BANTENRAYA.COM – Muhammad Ribkhi Aprilaganta dinobatkan sebagai Juara Pemuda Pelopor Kota Serang 2026 Bidang Sumber Daya Alam, Lingkungan, dan Pariwisata yang digagas Disparpora Kota Serang.
Awalnya sebelum ikut ajang Pemuda Pelopor, ia menginisiasi Banten Take Action, gerakan pemberdayaan masyarakat dan promosi potensi wisata lokal dengan pesan sederhana namun tegas anak muda harus ambil peran.
“Tidak sampai disitu saya juga bergerak dengan Kompas Action, koalisi lintas profesi dan lintas generasi yang berhasil menghimpun lebih dari 60 NGO dan komunitas dalam satu kesepakatan petisi bebas sampah di Banten,” kata Ribkhi kepada Bantenraya.com, Senin 23 Februari 2026.
BACA JUGA: Hasil Polling 1 Tahun Kepemimpinan Andra-Dimyati, 38 Persen Nyatakan Ketidakpuasan
Selanjutnya lewat Serang Night Ride, ia mengemas kampanye transportasi ramah lingkungan dalam format yang inklusif dan membumi, memperjuangkan hak pesepeda serta mendorong budaya mobilitas rendah emisi.
Kemudian ia menggagas Banten Waste Solution dan kini dikembangkan menjadi Noesantara Waste Solution, ia juga belajar mengenai konsep pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir secara sistematis dan berkelanjutan.
“Dan yang kini ditekuni melalui Rangers For Clean, kami menyebarkan kampanye lingkungan berbasis tren edukatif kekinian, melahirkan agen perubahan muda dengan semangat dari Banten untuk Indonesia,” paparnya.
Semua rekam jejak itu diuji dalam tiga tahap seleksi Pemuda Pelopor mulai dari administrasi, interview, hingga fact finding lapangan.
“Pada tahap terakhir, dampak konkret yang telah kita bangun menjadi bukti bahwa kepeloporan bukan sekadar gagasan, melainkan pengaplikasian di lapangan,” jelas Ribkhi.
Sebagai informasi Ribkhi pernah menempuh pendidikan beasiswa di Lampung, namun perjalanannya tidak berlanjut hingga selesai. Fase tersebut menjadi bagian dari proses yang membentuk pola berpikir dan arah barunya.
Saat kembali ke Serang, ia mencoba melanjutkan pendidikan. Namun ia kembali dihadapkan pada situasi ketika aktivitas sosial dan kegiatan pemberdayaan masyarakat yang ia jalankan kerap berbenturan dengan sistem sekolah. Untuk kedua kalinya, ia memilih keluar dari pendidikan formal.
“Drop out bukan akhir. Itu hanya perubahan jalur. Yang menentukan bukan di mana kita belajar, tetapi apa yang kita lakukan setelah mempelajari nya,” kata Ribkhi.***
















