BANTENRAYA.COM – Kurban menjadi sunah dan ajuran Rasulullah saw.
Kurban sendiri diambil dari kisah Nabi Ibrahim as yang diperintahkan untuk menyembelih anaknya Ismail as dan digantikan dengan kambing.
Pada akhirnya secara syariat maka berkurban menjadi anjuran dari ajaran Ibrahim.
Namun, pada perjalannya kurban tersebut berubah menjadi bid’ah dan kemusyrikan oleh para keturunan Ibrahim, terutama sebelum turunnya Nabi Muhammad saw.
Hingga pda akhirnya Nabi Muhammad mengubah soal kemurniannya bukn kurban yang sudah jadi tradisi.
Baca Juga: Kejar Pajak MBLB di Jalur Laut, Bapenda Kabupaten Serang Gandeng KSOP
Dikutip BantenRaya.Com dari Youtube Kumparan Dakwah pada Kamis 16 Juni 2022, Kiai Ahmad Bahaudin atau dikenal Gus Baha menyatakan, jika tradisi kurban sudah dilakukan sejak adanya perintah Allah kepada Ibrahim. Namun seiring waktu kurban sendiri menjadi tradisi dan kultur yang sudah melenceng dari tauhid dan musyrik oleh keturunan Ibrahim yang ada di Makkah.
“Dulu tokoh Quraisy penjaga Ka’bah sering berkumpul untuk makan makan dan masyarakat diminta untuk melakukan Kurban. dulu sudah tidak tauhid atau syirik dimana-mana,” katanya.
“Sehingga yang menyortir Abu Jahal dan kawan-kawan , hewan yang dikurbankan itu harus spesial, tidak dikawinkan, bagus spesial, tidak dikendarai , tidak pernah untuk membajak sawah. Tapi saat itu berkurban atas nama Ka’bah,” jelasnya.
Begitu Rasulullah datang, papar Gus Baha, tidak mengubah tradisi kurban dan makan-makan, hanya saja kemusyrikan yang dirubah. Jadi tidak lagi atas nama berhala.
“Karena mereka tidak jujur maka islam mengubah itu. Tapi jika diubah secara ekstrim maka Islam akan dianggap pelit, maka oleh islam diganti dengan kalimat Kurban,” jelasnya.
Baca Juga: Link Nonton Virgin Mom Episode 7, Amanda Rawles Minta Al Ghazali Berjanji Untuk Selalu Dekat Dengannya
“Sampai pada Rasulullah turun dan membenahi itu tapi menghilangkan kemusrikannya, bukan makan-makannya,” tegasnya.
Kenapa ada kurban, lanjut Gus Baha, banyak literatur dijelaskan, jika saat itu Nabi Ibrahim as mengklaim orang paling sayang dan dekat dengan Allah. Bahkan, sayangnya tersebut bukan hanya terucap dan dilakukan dengan perbuatan, tapi sampai detak jantung juga cinta kepada Allah.
Lalu, imbuh Gus Baha, sampai pada titik Ibrahim memiliki anak Nabi Ismail as, Allah menguji kecintaan tersebut, sehingga diperintahkan untuk menyembelih anaknya.
“Ibrahim saat itu sedang sayang-sayangnya dengan Ismail. Maka turun perintah Allah menguji komitmen rasa sayang Ibrahim kepada Allah,” katanya.
“Pada akhirnya Ibrahim pada awalnya keberatan namun tetap dilakukan karena kecintaan dirinya kepada Allah,” ujarnya.
Baca Juga: Tahun Ini Momentum Emas bagi Indonesia Untuk Beri Warisan Internasional Karena Presidensi G20
Dalam versi lain, kata Gus Baha, Nabi Ibrahim pernah diberangkatkan Miraj oleh Allah, dan dalam perjalanannya Allah memperlihatkan hambanya yang bermaksiat.
Saat ditanya Allah bagaimana pendapatnya, maka Ibrahim meminta Allah untuk memusnahkannya.
“Sampai pada saat ada di dunia, Allah meminta Ibrahim untuk menyembelih anaknya. Lalu Ibrahim bertanya kenapa saya harus menyembelih buah hatinya,” ujarnya.
“Allah lantas menjawab, Saya yangs udah menciptakan manusia yang saya musnahkan tadi atas permintaan mu Ibrahim. Tapi kenapa saya meminta kau untuk menyembelih anakmu yang juga ciptaan saya kau menolak,” ucap Gus Baha menyampaikan dialog Allah dan Ibrahim. ***


















