Minggu, 22 Februari 2026
Banten Raya
  • Daerah
  • NasionalNew
  • Pendidikan
  • Opini
  • Ekonomi & Bisnis
  • Teknologi
  • Hukum & Kriminal
No Result
View All Result
Banten Raya
  • Daerah
  • NasionalNew
  • Pendidikan
  • Opini
  • Ekonomi & Bisnis
  • Teknologi
  • Hukum & Kriminal
Minggu, 22 Februari 2026
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Banten Raya
  • Daerah
  • Nasional
  • Pendidikan
  • Opini
  • Ekonomi & Bisnis
  • Teknologi
  • Hukum & Kriminal

Antara Islah atau Fasad, Kapal Pancasila Arungi Samudera Zaman

Hamdi Ibrahim Oleh: Hamdi Ibrahim
2 Juni 2022 | 12:49
Antara Islah atau Fasad, Kapal Pancasila Arungi Samudera Zaman

Hamdi Ibrahim. Dok pribadi

Bagikan Ke WhatsAppBagikan Ke FacebookBagikan Ke TwitterBagikan Ke Telegram

Oleh: Hamdi Ibrahim

Menarik apa yang dijelaskan Murthada Muthahhari mengenai islah, reformasi atau perbaikan.

Dalam bukunya “Gerakan Islam Abad XX”, Filsuf Islam dari Iran Murthada Mutahhari mengatakan bahwa islah, reformasi atau perbaikan adalah ruh Islam yang sesungguhnya.

Kemudian, Murthada menegaskan bahwa seorang muslim sudah semestinya sebagai seorang reformator, muslih atau orang yang membuat perbaikan.

“Sekurang-kurangnya seorang penyokong perbaikan,” jelas Murthada Muthahhari.

Pandangan Murthada ini berlandaskan apa yang ia pahami dari al-Quran di mana disebutkan bahwa islah, reformasi atau perbaikan merupakan salah satu atribut kenabian.

“Perbaikan atau islah menduduki kepentingan yang sama dalam ajaran-ajaran sosial Islam sebagaimana kata-kata halal dan haram,” ungkap Murthada.

Penjelasan islah dari filsuf Islam kontemporer ini membawa pikiran saya pada Pancasila yang belakangan selalu dimonopoli oleh satu golongan atau kelompok bahkan menjadi perbincangan hangat dari masa ke masa.

Apabila kita menyadari dengan waras dan berpengetahuan, maka kita akan mengetahui bahwa Pancasila merupakan salah satu bentuk islah terbaik yang pernah disusun, ditetapkan dan disepakati bersama oleh para Founding Fathers negeri ini.

Tetapi melemparkan wacana ini di tengah kegersangan jati diri dan kealpaan terhadap sejarah, tidak akan bisa diterima begitu saja oleh mereka yang terlalu sempit berpikir dan selalu membawa politik identitas.

Sebagian orang akan bertanya, “Bukankah sejak lahirnya Pancasila di zaman Bung Karno hingga zamannya Jokowi, Pancasila selalu dipersoalkan, dipertentangkan, diaku-akui, bahkan dijadikan alat penindasan, serta telah membuat fasad atau kekacauan di negeri ini?”

Maka, saya hanya bisa menjawab, “Ya, jelas, tentu, itulah persoalan yang kita hadapi hari ini”.

Namun apabila disadari secara benar dan menggunakan ilmu, Pancasila yang didengungkan oleh Sukarno pada 1 Juni 1945 di hadapan massa sidang BPUPKI, adalah sebagai cara mengislahkan atau menyatukan berbagai paham pendapat.

“Kita bersama-sama mencari persatuan ‘philosophische grondslag’, mencari satu ‘weltanschauung’ yang kita semuanya setuju. Saya katakan lagi setuju! Yang saudara Yamin setujui, yang Ki Bagoes setujui, yang Ki Hadjar setujui, yang saudara Sanoesi setujui, yang saudara Abikoesno setujui, yang saudara Lim Koen Hian setujui, pendeknya kita semua mencari satu modus,” tegas Sukarno.

Sukarno yang memiliki keilmuan yang mempuni dari segi sejarah, politik, budaya, dan sosial, menyimpulkan bahwa yang bisa menyatukan multi-ras, multi-etnis, multi-budaya, multi-suku, multi-bahasa, dan multi-bangsa ke dalam satu negara bernama Indonesia yakni Pancasila.

Sukarno beranggapan bahwa konsepsi Pancasila yang ia utarakan bisa menjadi sebuah islah atau perbaikan bagi negara Indonesia Merdeka.

Setelah pidato yang berapi-api tersebut, tidak ada massa sidang yang menolak bahkan membantah apa yang dibacakan Sukarno.

Tiga minggu setelah sidang BPUPKI berakhir, Bung Karno memanggil 8 orang ke rumahnya untuk membahas idenya mengenai Pancasila.

Hampir semuanya menerima apa yang disampaikan Sukarno, cuma ada satu hal yang mengganjal dari para pemimpin Islam terkait Ketuhanan yang diletakkan di urutan kelima.

Sehingga terjadilah koreksian dan diskusi untuk memajukan dan memindahkan Ketuhanan di urutan pertama.

Dengan legowo, Sukarno yang mencetuskan ide pertama mengenai Pancasila menerima keputusan tersebut.

Terhindarlah Sukarno dari anggapan bahwa pemilik dan yang berhak menafsirkan Pancasila hanya dirinya.

Adanya koreksian dari yang lain, baik dari segi urutuan maupun kalimat membuat Pancasila bukan milik satu orang, tetapi milik rakyat Indonesia.

Sutan Takdir Alisyahbana mengatakan bahwa Pancasila adalah kumpulan paham-paham yang berbeda dan tujuan untuk menentramkan perbedaan paham tersebut.

“Pancasila hanyalah kumpulan paham-paham yang berbeda-beda untuk menentramkan golongan pada rapat-rapat,” tulis Sutan Takdir Alisyahbana.

Bagi saya pribadi, Pancasila merupakan islah yang terbaik yang final yang sudah disepakati oleh para Founding Fathers.

Bahkan, dalam teks Pancasila yang sering dibacakan saat upacara tidak ada metafor-metafor yang berlebihan, malah terlihat datar, dingin dan baku.

Datar, dingin dan baku inilah yang sering disalahartikan bagi yang tidak mempunyai pemahaman sejarah dengan baik.

Ya, kesalahan memahami teks yang begitu datar, dingin dan baku ini membuat sebagian orang selalu mempersoalkan, mempertentangkan hingga menjadi alat untuk menindas salah satu kelompok yang dianggap bertentangan dengan Pancasila.

Benar apa yang dikatakan Buya Hamka, Pancasila tidak akan dipertentangkan apabila bangsa Indonesia menghayati sungguh-sungguh sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, maka tidak akan terjadi kekacauan atau fasad di negeri ini.

“Tiap-tiap orang yang beragama atau tiap-tiap orang yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, Pancasila bukanlah sesuatu yang perlu dibicarakan lagi, karena Sila yang empat daripada Pancasila sebenarnya hanyalah akibat saja daripada Sila yang pertama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa,” tutur Buya Hamka dalam buku Urat Tungga Pancasila.

Sementara itu Bung Hatta dalam bukunya Lampau dan Datang menegaskan bahwa Ketuhanan Yang Maha Esa yang mulanya jadi dasar penutup, sekarang terletak di atas sebagai sila pertama mempunyai makna yang penting.

“Dengan meletakkan dasar moral di atas, negara dan pemerintahannya memperoleh dasar yang lebih kokoh, yang memerintahkan kebenaran, keadilan, kebaikan dan kejujuran serta persaudaraan ke luar dan ke dalam,” ucap Bung Hatta.

Bung Hatta juga menyatakan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa memimpin cita-cita kenegaraan.

“Dasar Ketuhanan Yang Maha Esa jadi dasar yang memimpin cita-cita kenegaraan kita untuk menyelenggarakan segala yang baik bagi rakyat dan masyarakat,” imbuh Bung Hatta.

Meskipun Pancasila sudah final, namun kita tidak bisa mencegah apabila ada yang mempersoalkan, memonopoli, mempertentangkan bahkan menafsirkan seenak udelnya.

Itulah Pancasila, final tapi belum sampai ke garis finis.

Kembali lagi pada pembicaraan islah, reformasi, atau perbaikan yang dijelaskan Murthada Muthahhari, jika melihat persoalaan Pancasila, dulu, kini dan akan datang, maka sebenarnya dan seharusnya nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila sudah termasuk islah atau perbaikan yang diinginkan oleh para Founding Fathers negeri ini.

Penekanan bagi umat Islam di Indonesia yang dikatakan Murthada adalah penganjur perbaikan atau sekurang-kurangnya seorang penyokong kebaikan, membuat Pancasila bukan menjadi barang persoalan atau pertentangan, apalagi membuat perbandingan hukum Islam dengan Pancasila.

Sebab, hal ini kurang beradab kepada para pemimpin Islam yang terlibat dalam penyusunan dan perjuangan demi Indonesia Merdeka.

Para pemimpin Islam di zaman revolusi Indonesia telah melihat dan berharap Pancasila bisa menjadi sarana islah untuk menyatukan berbagai bangsa, bahasa, suku dan ras dalam satu negara bernama Indonesia.

Hanya dengan penghayatan dan pengamalan secara baik dan benar mengenai Pancasila, Islah atau resolusi konflik bisa terwujud.

BACAJUGA:

Android

Perkembangan Versi Android dan Keamanan Smartphone

20 Februari 2026 | 14:08
komputer

Pentingnya Belajar Komputer Sejak Dini untuk Menyiapkan Generasi Unggul di Era Digital

18 Februari 2026 | 13:29
wemos

Mikrokontroler Wemos dan Sensor Suhu DHT22 Sebagai Alat untuk Mengontrol dan Memonitoring Suhu Ruangan Berbasis Internet of Things

10 Februari 2026 | 06:30
sistem tertanam

Software dan Hardware pada Sistem Tertanam

10 Februari 2026 | 06:00

“Kesinilah kita semua harus menuju: mendirikan satu Nasionale Staat, di atas kesatuan bumi Indonesia dari ujung Sumatera sampai ke Irian,” tandas Bung Karno.

Penulis adalah Jurnalis Banten Raya dan Pengasuh Perpustakaan Pojok Rumi

Editor: Administrator
Tags: Sukarno
Previous Post

6 Deretan Drama Korea Wajib Ditonton Yang Tayang Juni 2022 Lengkap Dengan Situs Streamingnya

Next Post

Bocoran Kunci Jawaban Tebak Kata Shopee, Menangkan Handphone dan Hadiah Menarik Lain

Related Posts

Android
Opini

Perkembangan Versi Android dan Keamanan Smartphone

20 Februari 2026 | 14:08
komputer
Opini

Pentingnya Belajar Komputer Sejak Dini untuk Menyiapkan Generasi Unggul di Era Digital

18 Februari 2026 | 13:29
wemos
Opini

Mikrokontroler Wemos dan Sensor Suhu DHT22 Sebagai Alat untuk Mengontrol dan Memonitoring Suhu Ruangan Berbasis Internet of Things

10 Februari 2026 | 06:30
sistem tertanam
Opini

Software dan Hardware pada Sistem Tertanam

10 Februari 2026 | 06:00
konservasi pohon langka
Opini

FPLI Gandeng Lintas Generasi untuk Ikut Aksi Nyata Konservasi Pohon Langka di Gunung Tilu Kuningan Jawa Barat

2 Februari 2026 | 17:32
penyiaran
Opini

Menagih Kembali Revisi UU Penyiaran

27 Januari 2026 | 12:10
Load More

Popular

  • Walikota Serang Budi Rustandi didampingi Wakil Walikota Serang Nur Agis Aulia memberikan penghargaan kepada OPD yang telah mendukung 13 program Budi-Agis di 1 tahun kinerjanya pada peresmian Kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Jumat 20 Februari 2026. (Harir Baldan/Bantenraya.com)

    Budi dan Agis Pamerkan Capaian Pembangunan Kota Serang Selama 1 Tahun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Spesifikasi Samsung Galaxy A57, Bakal Hadir Setelah Lebaran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Arti Kalimat ‘Nyawit Nih Orang’ yang Banyak Digunakan di Media Sosial

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kadin Cilegon Sebut Karateker Menurut Versi Agus Wisas Tak Berdasar, Organisasi Berjalan Normal Dibawah PJ Ketua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gandeng Koperasi Merah Putih, Pemkot Serang Dorong Pertumbuhan Ekonomi dan Penyerapan Tenaga Kerja

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Dewa United vs Borneo FC, Tantangan Banten Warrior Hadapi Pesut Etam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jamu Borneo, Dewa United Incar Revans di Banten Internasional Stadium 

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pengamat Ingatkan Budi-Agis Agar Tak Terjebak Gimmick Policy

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Polres Cilegon Beri Bocoran 4 Titik Operasi Lalu Lintas, Ramadan Jangan Coba-coba Langgar Aturan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 65 Lapak Pedagang Pasar Labuan Pandeglang Terbakar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Petugas Dapur SPPG Yayasan Sukaratu 6, Kecamatan Majasari, Kabupaten Pandeglang, memperlihatkan selembar surat cinta dari siswa yang terselip dalam ompreng MBG, Rabu 11 Februari 2026. (Dokumentasi Bantenraya.com)

Selipkan Pesan di Ompreng MBG, Peserta Didik di Pandeglang Request Menu: Minta Nasi Goreng hingga Ayam

12 Februari 2026 | 05:00
SMAN 1 Cimarga

Pengakuan Siswi SMAN 1 Cimarga yang Ikut Mogok Sekolah, Bukan Dukung Siswa Merokok tapi……

18 Oktober 2025 | 12:16
Kabupaten serang PT PWI

Sempat Produksi Sepatu di Kabupaten Serang, PT PWI 1 Bakal Bangkit Buka Usaha Baru di Cikande

2 Februari 2026 | 17:11
matahari cilegon

Gedung Eks Matahari Lama Cilegon Mulai Dibersihkan, Bakal Jadi Gedung UMKM

8 Januari 2026 | 18:36

Dukung Pemulihan Ekonomi Nasional, Bjb Backup Total Pembiayaan UMKM

Asooooy… Kepala Desa akan Diajak Studi Banding ke Korea dan China

Seluruh Ospek di Kampus Diputuskan Digelar Online, Termasuk di Banten

Mudik Resmi Dilarang, Efektif 24 April

Walikota Cilegon Robinsar saat menyampaikan pandangan bakal fokus benahi BUMD, kemarin. (Uri/Bantenraya.com)

Robinsar Ingin Fokus Kembangkan BUMD Jadi Penghasil PAD, Rekomendasi OJK Jadi Perhatian

22 Februari 2026 | 20:48
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Mentrans Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara meninjau Ponpes MIRA Institute milik Ustad Adi Hidayat di Desa Tapos, Kecamatan Cadasari, Kabupaten Pandeglang, Sabtu 21 Februari 2026. (Dokumentasi Bantenraya.com)

Bertemu Ustaz Adi Hidayat di Pandeglang, AHY Sampaikan Pesan Khusus

22 Februari 2026 | 20:15
Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah menyerahkan bantuan pada kegiatan Ramadan Bahagia di Desa Kabuyutan, Kecamatan Tirtayasa pada Sabtu, 21 Februari 2026. (andika/Bantenraya.com)

Gelar Ramadan Bahagia, Bupati Serang Serahkan Bantuan Puluhan Juta

22 Februari 2026 | 20:00
Walikota Serang Budi Rustandi didampingi Wakil Walikota Serang Nur Agis Aulia dalam acara refleksi satu tahun memimpin Kota Serang di acara peresmian Kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Jumat 20 Februari 2026. (Dokumentasi Prokopim Setda Kota Serang untuk Bantenraya.com)

Satu Tahun Kepemimpinan Budi-Agis, Satu Arah Kemajuan: Ekonomi Mandiri Untuk Kesejahteraan Masyarakat Kota Serang

22 Februari 2026 | 19:45

Tag

2022 Andra Soni ASN banjir Banten BRI Brigadir J BRI Super League Cilegon drakor drama Korea Film Harga Tiket Helldy Agustian Indonesia Jadwal jadwal tayang Kabupaten Lebak kabupaten serang Kota Cilegon Kota Serang Lebak link nonton link twibbon lowongan kerja Pandeglang Pemkot Cilegon pemkot serang Pemprov Banten pilkada Preman Pensiun 6 Preman Pensiun 7 profil provinsi banten Ramadhan Robinsar serang sinopsis spoiler spoiler sub indo Timnas Indonesia Twibbon UMKM viral
Banten Raya

© 2026 Banten Raya - Berkualitas dan Berbeda

Nomor ID Pers : 26666 | Status Pendataan : Terverifikasi Faktual | Sertifikat : 1393/DP-Verifikasi/K/VIII/2025

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Digital Banten Raya
  • Ecommerce Banten Raya
  • Siding Banten Raya
  • Share Banten Raya

Ikuti Kami

  • Daerah
  • Nasional
  • Pendidikan
  • Opini
  • Ekonomi & Bisnis
  • Teknologi
  • Hukum & Kriminal

© 2026 Banten Raya - Berkualitas dan Berbeda