BANTENRAYA.COM – Saung Magot Padke bersama dengan Paguyuban Pemuda Literasi Global (PPLG), merambah kawasan perkampungan Desa Banyuresmi, Kecamatan Jiput, Kabupaten Pandeglang, untuk melakukan pengembangan ekosistem magot.
Direktur Saung Magot Pakde Agus Koswara mengatakan, potensi magot yang paling berdapak positif terhadap lingkungan adalah dapat mengurai sampah hingga puluhan ton dalam sehari.
“Hal ini, memang menjadi sebuah peluang yang positif, bukan hanya melestarikan lingkungan, namun ada segi profit yang bisa dihasilkan dari turunan magot itu sendiri,” kata Agus kepada Bantenraya.com, Selasa 27 Januari 2026.
BACA JUGA: Pemprov Banten Akan Tambah Bus Mudik Gratis 2026, Pendaftaran Dibuka Februari
Bersama dengan para mahasiswa yang tengah melakukan Kuliah Kerja Mandiri (KKM) dari Untirta, Magot Pakde bersama dengan masyarakat setempat mulai melakukan budidaya magot.
“Mulai dari bibit, sampai dengan edukasi kami sampaikan juga, untuk sementara ini yang melakukan pendampingan adalah mahasiswa, kedepan bisa melalui staf desa setempat,” tuturnya.
Komitmen tersebut, diperkuat dengan kesanggupan Agus bersama dengan PPLG dalam kolaborasi lintas sektor guna mengatasi permasalah lingkungan, terutama sampah.
“Berapa banyak sampah yang dihasilkan kami siap untuk mereduksinya, misalnya 10 ton per hari, kami akan sanggupi namun tetap dengan support pemerintah, dan pihak lain,” cakap Agus.
Permintaan Produk Turunan Magot Terus Meningkat
Sementara itu, Ketua PPLG Marsul Alawi menambahkan, permintaan turunan dari produk magot kini mulai banyak diminati, mulai dari pakan, pupuk, hingga pelet yang berkualitas untuk sektor peternakan.
“Dalam waktu dekat, kami juga akan menghadirkan mesin untuk membuat pelet dari magot, sejalan dengan permintaan yang makin tinggi, meski saat ini baru pada takaran 45 kilogram produksi kami karena keterbatasan alat, kalau pakai mesin bisa lebih banyak,” ujar Masrul.
Dari segi perhitungan, magot dinilai punya nilai ekonomis yang tinggi, karena dinilai memiliki kadungan yang positif untuk pakan namun dengan harga yang terjangkau.
“Dan menang sudah dibuktikan untuk harga jauh lebih murah, misalnya kita sudah ada konsumen yang berlangganan untuk pakan burung, harga 1 kilogram magot premium itu Rp25 ribu, jauh lebih murah dibanding kroto Rp250 ribu per kilogram,” tuturnya.
Selain magot hidup, harga pupuk maggot yang diproduksi dibandrol Rp10 ribu per kilogram, maggot kering Rp70 ribu per kilogram, pelet maggot Rp9 ribu dan pupuk basah maggot mulai dari Rp10 ribu per kilogram.***

















