembakan. Sanusi menembakan pistol ke arah Presiden Soekarno.
Beruntung peluru tersebut gagal meluncur ke arah Soekarno. Kendati demikian sejumlah jamaah salat Idul Adha mengalami luka akibat tertembak bahu dan punggung.
Penembakan yang dilakukan dari jarak sekitar 7 meter (penembak berada di saf ketujuh), meleset.
Hal ini terlihat mustahil lantaran Sanusi merupakan Penembak Jitu alias Sniper andalan DI/TII.
Baca Juga: Resep Bumbu Sate Kambing yang Lezat, Empuk dan Nikmat, Hidangan Spesial di Hari Raya Idul Adha
Namun berdasarkan pengakuan Sanusi pandangannya mendadak kabur saat akan menembak.
Yang dilihatnya adalah bayang-bayang sosok Soekarno yang bergeser-geser, dari posisi satu ke posisi lain. Karena itulah tembakannya jadi meleset.
“jalan kematian memang bukan kuasa manusia”.
Dalam thread ini, pengguna twitter @ShenoWirang menukil sejarah dari Autobiografi Mangil Martowidjojo berjudul
“Kesaksian tentang Bung Karno 1945-1967.” ***


















